Banner Iklan

Mahasiswa Membangun Desa (MMD) UB Dampingi Petani Wujudkan Budidaya Berkelanjutan melalui Identifikasi Kesehatan Tanah dan Pengendalian Hama Terpadu

Admin JSN
05 Agustus 2026 • 19.57 WIB
Mahasiswa MMD UB Kelompok 33 bersama petani Dusun Jajang usai kegiatan identifikasi kesehatan tanah dan pengenalan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM : Daun-daun jeruk yang menguning di sejumlah lahan di Dusun Jajang, Desa Sumberejo, Kecamatan Poncokusumo, menjadi perhatian mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) saat menjalankan Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD). Alih-alih langsung menyimpulkan penyebabnya sebagai serangan hama atau penyakit, tim MMD UB Kelompok 33 memilih menelusuri kondisi kesehatan tanah terlebih dahulu. Langkah tersebut menjadi awal pendampingan kepada petani dalam menentukan pengelolaan lahan yang lebih tepat.

Pemahaman tersebut mendorong Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya Kelompok 33 melaksanakan kegiatan bertajuk "Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagai Upaya Mendukung Keberlanjutan Kesehatan Tanah dan Produktivitas Pertanian" pada Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini mengajak petani mengenali kondisi tanah melalui identifikasi beberapa indikator kesehatan tanah, kemudian menghubungkannya dengan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagai bagian dari budidaya yang lebih berkelanjutan.

Dusun Jajang merupakan salah satu sentra hortikultura di Desa Sumberejo dengan tanaman jeruk sebagai komoditas utama. Produktivitas tanaman sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah karena menjadi media penyedia air, unsur hara, serta tempat berkembangnya perakaran. Hasil observasi mahasiswa menunjukkan bahwa kondisi tanaman di setiap lahan tidak sama. Beberapa tanaman mengalami gejala daun menguning dengan tingkat keparahan yang berbeda sehingga diperlukan identifikasi kesehatan tanah sebelum memberikan rekomendasi kepada petani. 

Tim MMD memulai kegiatan dengan observasi lapangan dan pengambilan sampel tanah dari beberapa titik lahan. Sampel kemudian dianalisis melalui pengukuran pH tanah, Electrical Conductivity (EC), bulk density, dan kandungan bahan organik. Hasil pengukuran menjadi bahan diskusi bersama petani untuk membantu mereka memahami kondisi lahannya sekaligus mengenali faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Callista Athallah Rahima Putri selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan bahwa identifikasi kesehatan tanah menjadi langkah awal yang penting sebelum menentukan upaya budidaya maupun pengendalian hama. Setiap lahan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pengelolaannya tidak dapat disamaratakan. Pemahaman terhadap kondisi tanah diharapkan membantu petani mengambil keputusan yang lebih tepat sesuai kebutuhan lahannya.

Kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian hasil identifikasi kesehatan tanah. Mahasiswa mengajak petani berdiskusi mengenai hubungan antara kondisi tanah dan keberhasilan budidaya. Pembahasan difokuskan pada pentingnya menjaga keseimbangan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah agar tanaman mampu menyerap unsur hara secara optimal. Petani juga dikenalkan dengan cara sederhana memantau kondisi tanah sehingga dapat mengetahui perubahan yang terjadi pada lahannya sejak dini. 

Sebagai tindak lanjut, tim MMD UB Kelompok 33 mengenalkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagai pendekatan budidaya yang lebih ramah lingkungan. Petani diperkenalkan dengan yellow pan trap untuk monitoring hama, methyl eugenol sebagai atraktan lalat buah, serta Beauveria bassiana sebagai agens hayati. Berbagai metode tersebut diharapkan menjadi alternatif sehingga pengendalian hama tidak hanya bergantung pada pestisida kimia.

Kepala Dusun Jajang, Krismanto, menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa MMD UB. Menurutnya, materi yang diberikan tidak hanya menambah wawasan petani, tetapi juga memberikan alternatif yang dapat diterapkan dalam budidaya tanaman di Dusun Jajang. 

"Harapan kami, pengetahuan yang sudah dikenalkan mahasiswa dapat terus diterapkan petani. PHT menjadi alternatif yang baik untuk mendukung budidaya di Dusun Jajang," ujarnya.

Manfaat kegiatan turut dirasakan oleh para petani. Izzam Mutho’in mengaku selama ini perhatian petani lebih banyak tertuju pada pemupukan dan pengendalian hama, sedangkan kondisi tanah belum menjadi perhatian utama. Kegiatan ini memberikan pemahaman baru bahwa kesehatan tanah merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas tanaman.

"Selama ini kami lebih banyak fokus menanam tanpa benar-benar memahami kondisi tanah. Setelah dijelaskan mahasiswa, kami jadi sadar bahwa kesehatan tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman," tuturnya.

Izzam menilai informasi mengenai Pengendalian Hama Terpadu juga membuka wawasan baru bagi petani. Berbagai metode yang diperkenalkan dinilai dapat menjadi pilihan dalam mengendalikan hama tanpa harus selalu mengandalkan pestisida kimia.

"Kami juga dikenalkan dengan Beauveria bassiana, methyl eugenol, dan yellow pan trap. Pengetahuan ini sangat bermanfaat karena kami memiliki alternatif lain dalam mengendalikan hama dan ingin mencoba menerapkannya di lahan kami," tambahnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, Tim MMD UB Kelompok 33 menyerahkan portable pH-EC meter kepada Kelompok Tani Dusun Jajang. Penyerahan alat ini diharapkan memungkinkan petani melakukan pemantauan kondisi tanah secara mandiri sehingga manfaat program tetap berlanjut setelah kegiatan MMD selesai.

Salah satu peserta, Deni, mengaku memperoleh wawasan baru dari kegiatan tersebut. Menurutnya, selama ini perhatian petani lebih banyak tertuju pada pemupukan dan pengendalian hama, sedangkan kondisi tanah jarang diperiksa secara langsung.

Tim MMD UB Kelompok 33 menyerahkan portable pH-EC meter kepada Kelompok Tani Dusun Jajang sebagai bentuk dukungan terhadap pemantauan kesehatan tanah secara mandiri.


"Kami jadi tahu bahwa pH dan kondisi tanah juga perlu diperhatikan sebelum menentukan langkah budidaya. Saya juga tertarik mencoba Beauveria bassiana sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan," ujarnya.

Hasil evaluasi menunjukkan kegiatan ini mendapat respons positif dari peserta. Nilai rata-rata post-test mencapai 97,5 dengan tingkat kepuasan peserta sebesar 90,94 persen. Capaian tersebut menunjukkan materi yang disampaikan mudah dipahami dan mampu meningkatkan pemahaman petani mengenai pentingnya kesehatan tanah dalam mendukung budidaya berkelanjutan.

Bagi Tim MMD UB Kelompok 33, capaian tersebut bukan menjadi akhir dari program. Pengetahuan mengenai kesehatan tanah dan Pengendalian Hama Terpadu diharapkan dapat terus diterapkan dalam praktik budidaya sehari-hari sehingga produktivitas tanaman tetap terjaga tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Tim MMD UB Kelompok 33 melakukan monitoring bersama petani melalui praktik langsung penggunaan portable pH-EC meter di lahan sebagai bagian dari evaluasi pemahaman peserta setelah kegiatan berlangsung

Dosen Pembimbing Lapang MMD UB Kelompok 33, Dr. Ns. Mukhamad Fathoni, S.Kep., MNS., mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa, pemerintah desa, dan petani selama pelaksanaan program. Pendekatan yang diawali dengan identifikasi kondisi tanah dinilai mampu memberikan rekomendasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dibandingkan memberikan solusi secara umum.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga belajar memahami persoalan yang dihadapi petani secara langsung. Proses tersebut menjadi ruang kolaborasi yang saling menguatkan antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mencari solusi berbasis kebutuhan di lapangan.

Bagi Tim MMD UB Kelompok 33, pendampingan ini bukan sekadar berbagi pengetahuan, tetapi menjadi proses belajar bersama dengan masyarakat. Harapannya, kebiasaan mengenali kondisi tanah sebelum mengambil keputusan budidaya dapat terus diterapkan sehingga kolaborasi antara perguruan tinggi dan petani mampu mendorong pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan di Dusun Jajang.


#MMDUB2026 #Kelompok33MMDUB #SDGs2


Authors : Callista Athallah Rahima Putri (245040200111105)

DPL : Dr. Ns. Mukhamad Fathoni, S.Kep., MNS.


Penulis : Kelompok 33 MMD UB 2026


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mahasiswa Membangun Desa (MMD) UB Dampingi Petani Wujudkan Budidaya Berkelanjutan melalui Identifikasi Kesehatan Tanah dan Pengendalian Hama Terpadu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?