Banner Iklan

Menakar Arah Bangsa Menuju 2045, PSIB UMM Dorong Refleksi Kritis Indonesia Emas

Admin JSN
15 Januari 2026 | 11.20 WIB Last Updated 2026-01-15T04:21:09Z

 

PSIB UMM Dorong Refleksi Kritis Indonesia Emas

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ketika awal tahun kerap dimaknai sebagai sekadar jeda rutinitas dan perayaan seremonial, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memilih jalur berbeda. Awal 2026 dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk menakar arah masa depan bangsa melalui diskusi bertajuk “Refleksi Awal Tahun: Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”, yang digelar di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026).

Forum ini menjadi ruang refleksi kritis terhadap visi besar Indonesia Emas 2045 yang selama ini kerap digaungkan dalam wacana politik. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menegaskan bahwa pemilihan waktu di awal tahun bukan tanpa alasan. Menurutnya, refleksi sejak dini merupakan langkah proaktif untuk menawarkan inovasi dan koreksi arah pembangunan.

“Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan. Ia adalah visi besar yang harus diuji secara akademik dan ditopang fondasi ilmiah yang kuat. Diskusi ini tidak berhenti pada wacana, tetapi akan kami rumuskan menjadi book chapter yang dapat menjadi rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis,” tegas Prof. Gonda.

Diskusi kian menghangat saat Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan, menyampaikan peringatan keras terkait bonus demografi. Ia menyebut, peluang besar tersebut dapat berubah menjadi ancaman serius jika tidak diiringi pembangunan sumber daya manusia dan sektor kesehatan yang memadai.

“Bonus demografi bukan jaminan otomatis menuju negara maju. Jika pendidikan dan kesehatan diabaikan, justru akan menjadi bencana pembangunan. Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas SDM, bukan sekadar jumlah penduduk usia produktif,” ujarnya.

Kekhawatiran itu diperkuat oleh paparan Abdus Salam, M.Si., pakar sosiologi politik UMM. Ia mengajak peserta melihat sisi gelap pembangunan yang kerap luput dari jargon kemajuan, yakni kemiskinan struktural. Menurutnya, persoalan ini masih nyata dan berlapis, mulai dari sektor agraria hingga wilayah perkotaan.

“Kita menghadapi kemiskinan agraria ketika petani kehilangan akses lahan, serta kemiskinan urban akibat struktur industri yang lemah sehingga masyarakat bergantung pada sektor informal. Ini pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan jika Indonesia benar-benar ingin melangkah menuju kemajuan,” paparnya.

Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang—mulai dari aktivis mahasiswa, akademisi, hingga pegiat literasi—ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal isu-isu strategis kebangsaan. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam merumuskan peta jalan Indonesia menuju masa depan yang adil, berkelanjutan, dan berkemajuan. (ANS)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menakar Arah Bangsa Menuju 2045, PSIB UMM Dorong Refleksi Kritis Indonesia Emas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now