Kepala SMAN 1 Turen Luncurkan Buku Fiksi ke-10, “Jejak-Jejak yang Terpatri” diserahkan ke Kacabdin, Pengawas Pi i, Waka Ahmadi dan Waka Damiran
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Semangat literasi di lingkungan sekolah kembali digaungkan. Kepala SMAN 1 Turen, Agus Harianto, resmi melaunching buku karya fiksi terbarunya berjudul Jejak-Jejak yang Terpatri, Sebuah Langkah Meniti Cahaya. Buku ini menjadi karya ke-10 yang ditulisnya sekaligus menjadi inspirasi bagi warga sekolah untuk terus menghidupkan budaya membaca dan menulis.
Peluncuran buku tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Malang, Dwi Anggraini. Ia mengaku kagum dengan produktivitas Agus Harianto yang dalam waktu relatif singkat mampu menghasilkan banyak karya literasi.
Menurutnya, langkah yang dilakukan kepala sekolah tersebut sejalan dengan program Cabang Dinas Pendidikan yang menekankan penguatan literasi di sekolah. Ia menilai gerakan literasi memang harus dimulai dari pimpinan.
“Kalau pemimpinnya sudah terbiasa berliterasi, maka guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik akan ikut terdorong. Harapannya kompetensi literasi yang menjadi indikator dalam rapor pendidikan juga bisa meningkat,” ujarnya.
Dwi Anggraini juga menilai peluncuran buku tersebut sebagai momen penting yang dapat memotivasi para guru lainnya. Ia berharap langkah Agus Harianto mampu menular sehingga semakin banyak pendidik yang produktif menulis.
“Pak Agus ini orangnya hebat dan sangat produktif. Mudah-mudahan apa yang beliau lakukan berdampak positif dan teman-teman guru lainnya mengikuti jejaknya. Dengan begitu SMA Turen bisa semakin produktif dalam berkarya,” tambahnya.
Sementara itu, Agus Harianto mengungkapkan bahwa buku yang ditulisnya bukanlah karya yang lahir secara instan. Cerita dalam buku tersebut berangkat dari perjalanan hidup, pengalaman, serta catatan-catatan yang selama ini ia tulis layaknya buku harian.
Ia mengaku sejak kecil memiliki kebiasaan membaca berbagai buku. Bahkan ketika tidak memiliki uang, ia rela menggunakan apa yang ada hanya untuk membeli buku.
“Bagi saya membaca itu kebutuhan. Dari membaca itulah kemudian muncul dorongan untuk menulis dan mencatat berbagai pengalaman hidup,” tuturnya.
Agus juga mengenang bagaimana guru bahasa Indonesianya dahulu pernah memotivasinya untuk terus menulis. Sejak saat itu, ia mulai membiasakan diri mencatat pengalaman, gagasan, hingga refleksi kehidupan.
Sebagian besar karya yang ia tulis sebelumnya berkaitan dengan pengalaman pembelajaran, sosial, hingga opini. Sementara buku terbaru ini merupakan karya fiksi yang lebih bernuansa dramatik dan reflektif.
Melalui buku Jejak-Jejak yang Terpatri, Agus berharap kisah yang ia tulis tidak hanya menjadi cerita, tetapi juga jejak perjalanan yang bisa menginspirasi pembaca.
Peluncuran buku tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa budaya literasi tidak hanya menjadi slogan di sekolah, tetapi benar-benar diwujudkan melalui karya nyata. Dengan teladan dari pimpinan sekolah, diharapkan gerakan membaca dan menulis di lingkungan pendidikan terus tumbuh dan berkembang




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?