Prof. Maskuri Sebut Harlah Satu Abad NU Siap Digelar, Mujahadah Kubro 8 Februari 2026 Diprediksi Dihadiri Ratusan Ribu Jamaah
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) kian mendekati puncaknya. Ketua Panitia Harlah Satu Abad NU, Prof. Dr. KH. Maskuri, M.Si., menegaskan kesiapan pelaksanaan Mujahadah Kubro yang akan digelar pada 8 Februari 2026 di Stadion Gajayana, Kota Malang.
Hal tersebut disampaikan Prof. Maskuri saat ditemui di Balai Kota Malang, usai melakukan koordinasi lintas wilayah dan lintas instansi demi menyukseskan agenda akbar NU memasuki abad kedua.
“Kami terus melakukan konsolidasi intensif dengan Pemerintah Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, PCNU se-Jawa Timur, hingga koordinasi dengan Kapolda dan Kapolres. Semua sudah menjadi satu komitmen besar untuk menyukseskan Harlah Satu Abad NU,” ujar Prof. Maskuri.
Ia menyebutkan, Mujahadah Kubro diperkirakan akan dihadiri lebih dari 60.000 hingga 100.000 jamaah, bahkan berpotensi melebihi angka tersebut. Jamaah akan datang dari berbagai daerah dengan skema keberangkatan yang beragam, mulai dari rombongan besar hingga kelompok kecil dari cabang-cabang NU.
“Skema pengamanan dan rekayasa lalu lintas serta parkir sudah disiapkan oleh Polda dan Polres. Kami juga membagi wilayah Kota Malang menjadi sembilan zona untuk penginapan jamaah, termasuk masjid-masjid dan lokasi strategis lainnya,” jelasnya.
Prof. Maskuri berharap masyarakat Kota Malang dapat berperan aktif sebagai tuan rumah yang baik. Partisipasi warga, mulai dari penyediaan konsumsi, akomodasi, hingga keramahan sosial, diharapkan menjadi wajah terbaik Kota Malang dalam menyambut tamu NU dari seluruh penjuru Nusantara.
“Harapan kami, masyarakat Kota Malang ikut mengambil bagian dan merasa bangga menjadi tuan rumah peringatan satu abad NU,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prof. Maskuri memaparkan bahwa peringatan Harlah Satu Abad NU tidak hanya bersifat seremonial, melainkan dikemas dalam program-program strategis yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.
Bidang pertama meliputi kick off, sarasehan pesantren dan kebangsaan, historical trip, ziarah muassis dan muharriq NU, serta Mujahadah Kubro.
Melalui historical trip, generasi muda NU diajak menelusuri situs-situs bersejarah NU sekaligus memproduksi konten digital agar sejarah dan peran NU dikenal lebih luas hingga ke tingkat global.
Sementara itu, ziarah muassis dan muharriq NU dilaksanakan secara serentak oleh PCNU se-Jawa Timur pada 24 Januari 2026, dan dilanjutkan ziarah PWNU Jatim ke Jombang pada 25 Januari 2026, menyambangi maqbarah para pendiri NU seperti Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan KH. Bisri Syamsuri.
Bidang kedua berfokus pada kegiatan sosial dan ekonomi, antara lain pameran UMKM, talk show, konser amal untuk Aceh dan Sumatera Utara, pameran karya seni Lesbumi se-Indonesia, pemeriksaan dan pengobatan gratis, serta sarasehan Pesantren Sehat.
Program pengobatan gratis akan digelar serentak di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur pada 31 Januari 2026, melibatkan rumah sakit, klinik, dan poliklinik NU, serta terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun organisasi.
Bidang ketiga diisi dengan lomba-lomba keilmuan santri berbasis daring, seperti qiraatul kutub, lalaran Alfiyah Ibnu Malik, pidato Bahasa Arab dan Inggris, hingga integrasi kajian kitab dengan teknologi AI. Enam finalis terbaik akan tampil langsung di Kampung Coklat Blitar.
Rangkaian kegiatan di Kampung Coklat Blitar akan ditutup dengan Ngaji Bareng Gus Iqdam pada 6 Februari 2026, disertai penggalangan dana kemanusiaan untuk korban bencana di Aceh dan Sumatera Utara.
Puncak peringatan akan berlangsung di Kota Malang melalui Mujahadah Kubro yang rencananya dihadiri Presiden RI, Ketua MPR, Ketua DPR RI, serta jajaran menteri Kabinet Merah Putih.
“Untuk pelaksanaan Mujahadah Kubro, tiga pimpinan daerah—Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang—menjadi panitia pelaksana lokal, dengan Ketua Walikota Malang Wahyu Hidayat,” ungkap Prof. Maskuri.
Menurutnya, seluruh rangkaian Harlah Satu Abad NU merupakan simbol kuat perjalanan NU selama satu abad sekaligus penanda memasuki abad kedua perjuangan.
“NU ingin menunjukkan bahwa pesantren dan ulama memiliki kontribusi besar bagi bangsa dan negara. Sejarah ini harus menjadi ibrah bagi generasi penerus agar NU terus menjadi kekuatan strategis dalam membangun Indonesia yang berdaulat, berkeadaban, dan berkeadilan,” ujarnya



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?