Foto: Pengarahan Kabiro AUPK UIN Malang
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Penguatan tata kelola dan kualitas layanan menjadi perhatian dalam persiapan perkuliahan semester ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat Persiapan Perkuliahan Semester Ganjil 2026/2027 yang digelar di Ruang Meeting Gedung Megawati Lantai 1, Kamis (6/8/2026). Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UIN Malang, Dr. H. Muhtar Hazawawi, M.Ag., mendorong FITK memperkuat tata kelola yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan mahasiswa.
Menurut Muhtar, kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh aspek akademik. Sinergi antara dosen dan tenaga kependidikan (tendik) menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh layanan fakultas berjalan efektif dan responsif.
Ia mendorong agar hubungan kerja antara dosen dan tendik dibangun semakin solid. Kolaborasi tersebut dinilai dapat memperkuat pelayanan administrasi sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
Pengembangan kompetensi tendik juga menjadi salah satu perhatian. FITK didorong untuk mengembangkan program pelatihan secara berkelanjutan, termasuk melalui kolaborasi dengan fakultas lain yang memiliki praktik tata kelola dan layanan yang dinilai baik.
Selain peningkatan kompetensi, penataan sumber daya manusia perlu dilakukan secara lebih adaptif. Penempatan personel, termasuk melalui mutasi maupun penyesuaian tugas, perlu mempertimbangkan kompetensi dan kebutuhan organisasi agar efektivitas pelayanan dapat terus ditingkatkan.
Di sisi lain, dinamika ekonomi masyarakat juga menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Muhtar menyoroti dampak kondisi ekonomi nasional terhadap kemampuan sebagian mahasiswa memenuhi kewajiban pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami sebagian orang tua mahasiswa, menurutnya, perlu menjadi perhatian dalam merumuskan kebijakan layanan pendidikan. Kondisi tersebut sekaligus berpengaruh terhadap persaingan perguruan tinggi dalam menarik dan mempertahankan calon mahasiswa.
Tantangan serupa juga muncul dalam pengembangan Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Faktor biaya menjadi salah satu pertimbangan yang perlu diperhatikan agar program tersebut dapat menjangkau calon mahasiswa yang lebih luas.
Karena itu, FITK didorong memperkuat strategi promosi sekaligus memperluas jejaring kerja sama. Pendekatan yang lebih inovatif dinilai diperlukan untuk menjangkau segmen calon mahasiswa yang memiliki kebutuhan dan latar belakang berbeda.
Dalam pengembangan pendidikan pascasarjana, Muhtar juga mendorong adanya model pembelajaran S2 dan S3 yang lebih fleksibel tanpa mengabaikan standar mutu akademik. Optimalisasi skema RPL menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan bagi peserta didik yang memenuhi persyaratan.
Menurutnya, fleksibilitas tersebut penting untuk menyesuaikan pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam, sekaligus membuka akses pendidikan bagi kelompok profesional yang telah memiliki pengalaman kerja maupun pembelajaran sebelumnya.
Muhtar juga menekankan pentingnya kesamaan visi di antara dosen dalam menjalankan arah pengembangan fakultas. Perbedaan pandangan dalam lingkungan akademik merupakan hal yang wajar, namun perlu dikelola secara konstruktif agar tidak menghambat kerja bersama.
Aspek psikologis dan budaya organisasi turut menjadi perhatian. Komunikasi yang sehat, kerja sama, serta lingkungan kerja yang harmonis dinilai penting untuk menciptakan produktivitas sekaligus menjaga kualitas pelayanan di lingkungan fakultas.
Pada bagian akhir arahannya, Muhtar menekankan pentingnya mengembangkan pelayanan yang lebih humanis kepada mahasiswa dan keluarga mereka. Masukan maupun testimoni dari wali mahasiswa dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat kualitas layanan dari perspektif pengguna.
Ia juga menyinggung perlunya fleksibilitas dalam menghadapi mahasiswa yang mengalami persoalan ekonomi tertentu, termasuk dalam hal tenggat pembayaran biaya kuliah. Kebijakan yang responsif diharapkan dapat membantu mahasiswa mempertahankan keberlanjutan studinya.
Berbagai arahan tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan bagi FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam mempersiapkan semester ganjil 2026/2027.
Penguatan sinergi dosen dan tendik, peningkatan kompetensi SDM, penataan organisasi, pengembangan RPL dan pascasarjana, serta pelayanan yang lebih humanis menjadi bagian dari agenda tata kelola yang diarahkan untuk menjawab perubahan kebutuhan pendidikan tinggi.
Melalui tata kelola yang lebih adaptif dan pelayanan yang responsif, FITK diharapkan mampu menghadirkan lingkungan akademik yang tidak hanya kuat dari sisi pembelajaran, tetapi juga mampu memberikan pengalaman layanan yang semakin baik bagi mahasiswa dan seluruh pemangku kepentingan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?