Ning Lia soal LPDP, pentingnya kedepankan kembali ke Indonesia
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Perbincangan mengenai alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan potensial bekerja di luar negeri kembali menjadi menyeruak. Anggota DPD RI, dr Lia Istifhama, secara konsisten menyuarakan pentingnya orientasi pengabdian di dalam negeri dalam dua forum webinar bertema pendidikan dan kepemudaan.
Tentang LPDP ini bagi Ning Lia adalah impian mahasiswa namun semangat mewariskan ilmu tetap harus dikedepankan.
"Beasiswa LPDP adalah impian mahasiswa. Sangat wajar jika impian menimba ilmu dari pendidikan Luar Negeri, dengan harapan membentu karakter struggle, adaptif sebagai minority di tengah majority dan inventif, ucap Ning Lia.
"Namun setelah lulus, seharusnya fokus di dalam negeri dengan tujuan mewariskan ilmu dan semangat kepada generasi di bawahnya," imbuhnya.
Dalam forum yang menghadirkan pemangku kepentingan pendidikan, pengelola beasiswa, hingga generasi muda, ia menegaskan bahwa beasiswa LPDP merupakan investasi negara yang harus kembali dalam bentuk kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Pada kegiatan Webinar Series LPDP bertajuk penguatan fondasi pendidikan bagi generasi emas Indonesia, dr. Lia menyoroti bahwa kesempatan menempuh studi di luar negeri merupakan proses strategis untuk membentuk kemandirian, kedewasaan, dan kemampuan adaptasi mahasiswa Indonesia di lingkungan global.
Menurutnya, pengalaman menjadi minoritas di tengah masyarakat internasional justru menjadi ruang pembelajaran sosial yang tidak ternilai. Dari situlah lahir daya tahan, cara pandang terbuka, serta kemampuan membaca dinamika dunia.
Namun ia mengingatkan bahwa tujuan utama dari proses tersebut bukanlah untuk menetap di luar negeri, melainkan kembali ke tanah air dengan membawa ilmu, jejaring, dan pengalaman.
“Ketika impian meraih beasiswa tercapai, maka pulanglah. Dana yang digunakan berasal dari publik, sehingga manfaatnya harus dirasakan oleh masyarakat Indonesia,”tutur polisi perempuan yang akrab disapa Ning Lia, pada Selasa (24/02).
Pesan serupa kembali ia sampaikan dalam Webinar Pemuda dan LPDP yang mempertemukan unsur legislatif, pengelola program, akademisi, dan aktivis kepemudaan. Dalam forum ini, Lia secara khusus menyoroti pentingnya penggunaan diksi dalam kebijakan agar tidak membentuk persepsi keliru di kalangan generasi muda.
Ia menilai narasi yang memberi ruang bagi alumni untuk bekerja di luar negeri berpotensi menggeser orientasi pengabdian. Padahal, menurutnya, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia unggul yang telah ditempa melalui pendidikan global.
Dalam forum tersebut juga mengemuka bahwa LPDP adalah mimpi besar banyak anak muda. Karena itu, ia mendorong para alumni untuk kembali dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya, sekaligus membuktikan bahwa kesuksesan dapat diraih dengan berkarya di dalam negeri.
Ning Lia tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya faktor personal yang membuat alumni menetap di luar negeri. Meski demikian, ia berpandangan bahwa hal tersebut tidak perlu menjadi narasi resmi dalam kebijakan.
Baginya, yang lebih penting adalah memperkuat semangat bahwa penerima LPDP merupakan agen perubahan yang disiapkan untuk membangun Indonesia.
“Ilmu yang diperoleh harus kembali menjadi energi kemajuan bangsa. Di situlah makna sesungguhnya dari beasiswa negara,” tuturnya.
Melalui dua forum tersebut, Lia menegaskan bahwa LPDP bukan sekadar program bantuan pendidikan, tetapi strategi besar negara dalam menyiapkan generasi emas. Karena itu, arah kebijakan dan narasi publik harus selaras dengan misi pembangunan nasional.
Ia berharap para penerima beasiswa menjadikan kepulangan ke Indonesia sebagai pilihan sadar untuk mengabdi, bukan sekadar kewajiban administratif. ANS



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?