PDDI Pasuruan Belajar ke Malang, Donor Darah Desa Ngabab Diserbu Warga, 80 Persen Pendonor Perempuan
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) Kabupaten Pasuruan melakukan kunjungan studi tiru ke PDDI Kabupaten Malang dengan menyaksikan langsung pelaksanaan donor darah di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon. Kegiatan ini menyita perhatian karena tingginya partisipasi masyarakat, di mana sekitar 80 persen pendonor berasal dari kalangan perempuan.
Ketua PDDI Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto ( Kacamata), diapit Muhammad Zaini dan Kades Amin ( baju putih )Ketua PDDI Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, menilai keberhasilan kegiatan donor darah di Kabupaten Malang tidak lepas dari kekuatan para penggerak di lapangan, khususnya di tingkat desa dan kecamatan.
“Secara nasional, PDDI Kabupaten Malang dinilai sukses. Kuncinya ada pada penggerak. Pengurus kabupaten cukup menerapkan prinsip Tut Wuri Handayani, mendorong, mendampingi, dan memastikan program berjalan hingga target tercapai,” ujar Didik.
Ia menjelaskan, pendampingan berkelanjutan menjadi hal penting, termasuk koordinasi intensif dengan Unit Transfusi Darah (UTD), PMI, Dinas Kesehatan, hingga DPRD. Hal ini diperlukan untuk menjamin ketersediaan darah, terutama pada momen-momen krusial seperti bulan puasa dan situasi darurat.
“Donor darah ini dilakukan dengan niat lillahi ta’ala. Namun sebagai pemerintah dan mitra PMI, sudah menjadi kewajiban kita memberi apresiasi dan fasilitas, termasuk pendataan pendonor yang telah mencapai 25, 50, hingga 100 kali donor,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ngabab, Amin Afandi, menyampaikan bahwa kegiatan donor darah di wilayahnya murni berangkat dari semangat kemanusiaan.
“Donor darah itu luar biasa manfaatnya. Ilmunya kami dapat dari bidan desa. Prinsip kami sederhana, kegiatan yang bersifat kemanusiaan harus didukung,” ungkapnya.
Ia juga menyambut hangat kehadiran pengurus PDDI Kabupaten Pasuruan dan Malang, seraya berharap silaturahmi ini membawa manfaat luas bagi masyarakat.
Ketua PDDI Kabupaten Pasuruan mengaku bersyukur bisa hadir langsung bersama seluruh jajaran pengurusnya. Menurutnya, kunjungan ini menjadi momentum penting untuk menyerap ilmu dan strategi dari keberhasilan Desa Ngabab.
“Yang paling utama adalah motor penggerak di desa dan kecamatan. Itu yang harus kita jaga agar donor darah bisa berkelanjutan. Kami ingin membawa pulang bukan hanya jamuan, tapi ilmu, strategi, dan spiritnya,” tegasnya.
Ia juga menilai, meski PDDI Kabupaten Pasuruan baru terbentuk dan belum sepenuhnya ditopang dana hibah, semangat pengurus menjadi modal utama dalam mengembangkan kegiatan donor darah ke depan.
Dari sisi teknis, Bidan Desa Ngabab, Yuliana, memaparkan berbagai strategi yang terbukti efektif meningkatkan jumlah pendonor. Mulai dari sosialisasi melalui masjid, pelayanan ramah, hingga penyediaan petugas khusus untuk membantu warga yang kesulitan menulis.
“Kalau diumumkan lewat masjid, pendonor jauh lebih banyak. Kami juga sediakan door prize dan bingkisan sembako. Dari target 50 orang, bisa tembus 82 pendonor. Saat puasa bahkan bisa 150 hingga 160 orang,” jelasnya.
Ia menambahkan, kehadiran bidan dalam setiap kegiatan donor darah menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan warga, sekaligus memberikan edukasi bahwa pendonor secara tidak langsung juga menjalani skrining penyakit menular.
Kegiatan donor darah di Desa Ngabab pun menjadi contoh praktik baik yang diharapkan dapat direplikasi di Kabupaten Pasuruan dan daerah lain, demi menjaga ketersediaan darah dan memperkuat gerakan kemanusiaan berbasis masyarakat.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?