Banner Iklan

Rekomendasi dr. Gamal Rekalkulasi Anggaran MBG: Dari Memberi Makan ke Memberi Gizi

Anis Hidayatie
23 Januari 2026 | 08.55 WIB Last Updated 2026-01-23T01:55:22Z


dr. Gamal Rekalkulasi Anggaran MBG

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Anggota DPR RI Fraksi PKS dapil Malang Raya Malang dr. Gamal, merekomendasikan pergeseran paradigma besar dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026. Ia menekankan bahwa program nasional tersebut tidak cukup hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi harus memastikan pemenuhan gizi yang berdampak nyata bagi kesehatan, pertumbuhan, dan kecerdasan anak bangsa.

Dalam pandangannya, paradigma MBG perlu bergeser dari “Feeding” (memberi makan) menuju “Nourishing” (memberi gizi). Menurut dr. Gamal, anak bisa saja makan tiga kali sehari, namun tetap mengalami stunting atau hidden hunger akibat kekurangan zat gizi mikro yang krusial bagi tumbuh kembang.

“Keberhasilan program tidak bisa lagi diukur dari berapa puluh miliar porsi makanan yang dibagikan atau berapa banyak dapur dan satuan pelayanan yang dibangun. Ukurannya harus bergeser pada hasil akhir,” tegasnya disampaikan pada media JatimSatuNews Jumat 23/1/2025.

Ia menjelaskan, indikator keberhasilan MBG seharusnya meliputi penurunan signifikan angka stunting, peningkatan skor kognitif anak, serta perbaikan status antropometri seperti Indeks Massa Tubuh (BMI) dan Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Lebih lanjut, dr. Gamal menilai bahwa selama ini pendekatan program masih dominan mengukur input, proses, dan output, seperti distribusi makanan dan jumlah penerima manfaat. Ke depan, menurutnya, fokus harus diarahkan pada outcome, yakni sejauh mana nutrisi benar-benar terserap dan berdampak pada kesehatan anak.

“Feeding berhenti pada anak kenyang dan kalori terpenuhi. Nourishing memastikan nutrisi terserap, stunting menurun, IQ meningkat, dan status gizi membaik,” jelasnya.

Untuk menerapkan pergeseran paradigma tersebut secara praktis, dr. Gamal mengusulkan tiga perubahan mendasar. Pertama, transformasi dari food security (ketahanan pangan) menuju nutrition security (ketahanan gizi), yang menekankan kualitas makanan, kecukupan mikronutrien, ketersediaan air bersih, sanitasi, serta pola asuh yang sehat.

Kedua, fokus program harus bergeser dari sekadar kuantitas ke kualitas dan keberagaman pangan. Ia menegaskan bahwa menu MBG tidak boleh hanya didominasi karbohidrat, melainkan harus mencakup protein hewani, sayuran, dan buah-buahan demi mencapai gizi seimbang.

Ketiga, pendekatan program tidak boleh berhenti pada distribusi, tetapi harus memastikan konsumsi dan penyerapan gizi. Menurutnya, makanan yang didistribusikan harus benar-benar dikonsumsi dan dapat diserap tubuh anak tanpa terganggu oleh infeksi atau sanitasi yang buruk.

Sebagai langkah konkret, dr. Gamal merekomendasikan rekalkulasi anggaran MBG sebesar Rp15.000 per porsi, agar kualitas gizi yang disajikan benar-benar memenuhi standar kebutuhan anak. Selain itu, ia mendorong pelibatan ahli gizi independen maupun akademisi lokal untuk melakukan audit berkala terhadap kualitas gizi menu MBG.

“MBG harus menjadi investasi sumber daya manusia jangka panjang, bukan sekadar program bagi-bagi makan,” ucapnya menutup wawancara.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rekomendasi dr. Gamal Rekalkulasi Anggaran MBG: Dari Memberi Makan ke Memberi Gizi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now