Banner Iklan

Ramadhan Ketujuh: Puasa yang Manusiawi, Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Anis Hidayatie
25 Februari 2026 | 10.32 WIB Last Updated 2026-02-25T03:32:16Z

Prof. Fauzan Zenrif 

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: 

Ramadhan Ketujuh: Puasa yang Manusiawi

Memasuki Ramadhan ketujuh, saya ingin mengangkat satu istilah yang mungkin jarang kita ucapkan, tetapi sangat penting: puasa yang manusiawi. Karena acap kali, puasa kita terlalu ideal dalam standar, tetapi kurang manusia dalam praktik.

Puasa yang manusiawi bukan berarti puasa yang longgar. Bukan pula puasa yang kompromistis terhadap syariat. Tetapi puasa yang sadar bahwa kita ini manusia, punya batas fisik, punya emosi, punya kelelahan, punya dinamika batin. Allah sendiri ketika mewajibkan puasa tidak menutup ruang kemudahan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuannya jelas, takwa, bukan heroisme, bukan pencitraan spiritual, bukan kompetisi ketahanan lapar. Bahkan dalam lanjutan ayatnya Allah memberi rukhsah:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, maka (boleh mengganti) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Lihatlah, bagaimana Allah swt memberikan kewajiban pada manusia sesuai dengan kebutuhan kemanusiaannya. Hal ini tentu menunjukkan bahwa syariat tidak dibangun untuk menindas manusia. Syariat dibangun dengan mempertimbangkan realitas biologis dan sosial manusia, bukan standar Malaikat.

Saya pernah menyaksikan bentuk puasa seseorang yang justru tidak manusiawi. Seorang ayah tetap memaksa diri bekerja tanpa istirahat dalam kondisi tubuh yang sudah sangat lemah. Bahkan, ia menolak minum obat karena merasa itu dianggap “tidak tawakal”. Ia memarahi anak-anaknya ketika dianggap mengganggu kekhusyukan shalat dan mengajinya. Wajahnya tegang, emosinya pendek cepat tersulut, dan setiap kesalahan kecil di rumah menjadi bahan bakar untuk kemarahan.

Ia bangga karena tidak pernah batal. Ia bangga karena tidak pernah absen tarawih dan khatam membaca al-Qur’an berkali-kali. Tetapi ia lupa rumah menjadi sunyi dan tegang. Anak-anak justru takut pada Ramadhan, bukan merindukannya. Di situ saya bertanya, apakah ini puasa yang melahirkan takwa? Atau puasa yang melahirkan tekanan?

Puasa yang tidak manusiawi biasanya lahir dari ambisi spiritual yang tidak disertai kedewasaan emosional. Kita ingin sempurna dalam melaksanakan ritual, tetapi mengabaikan dampak sosial dan psikologisnya. Kita terkadang keras kepada diri sendiri, dan keras pula kepada orang lain. Padahal Nabi saw memberi satu prinsip yang sangat mendasar:

إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya dirimu memiliki hak atasmu.”

Kalimat ini memang sederhana, tetapi revolusioner. Tubuh punya hak. Psikis punya hak. Keluarga punya hak. Puasa tidak pernah dimaksudkan untuk merusak keseimbangan semua kebutuhan kemanusiaan itu. Puasa yang manusiawi adalah puasa yang melahirkan kelembutan, bukan kekasaran dan kekerasan. Jika setelah seminggu berpuasa kita semakin mudah marah, semakin mudah menghakimi orang lain, semakin keras terhadap pandangan dan kondisi orang lain, mungkin kita perlu segera melakukan introspeksi, jangan-jangan ada yang salah dengan cara kita berpuasa.

Puasa seharusnya membuat kita lebih peka. Lapar membuat kita memahami yang miskin. Haus membuat kita mengerti yang kekurangan. Lelah membuat kita tidak mudah menghakimi kelemahan orang lain. Ramadhan ketujuh ini mengajak kita merefleksikan: apakah puasa kita membuat kita lebih manusia atau justru lebih keras?

Puasa yang manusiawi adalah puasa yang tetap menjaga standar takwa, tetapi tidak kehilangan empati. Ia tegas pada diri, lembut pada orang lain. Ia disiplin dalam ibadah, tetapi tidak kejam terhadap keterbatasan.

Karena pada akhirnya, Allah tidak membutuhkan lapar kita.

 Yang Allah kehendaki adalah hati yang bertumbuh—dan hati hanya tumbuh dalam keseimbangan, bukan dalam tekanan.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ramadhan Ketujuh: Puasa yang Manusiawi, Kolom Ramadan Bersama Prof. Fauzan Zenrif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now