Banner Iklan

Mukjizat Bahasa Ilahi yang Menggetarkan Hati dan Panggilan Dakwah di Tengah Zaman

Anis Hidayatie
16 Maret 2026 | 04.22 WIB Last Updated 2026-03-15T21:22:49Z


 Mukjizat Bahasa Ilahi yang Menggetarkan Hati dan Panggilan Dakwah di Tengah Zaman

_By: Dr. Nur Hasaniyah, S. Ag., M.A_

KOLOM| JATIMSATUNEWS.COM: Hari ke-24 Ramadhan 1447 H telah kita lewati. Saat adzan subuh berkumandang di langit Malang dan sekitarnya yang masih gelap, kita merasakan betapa waktu berlalu begitu cepat. Tinggal sedikit hari lagi menuju malam-malam penuh berkah, termasuk kemungkinan Laylatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Di momen ini, hati terdorong untuk merenung lebih dalam: Al-Qur’an bukan sekadar wahyu, melainkan mukjizat abadi yang diturunkan dalam bahasa Arab yang fasih dan tak tertandingi. Allah sendiri menantang manusia dan jin untuk mendatangkan yang semisalnya, tapi hingga kini tak seorang pun mampu.

Dalil mukjizat ini sangat jelas dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 23-24:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ۝ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

(Maknanya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) —dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya)— peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.)

Tantangan ini juga ditegaskan dalam surah Yunus ayat 38:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

(Artinya: Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka datangkanlah sebuah surah seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”)

Begitu pula surah Hud ayat 13:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

(Maknanya: Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.”)

Dan dalam surah Al-Isra’ ayat 88:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

( Maknanya: Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”)

Ayat-ayat ini menunjukkan i’jaz Al-Qur’an dari segi balaghahnya: susunan kalimat (nazhm), pilihan kata yang tepat, kefasihan, dan kekuatan pengaruh yang membuat pendengar Arab jahiliyah—yang terkenal sebagai ahli fasahah—langsung terpana dan tak mampu menjawab tantangan. Ulama seperti Abdul Qahir al-Jurjani menegaskan bahwa mukjizat Al-Qur’an terletak pada balaghah dan nazhm-nya, yang melemahkan upaya manusia untuk menandinginya. 

Bahkan para pembesar Quraisy seperti Abu al-Walid bin al-Mughirah tercengang saat mendengar ayat-ayatnya, meski akhirnya mereka menolak karena hati yang keras.

Di hari ke-24 ini, saat kita tadabbur ayat-ayat seperti surah Al-Qadr ayat 1:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

(Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.)

atau surah Al-Ikhlas di tarawih dan tahajud, rasakanlah bagaimana setiap huruf dan iramanya bergetar di dada. 

Kata “qadr” bukan sekadar takdir, tapi juga kemuliaan dan penentuan ilahi. Satu ayat mampu membuka lapisan makna yang mendalam, membuat hati tenang dan jiwa terangkat. Itu bukti nyata mukjizat bahasa ilahi yang abadi.

Namun, keajaiban ini tak boleh berhenti di tadabbur pribadi. Di tengah masyarakat yang sibuk dengan dunia maya, dakwah harus menghidupkan mukjizat ini. Banyak generasi muda hafal ayat pendek, tapi belum merasakan kekuatannya. Kita bisa mulai dari hal sederhana: seorang ibu mengajarkan anaknya surah Al-‘Alaq ayat 1-5 sambil menjelaskan perintah “iqra’” sebagai ajakan terus belajar dan mengamalkan ilmu dari Allah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(Maknanya


 : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.)

Atau seorang pemuda di masjid menceritakan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan Laylatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan—satu malam ibadah mampu menerangi tahun yang penuh kegelapan.

Di era digital, dakwah melalui mukjizat bahasa ini sangat ampuh. Cukup satu pesan singkat: “Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah:23-24, tantangan buat satu surah semisalnya. Sampai hari ini, tak ada yang mampu. Itu bukti Al-Qur’an dari Allah.” Dalam hitungan menit, hati orang bisa tergerak untuk bangun malam ini. Itulah kekuatan balaghah yang kita sebarkan.

Waktu Ramadhan tinggal segelintir. Malam ke-25, 27, atau 29 mungkin Laylatul Qadar. Jangan sia-siakan. Mari tadabbur lebih dalam, pahami mukjizat balaghahnya melalui ayat-ayat tantangan itu, lalu sebarkan ke keluarga, tetangga, dan komunitas. Bacakan dengan tartil kepada anak-anak, adakan kajian kecil tentang “Mukjizat Bahasa Al-Qur’an di Bulan Ramadhan”, atau bagikan satu ayat dengan penjelasan singkat setiap malam.

Kita adalah pembawa obor mukjizat ini. Bahasa Al-Qur’an adalah cahayanya. Dakwah adalah cara menyalakannya ke setiap sudut. Di hari ke-24 ini, mari janji: malam ini tadabbur lebih dalam, besok sampaikan lebih indah. Karena Ramadhan bukan hanya menahan lapar, tapi menghidupkan kalam Allah dalam setiap denyut kehidupan.

Semoga sisa hari ini dan malam-malam terakhir menjadi saksi kita bukan hanya membaca, tapi memahami, mengamalkan, dan menyebarkan mukjizat ilahi itu. 

Amin.


تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال 🤲🏻

#رمضان كريم ومبارك

#رمضان زاد االروح


_Dosen BSA UIN MALIKI Malang_


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mukjizat Bahasa Ilahi yang Menggetarkan Hati dan Panggilan Dakwah di Tengah Zaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now