Banner Iklan

Langit Menguji, Barisan Membuktikan, Pagar Nusa Tak Pernah Mundur

Admin JSN
10 Februari 2026 | 17.19 WIB Last Updated 2026-02-10T10:19:01Z


Langit Menguji, Barisan Membuktikan, Pagar Nusa Tak Pernah Mundur

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Langit malam di kawasan Stadion Gajayana, Sabtu (7/2) pukul 20.00 WIB, menurunkan hujan sebagai ujian yang seolah sengaja dikirim untuk mengukur keteguhan. Namun bagi Pagar Nusa Kabupaten Malang, hujan bukanlah alasan untuk surut. Ia justru menjadi saksi bahwa khidmah bukan perkara cuaca, melainkan perkara kesetiaan.

Di tengah guyuran air langit, barisan tetap rapat. Langkah tetap tegap. Nafas perjuangan tetap terjaga. Sebab yang mereka jaga bukan sekadar kegiatan, tetapi kehormatan pengabdian. Bagi Pagar Nusa, khidmah adalah jalan sunyi yang tidak menuntut pujian, namun menuntut keteguhan.

Kegiatan ini digelar sebagai bentuk kesiapan total dalam menyukseskan momentum Satu Abad Nahdlatul Ulama, sebuah peristiwa historis yang tidak hanya menandai perjalanan organisasi, tetapi juga menandai kesinambungan sanad perjuangan para ulama.

Sekretaris PC Pagar Nusa Kabupaten Malang, KH Romli Muar, menegaskan bahwa khidmah kepada NU adalah bentuk ketaatan yang bukan hanya simbolik, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Khidmah itu bukan hanya hadir. Khidmah itu taat. Ketika NU memanggil, maka kader harus menjawab. Hujan ini bukan penghalang, ini ujian kesungguhan,” tegas KH Romli.


Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang, Gus Ipul, juga menekankan bahwa momen satu abad NU bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan sejarah yang harus dijawab dengan disiplin dan tanggung jawab. “NU sudah seratus tahun menjaga umat dan bangsa. Maka sudah sepantasnya kita menjaga NU. Kita hadir bukan karena perintah semata, tetapi karena kesadaran bahwa ini bagian dari kehormatan kita,” ujar Gus Ipul.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, khidmah adalah bentuk ibadah sosial. Ia tidak selalu terlihat megah, namun memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Sebab khidmah adalah tanda seseorang memahami bahwa keberkahan perjuangan lahir dari ketaatan terhadap ulama, organisasi, dan garis komando yang sah.

Di bawah hujan, para kader Pagar Nusa tidak sekadar berkumpul. Mereka sedang membangun satu pesan moral bahwa kesetiaan tidak lahir ketika keadaan mudah, tetapi lahir ketika keadaan menguji.

Hujan yang jatuh di Gajayana malam itu menjadi metafora bahwa perjuangan NU selalu ditempa oleh keadaan, namun tidak pernah runtuh oleh rintangan. Dan Pagar Nusa sebagai pagar, tidak boleh rapuh. Ia harus tetap berdiri, menjaga marwah, menjaga barisan, menjaga kehormatan khidmah.

Momentum satu abad NU adalah momen yang melampaui perayaan. Ia adalah panggilan untuk meneguhkan kembali satu barisan, satu komando, dan satu kesetiaan.

Di tengah derasnya hujan, satu hal menjadi jelas:

Pagar Nusa tidak hadir untuk mundur. Pagar Nusa hadir untuk berkhidmah.


OLEH : Saiful Anam (Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Langit Menguji, Barisan Membuktikan, Pagar Nusa Tak Pernah Mundur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now