MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Keberadaan limbah minyak jelantah sisa rumah tangga acapkali dipandang sebelah mata. Banyak masyarakat yang masih terbiasa membuangnya langsung ke saluran air atau nekat menggunakannya berulang kali, yang tanpa disadari membawa dampak buruk bagi kesehatan tubuh dan kelestarian lingkungan sekitar.
Menjawab keresahan tersebut, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) hadir membawa terobosan inovatif. Mereka menggelar program Pelatihan JELITA (Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi) di Dusun Pandanrejo, Desa Bambang, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.
Edukasi Bahaya Minyak Jelantah dan Kesehatan
Program pengabdian masyarakat ini tidak serta-merta fokus pada praktik pembuatan produk. Para mahasiswa KKN mengawalinya dengan sesi edukasi komprehensif mengenai bahaya limbah jelantah.
Warga Dusun Pandanrejo diberikan pemahaman mendalam tentang risiko kesehatan akibat mengonsumsi minyak goreng berulang yang kualitasnya telah menurun drastis. Selain itu, ditekankan pula bahaya pencemaran ekosistem apabila limbah cair tersebut dibuang sembarangan. Sesi ini sukses membuka wawasan warga akan pentingnya pengelolaan limbah secara bijak sebagai langkah awal menjaga kelestarian alam.
Inovasi JELITA: Dari Limbah Tak Berguna Menjadi Berdaya Jual
Praktik pengolahan inovasi JELITA ini dirancang sangat sederhana agar mudah diaplikasikan oleh skala rumah tangga. Berikut adalah tahapan produksi inovasi yang diajarkan kepada warga:
Pengumpulan Bahan: Selama satu pekan sebelum pelatihan, para peserta telah diminta untuk mengumpulkan sisa minyak jelantah dari dapur masing-masing.
Tahap Filtrasi: Minyak jelantah yang terkumpul disaring secara teliti untuk memisahkan sisa-sisa kotoran makanan agar menghasilkan cairan yang lebih jernih.
Proses Produksi: Minyak yang telah bersih kemudian diolah dengan cara dipanaskan dan dicampur bahan pendukung seperti lilin murni, pewarna estetik, serta essential oil (minyak esensial) untuk menetralisir bau tengik dan menghasilkan wangi aromaterapi.
Hasilnya sangat memukau. Limbah yang tadinya kotor dan mencemari sukses disulap menjadi produk lilin aromaterapi cantik dengan wangi semerbak, yang tentunya memiliki potensi nilai jual yang menjanjikan di pasaran.
Antusiasme Warga dan Dukungan SDGs
Pelatihan JELITA ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Sepanjang acara, peserta aktif menggali informasi terkait detail teknik penyaringan, takaran komposisi bahan, hingga strategi peluang pemasaran produk. Salah seorang peserta bahkan mengaku takjub, baru menyadari bahwa limbah dapur mereka bisa dipoles menjadi sumber cuan baru melalui sistem ekonomi sirkular.
Lebih luas lagi, inovasi mahasiswa KKN FBiPK UB ini sejalan dengan komitmen global dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya:
- SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Mendorong terciptanya peluang usaha dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
- SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan): Mengatasi masalah pengelolaan limbah rumah tangga agar lingkungan permukiman lebih aman dan ramah lingkungan.
- SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Memaksimalkan pemanfaatan kembali barang bekas menjadi produk bernilai guna tinggi.
Kolaborasi apik antara sivitas akademika Universitas Brawijaya dan masyarakat ini membuktikan bahwa solusi cerdas penyelamatan lingkungan selalu bisa dimulai dari langkah-langkah kecil nan inovatif.
#KKNUniversitasBrawijaya #KKNFBiPK #DesaBambang #MinyakJelantah #PemberdayaanPerempuan #EkonomiSirkular #UniversitasBrawijaya_SDG5 #UniversitasBrawijaya_SDG9 #UniversitasBrawijaya_SDG12 #PengabdianMasyarakat #KabupatenMalang #InfoMalangRaya



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?