Banner Iklan

From Feeding to Nourishing: Dari Memberi Makan ke Memberi Gizi

Anis Hidayatie
23 Januari 2026 | 09.38 WIB Last Updated 2026-01-23T02:58:39Z


Ilustrasi: Contoh MBG diterima Siswa SMP Islam 1 Pujon Jumat 23/1/2026 dan dr. Gamal

From Feeding to Nourishing: Dari Memberi Makan ke Memberi Gizi

Oleh: dr. GAMAL (Anggota DPR RI Fraksi PKS)

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Tahun 2026, saya merekomendasikan pergeseran paradigma BGN: From Feeding to Nourishing (Dari Memberi Makan ke Memberi Gizi).

Tidak hanya memastikan makanan sampai ke meja atau mulut (Feeding), tetapi memastikan makanan tersebut memberikan dampak kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan otak (Nourishing).

Mengapa Pergeseran Paradigma Ini Penting?

Anak bisa makan tiga kali sehari tapi tetap mengalami stunting,

Anak bisa makan tiga kali sehari tapi tetap mengalami "hidden hunger” (kekurangan zat gizi mikro).

Ini akan menekankan bahwa keberhasilan program bukan diukur dari;

Berapa puluh miliar porsi yang dibagikan,

Berapa SPPG yang dibangun,

Berapa puluh juta penerima manfaat,

Melainkan diukur dari;

Seberapa signifikan penurunan angka stunting,

Seberapa signifikan kenaikan skor kognitif anak bangsa,

Seberapa signifikan perbaikan skor antropometeri.


Bagaimana paradigma ini bergeser?

Jika biasanya BGN mengukur tahap input, proses, dan output. Kini BGN harus mengukur outcome.

Tahap Input dan proses (Feeding): makanan dibagikan, anak kenyang, kalori terpenuhi.

Tahap Output: Jumlah anak yang makan.

Tahap Outcome (Nourishing): Nutrisi terserap, stunting turun, IQ meningkat, Angka Kecukupan Gizi (AKG), perbaikan BMI dan Status Antropometri.

Bagaimana menerapkan paradigma ini secara praktis?

1. Bukan lagi food security (ketahanan pangan), tapi nutrition security (ketahanan gizi).

- Food Security (Ketahanan Pangan): Menekankan pada ketersediaan dan akses terhadap makanan secara kuantitas agar tidak lapar.

- Nutrition Security (Ketahanan Gizi): Menekankan pada kualitas makanan (mikronutrien), air bersih, sanitasi, dan pola asuh.


2. Bukan lagi quantity, tapi quality dan diversity

Bukan lagi soal "yang penting kenyang" (karbohidrat dominan), melainkan keberagaman pangan (protein hewani, sayur, buah) untuk mencapai gizi seimbang.


3. Bukan lagi distribution, tapi consumption and absorption

Fokus tidak berhenti saat logistik makanan sampai di lokasi (distribusi), tapi memastikan makanan itu dimakan (konsumsi) dan nutrisinya mampu diserap tubuh (absorpsi) tanpa hambatan infeksi atau sanitasi buruk.

Saya merekomendasikan kita melakukan rekalkulasi anggaran Rp 15.000 per porsi MBG dan melibatkan ahli gizi independen atau akademisi lokal untuk melakukan audit berkala terhadap kualitas gizi yang disajikan. Ans


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • From Feeding to Nourishing: Dari Memberi Makan ke Memberi Gizi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now