Banner Iklan

Angkat Isu Menstruasi, Riset Mahasiswa UMM Tembus Jurnal Internasional Scopus Q2

Anis Hidayatie
24 Januari 2026 | 14.00 WIB Last Updated 2026-01-24T07:00:20Z


 Angkat Isu Menstruasi, Riset Mahasiswa UMM Tembus Jurnal Internasional Scopus Q2

MALANG  | JATIMSATUNEWS.COM: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q2 melalui penelitian yang mengangkat isu kesehatan perempuan, khususnya strategi coping dalam menghadapi perubahan pramenstruasi.

Capaian ini terbilang istimewa, mengingat publikasi di jurnal bereputasi internasional bukan hal yang mudah, terlebih bagi mahasiswa strata satu. Penelitian Rintan dinilai memiliki kebaruan sekaligus relevansi tinggi karena mengulas topik menstruasi yang kerap dianggap sepele, padahal berdampak signifikan terhadap kondisi fisik dan psikologis perempuan.

Rintan menjelaskan, penelitiannya berfokus pada bagaimana perempuan mengelola perubahan emosi, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme coping. Menurutnya, respons perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal.

“Setiap perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Ada yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan kepada tim Humas UMM, Kamis (22/1/2026).

Ketertarikan Rintan terhadap topik ini berawal dari pengalaman pribadinya yang sering mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Dari pengalaman tersebut, muncul dorongan untuk memahami lebih dalam bagaimana perempuan dapat mengelola kondisi emosional dan fisik secara sehat dan efektif.

“Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk memahami apakah ada cara yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi tersebut,” ungkapnya.

Penelitian berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” ini melibatkan 321 responden perempuan Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui aktivitas positif, seperti berkumpul bersama teman atau berbagi cerita.

“Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelas Rintan.

Selain itu, riset ini juga menegaskan pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi tubuh. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya cenderung lebih siap secara mental dalam menghadapi perubahan pramenstruasi dan mampu menerapkan strategi coping secara lebih cepat, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak waktu istirahat.

Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi coping tersebut. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi fase pramenstruasi. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dan stigma justru dapat memperburuk kondisi emosional.

“Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan untuk tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan berlebihan justru bisa memperparah tekanan emosional,” katanya.

Melalui riset ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman masyarakat terkait kesehatan reproduksi perempuan. Ia menilai perubahan emosi saat pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dipahami dan dikelola, bukan diabaikan.

“Perubahan emosi menjelang menstruasi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegasnya.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial.

Sementara itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa penelitian ini sejak awal memang dirancang agar tidak berhenti sebagai skripsi semata.

“Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” ujarnya.

Menurut Henny, penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Dengan instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola coping perempuan dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran.

Ia berharap capaian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan serta mendorong semakin banyak mahasiswa UMM berani mengangkat isu-isu kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. (Ans)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Angkat Isu Menstruasi, Riset Mahasiswa UMM Tembus Jurnal Internasional Scopus Q2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now