Forum Komunikasi tujuh desa di Gondanglegi
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pengembangan Model Segitiga Emas Pengembangan Ekonomi Berbasis Komunitas di Kecamatan Gondanglegi memasuki babak baru. Dalam rapat koordinasi yang dihadiri tujuh kepala desa dan tujuh Ketua Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang menjadi lokasi penelitian, seluruh peserta menyatakan menerima dan siap mengimplementasikan model yang dikembangkan Tim Peneliti UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di bawah pimpinan Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif, M.Ag.
Rapat tersebut juga menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Forum Komunikasi Pengembangan Ekonomi Berbasis Komunitas Kecamatan Gondanglegi sebagai wadah koordinasi antardesa dalam memperkuat sinergi BUMDes, KDMP, UMKM, pesantren, dan pemerintah desa sehingga proses hilirisasi ekonomi dapat berjalan secara terpadu.
Melalui musyawarah yang berlangsung secara mufakat, peserta memilih H. Mashudi, Ketua KDMP Desa Ketawang, sebagai Ketua Forum. Jabatan Sekretaris dipercayakan kepada H. Abdul Rokhman, S.Ag., Kepala Desa Bulupitu. Sementara unsur UMKM diwakili Ika Nur Ahikmah, S.H., Ketua PAC Fatayat NU Gondanglegi, yang disepakati sebagai Bendahara Forum.
Menurut Prof. Fauzan, forum tersebut bukan sekadar organisasi koordinasi, tetapi merupakan instrumen kelembagaan untuk menerjemahkan hasil penelitian ke dalam praktik pembangunan ekonomi desa.
"Kami ingin memastikan bahwa kolaborasi yang selama ini dibangun melalui penelitian memiliki rumah bersama. Forum ini menjadi ruang komunikasi, konsolidasi, sekaligus pengambilan keputusan agar seluruh potensi desa dapat bergerak dalam satu ekosistem ekonomi yang saling menguatkan," ujar Prof. Fauzan.
Ia menjelaskan bahwa desain Segitiga Emas menempatkan BUMDes sebagai pengelola aset dan investasi desa, KDMP sebagai agregator sekaligus distributor, sedangkan UMKM menjadi pelaku utama produksi dan hilirisasi. Ketiga lembaga tersebut dipersatukan oleh nilai-nilai Al-Qur'an seperti amanah, ta'awun (kolaborasi), syirkah (kemitraan), maslahah (kemanfaatan), dan istiqamah sehingga pembangunan ekonomi tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial masyarakat.
Forum yang baru dibentuk itu juga disepakati memiliki sejumlah fungsi strategis. Selain menjadi pusat pertukaran informasi mengenai produksi, kebutuhan pasar, dan potensi usaha di setiap desa, forum akan menyusun rantai pasok kawasan sehingga setiap desa memperoleh peran sesuai keunggulan masing-masing.
Forum juga akan menghubungkan data UMKM yang dihimpun Fatayat dengan program pembiayaan BUMDes, sehingga modal usaha dapat disalurkan kepada pelaku usaha yang benar-benar aktif. Di sisi lain, data tersebut akan menjadi dasar bagi KDMP dalam menentukan jenis dan jumlah barang yang harus didistribusikan sesuai kebutuhan riil masyarakat, sehingga koperasi tidak lagi menyimpan stok barang yang kurang dibutuhkan pasar.
Selain itu, forum akan menjadi ruang bersama bagi kepala desa, pengurus koperasi, BUMDes, dan pelaku UMKM untuk berbagi inovasi, menyusun strategi pemasaran, mengembangkan digitalisasi usaha, serta melakukan evaluasi berkala terhadap implementasi Masterplan Kawasan Ekonomi Terpadu Gondanglegi.
Dalam rapat tersebut juga ditegaskan bahwa implementasi tahap awal difokuskan pada desa di wilayah barat Kecamatan Gondanglegi, yaitu Sumberjaya, Putukrejo, Bulupitu, Sukorejo, Panggungrejo, Sukosari, dan Ketawang, yang diproyeksikan menjadi klaster percontohan pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Kawasan ini dipilih karena memiliki keterkaitan potensi sumber daya air, pertanian, peternakan, dan UMKM yang dinilai memungkinkan terbentuknya rantai nilai ekonomi secara utuh.
Namun demikian, Prof. Fauzan mengungkapkan bahwa Desa Ganjaran, meskipun secara konseptual menjadi bagian penting dalam desain masterplan karena memiliki potensi strategis pada sektor peternakan dan inkubasi bisnis, hingga saat ini belum mengikuti rangkaian forum dan pertemuan koordinasi yang telah diselenggarakan tim peneliti.
"Kami tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi Pemerintah Desa Ganjaran untuk bergabung. Desain ini disusun untuk kepentingan seluruh masyarakat Gondanglegi. Semakin banyak desa yang terlibat, semakin kuat pula ekosistem ekonomi yang dapat dibangun," kata Prof. Fauzan.
Ia menambahkan, keberhasilan model tersebut sangat bergantung pada komitmen kolektif seluruh desa untuk meninggalkan pola pembangunan yang berjalan sendiri-sendiri menuju sistem kolaborasi kawasan.
Sementara itu, Ketua Forum terpilih, H. Mashudi, menyatakan bahwa forum akan segera menyusun agenda kerja bersama, mulai dari sinkronisasi data produksi, pemetaan kebutuhan pasar, hingga penyusunan mekanisme perdagangan antardesa melalui KDMP.
"Selama ini setiap desa bekerja sendiri. Dengan forum ini kami ingin seluruh desa saling melengkapi, saling memasok, dan tumbuh bersama sehingga manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.
Bagi Tim Peneliti UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pembentukan forum tersebut menjadi tonggak penting implementasi Model Segitiga Emas Pengembangan Ekonomi Berbasis Komunitas. Model itu diharapkan tidak hanya memperkuat kelembagaan BUMDes, KDMP, dan UMKM, tetapi juga melahirkan tata kelola ekonomi desa yang berbasis data, kolaboratif, berlandaskan nilai-nilai keagamaan, serta mampu menjadi prototipe pengembangan kawasan ekonomi desa yang dapat direplikasi di Kabupaten Malang maupun daerah lain di Indonesia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?