Banner Iklan

UIN Maliki Libatkan Fatayat NU Perkuat Ekonomi Desa Berbasis Nilai Keagamaan

JSN Admin 2
11 Juli 2026 | 23.58 WIB Last Updated 2026-07-11T17:00:11Z
UIN Malang menggandeng Fatayat NU dalam upaya menjadikan Gondanglegi sebagai klaster percontohan pengembangan ekonomi berbasis komunitas desa./dok.UIN Malang

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - UIN Malang terus melakukan penguatan kelembagaan ekonomi desa yang dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan koperasi.

Pendampingan masyarakat di tingkat akar rumput juga menjadi faktor penting agar program mampu berjalan secara berkelanjutan.

Atas dasar itu, Tim Peneliti UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dipimpin Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif, M.Ag. bersama Danira Irin Wijayanti, S.E., M.MKMT, dosen Program Studi Manajemen Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Al-Qolam Malang sekaligus anggota tim penelitian.

Tim ini menggelar sosialisasi Model Pengembangan Ekonomi Berbasis Komunitas kepada jajaran Fatayat NU PAC Gondanglegi dan seluruh Pengurus Ranting Fatayat NU se-Kecamatan Gondanglegi.

Kegiatannya diikuti lebih dari 150 peserta itu menjadi bagian dari implementasi hasil penelitian mengenai penguatan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) melalui pendekatan Quranic Community Development (QCD). Dalam model tersebut, Fatayat NU diposisikan sebagai mitra strategis dalam mendampingi pelaku usaha mikro dan kecil di tingkat desa.

Pada paparannya, Prof. Fauzan menegaskan bahwa pembangunan ekonomi masyarakat tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai agama yang telah lama menjadi budaya masyarakat pedesaan.

"Ekonomi tidak boleh hanya berbicara tentang keuntungan. Al-Qur'an mengajarkan bahwa aktivitas ekonomi adalah bagian dari ibadah yang harus dijalankan dengan amanah, kejujuran, keadilan, dan semangat saling menolong. Karena itu, penguatan ekonomi desa harus dibangun di atas fondasi nilai-nilai keagamaan," ujar Prof. Fauzan.

Menurutnya, berbagai persoalan ekonomi saat ini muncul ketika sistem pembangunan hanya bertumpu pada paradigma materialistik tanpa memperhatikan dimensi moral dan sosial.

Dalam kesempatan itu, Prof. Fauzan juga mengingatkan tentang dampak berkembangnya paham ekonomi liberal yang, menurutnya, mendorong masyarakat pada sikap hubbud dunya atau kecintaan yang berlebihan terhadap kehidupan dunia sehingga orientasi ekonomi bergeser dari kemaslahatan bersama menjadi kepentingan individual.

"Ketika ekonomi hanya berorientasi pada akumulasi keuntungan, maka yang muncul adalah persaingan yang tidak sehat, ketimpangan, bahkan hilangnya semangat gotong royong. Padahal masyarakat desa memiliki modal sosial yang sangat kuat. Nilai itulah yang harus kita hidupkan kembali melalui dakwah ekonomi atau dakwah iqtishadiyah," katanya.

Prof. Fauzan menjelaskan bahwa dakwah ekonomi bukan sekadar mengajarkan transaksi yang sesuai syariat, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar menjadikan aktivitas ekonomi sebagai instrumen pemberdayaan umat.

Karena itu, menurut dia, keterlibatan Fatayat NU menjadi kebutuhan strategis. Organisasi perempuan tersebut dinilai memiliki jaringan yang kuat hingga tingkat desa dan memiliki kedekatan dengan pelaku usaha mikro, khususnya pemilik warung, toko kelontong, serta industri rumah tangga.

"Fatayat memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Mereka hadir di tengah masyarakat dan memahami kebutuhan keluarga serta pelaku usaha kecil. Karena itu, mereka kami tempatkan sebagai pendamping UMKM dalam model pengembangan ekonomi berbasis komunitas," ujarnya.

Dalam sosialisasi tersebut, tim peneliti juga memperkenalkan konsep Segitiga Emas Pengembangan Ekonomi Berbasis Komunitas, yaitu model integrasi antara BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan UMKM yang dibangun di atas nilai-nilai agama sebagai fondasi tata kelola ekonomi desa.

Dalam model itu, BUMDes berfungsi sebagai pengelola aset dan investasi desa, KDMP menjadi agregator sekaligus distributor hasil produksi masyarakat, sedangkan UMKM menjadi pelaku utama proses produksi dan hilirisasi produk. Fatayat NU berperan sebagai pendamping yang memperkuat kapasitas UMKM sekaligus menghubungkan pelaku usaha dengan kelembagaan ekonomi desa.

Sebagai tindak lanjut sosialisasi, seluruh pengurus Fatayat NU ranting se-Kecamatan Gondanglegi mulai melakukan pendataan UMKM binaan, terutama toko kelontong, warung, dan usaha mikro yang selama ini menjadi bagian dari jaringan pemberdayaan organisasi.

Pendataan tersebut akan menjadi basis data awal dalam membangun jejaring ekonomi desa berbasis komunitas. Selanjutnya, UMKM yang telah terdata akan diintegrasikan ke dalam ekosistem ekonomi desa melalui kemitraan dengan BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih, sehingga memperoleh akses terhadap distribusi, penguatan kapasitas usaha, dan perluasan pasar.

Danira Irin Wijayanti mengatakan bahwa proses pendataan merupakan tahapan penting agar program pemberdayaan benar-benar berbasis pada kondisi riil masyarakat.

"Kami ingin memastikan bahwa setiap UMKM yang didampingi memiliki data yang akurat. Dengan demikian, program penguatan usaha dapat disusun sesuai kebutuhan masing-masing desa dan terhubung dengan sistem ekonomi yang sedang dibangun," ujarnya.

Bagi tim peneliti, keterlibatan Fatayat NU menandai dimulainya penguatan gerakan di tingkat akar rumput. Melalui pendekatan Quranic Community Development, pengembangan ekonomi desa tidak hanya diarahkan pada peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga pada penguatan karakter, solidaritas sosial, dan tata kelola ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Model tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan, di mana BUMDes, KDMP, UMKM, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat bergerak dalam satu jaringan kolaborasi yang mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan dakwah dan pemberdayaan sosial. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • UIN Maliki Libatkan Fatayat NU Perkuat Ekonomi Desa Berbasis Nilai Keagamaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now