PTKIN dalam Mewujudkan Masyarakat Rukun, Maslahat, dan Cerdas Oleh: Prof Triyo Supriyatno (Wakil Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Di tengah dinamika sosial-keagamaan Indonesia yang semakin kompleks, peran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menjadi semakin strategis. PTKIN bukan sekadar institusi akademik yang mencetak sarjana Islam, melainkan agen transformasi sosial yang mengemban tanggung jawab moral dan intelektual untuk membangun masyarakat yang rukun, maslahat, dan cerdas. Di antara PTKIN yang menunjukkan peran itu secara nyata adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, yang dikenal sebagai pelopor integrasi ilmu, spiritualitas, dan moralitas dalam pendidikan tinggi Islam.
PTKIN Sebagai Pilar Kerukunan Bangsa
Sejak awal berdirinya, PTKIN didirikan bukan untuk mengasingkan agama dari kehidupan masyarakat, melainkan untuk mempertemukan agama dengan realitas sosial modern. Dalam konteks Indonesia yang plural, PTKIN berperan menjaga keseimbangan antara identitas keislaman dan komitmen kebangsaan.
Melalui pendidikan inklusif, lintas kajian mazhab, dan pendekatan moderasi beragama, PTKIN menanamkan sikap tawassuth, tawazun, dan tasamuh di kalangan pelajar.
Mereka dididik tidak hanya menjadi ahli fiqh atau tafsir, tetapi juga menjadi juru damai yang mampu menjelaskan perbedaan sosial, budaya, dan politik.
Kerukunan tidak lahir dari slogan, tetapi dari kesadaran intelektual. Oleh karena itu, PTKIN menanamkan paradigma berpikir ilmiah yang kritis, namun tetap diwajibkan pada nilai-nilai agama. Dengan riset-riset sosial keagamaan, PTKIN berperan aktif mengungkap akar intoleransi, radikalisme, dan disinformasi keagamaan yang sering mengancam keharmonisan bangsa.
Program moderasi beragama yang kini menjadi arus utama di bawah Kementerian Agama sejatinya merupakan perwujudan nyata dari kerja panjang civitas akademika PTKIN di seluruh Indonesia.
Masyarakat Maslahat sebagai Cita-cita Keilmuan Islam
Konsep maslahah dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan hukum, tetapi juga dengan kesejahteraan masyarakat (public good).
PTKIN turut serta menghadirkan ilmu pengetahuan yang membawa kemaslahatan bagi umat, tidak hanya dalam bidang keagamaan tetapi juga sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Ilmu dalam perspektif Islam selalu diarahkan untuk memberi manfaat, sebagaimana sabda Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Kampus-kampus Islam negeri kini tidak lagi berkutat dalam ruang dogmatis, tetapi mulai mengembangkan penelitian terapan: ekonomi syariah yang menyejahterakan rakyat kecil, teknologi ramah lingkungan, serta pengembangan pendidikan berbasis karakter.
Di UIN Malang, paradigma Integrasi Ulul Albab menjadi fondasi pengembangan ini.
Mahasiswa diajak tidak hanya berpikir rasional, tetapi juga spiritual; tidak hanya memahami ilmu, tetapi juga menghidupkannya dalam akhlak dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, maslahah menjadi orientasi keilmuan, bukan sekedar tujuan moral.
Masyarakat Cerdas dan Literasi Keislaman Baru
Masyarakat cerdas tidak diukur dari banyaknya informasi, tetapi dari kemampuan mengolah pengetahuan menjadi kebijaksanaan.
Singkatnya, PTKIN hadir sebagai pusat literasi keislaman baru — yang rasional, moderat, dan berkeadaban.
Melalui program penelitian interdisipliner, digitalisasi manuskrip Islam klasik, hingga penguatan literasi keagamaan di media sosial, PTKIN mendorong generasi muda untuk memahami Islam secara utuh, bukan parsial.
Kecerdasan yang dibangun PTKIN bukan hanya akademik, tetapi juga spiritual dan sosial.
UIN Malang misalnya, menanamkan nilai-nilai tasawuf amali dalam kehidupan kampus.
Asrama mahasiswa menjadi laboratorium akhlak, tempat para mahasiswa belajar shalat berjamaah, dzikir, diskusi kitab klasik, dan membangun solidaritas sosial lintas daerah.
Pendekatan living value education seperti ini melahirkan pribadi berkarakter — insan ulul albab yang mengintegrasikan zikir, pikir, dan amal.
Sumbangsih UIN Malang untuk Dunia Pesantren
Hubungan antara PTKIN dan pesantren sejatinya bersifat organik. Pesantren adalah akar budaya keilmuan Islam Nusantara, sementara PTKIN merupakan cabang modern yang tumbuh dari akar itu.
UIN Malang memberikan contoh sinergi yang produktif melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat pesantren.
Pertama, Program Penguatan Akademik Pesantren yang menjembatani tradisi kitab kuning dengan metodologi ilmiah modern.
Melalui pelatihan penelitian dan penulisan ilmiah bagi santri, UIN Malang membantu pesantren menyesuaikan diri dengan ekosistem akademik global tanpa kehilangan jati diri keislamannya.
Kedua, kolaborasi penelitian dan pengabdian dalam bidang ekonomi pesantren dan pendidikan kewirausahaan.
Santri dibimbing mengembangkan ekonomi berbasis kewirausahaan sosial yang selaras dengan nilai maslahah dan kemandirian.
Ketiga, pembinaan kader ulama dan pendidik Islam melalui program berbasis pesantren, yang menyiapkan generasi alim intelek — menguasai turats klasik tetapi juga fasih dalam isu-isu kontemporer.
Dengan sinergi model seperti ini, UIN Malang tidak hanya menjadi universitas keagamaan, tetapi juga menjadi rumah intelektual bagi pesantren di seluruh Indonesia.
Kerja sama ini memperkuat ekosistem pendidikan Islam yang saling melengkapi antara tradisi dan modernitas.
PTKIN sebagai Jalan Menuju Peradaban Rahmatan lil 'Alamin
Masyarakat rukun, maslahat, dan cerdas bukanlah utopia. Ia dapat diwujudkan ketika perguruan tinggi Islam menempatkan dirinya sebagai pusat pencerahan — bukan menara gading, tetapi mercusuar nilai.
PTKIN memiliki tanggung jawab moral untuk terus menumbuhkan nalar ilmiah yang berakhlak, mempertemukan iman dan ilmu, serta menghubungkan dengan kampus pesantren, masyarakat, dan dunia.
UIN Malang dengan paradigma ulul albab telah menunjukkan bahwa integrasi antara akal, qalbu, dan amal dapat melahirkan generasi Islam yang berperadaban.
Inilah model pendidikan Islam masa depan — pendidikan yang tidak hanya melahirkan orang pintar, tetapi juga orang baik, yang menebar rahmat dan berkah bagi semesta.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?