Sumber Sirah, Wajah Baru Ekonomi Desa: Dari Mata Air Jernih Menuju Wisata Edukasi Berbasis Masyarakat
Laporan Khusus | Sumber Sirah, Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Udara sejuk menyambut setiap pengunjung yang memasuki kawasan Wisata Sumber Sirah di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Di bawah rindangnya pepohonan besar, mata air alami mengalir tanpa henti membentuk kolam berair jernih dengan dasar yang masih tampak jelas dari permukaan. Warna kebiruan air berpadu dengan hijaunya vegetasi di sekeliling kawasan menciptakan suasana yang tenang sekaligus menyegarkan.
Di sisi lain kawasan wisata, beberapa perahu bebek berwarna-warni berjajar menunggu pengunjung, sementara wahana kereta wisata tampak siap mengantarkan wisatawan berkeliling area. Di sekeliling embung, hamparan ruang terbuka hijau masih menyisakan lahan yang cukup luas untuk dikembangkan sebagai kawasan rekreasi dan edukasi berbasis alam.
Bagi Pemerintah Desa Putukrejo, pengembangan ekonomi desa tidak berhenti pada sektor pertanian, peternakan, perikanan, maupun pengelolaan sampah. Potensi sumber daya alam berupa mata air Sumber Sirah menjadi aset strategis yang dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Yang menarik, pengembangan kawasan wisata ini tidak sepenuhnya mengandalkan dana pemerintah. Sebagian modal berasal dari investasi masyarakat, sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan juga kembali kepada warga desa melalui sistem pengelolaan bersama.
Ketua BUMDes Putukrejo menjelaskan bahwa konsep yang dibangun bukan sekadar menghadirkan tempat rekreasi, melainkan menciptakan destinasi wisata keluarga yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
"Kami ingin potensi alam yang dimiliki Putukrejo benar-benar memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Karena itu pengelolaannya dilakukan oleh BUMDes dengan melibatkan investasi masyarakat. Semakin banyak pengunjung datang, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dirasakan warga," ujarnya.
Saat ini kawasan wisata telah dilengkapi dengan berbagai wahana rekreasi, seperti kereta wisata, perahu bebek, kolam ikan, area bermain keluarga, serta kawasan pertanian kangkung yang dimanfaatkan sebagai media edukasi pertanian bagi pengunjung. Hamparan tanaman kangkung yang tumbuh di sekitar kawasan memperlihatkan bagaimana wisata dapat dipadukan dengan aktivitas pertanian produktif sehingga memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada anak-anak maupun keluarga.
Namun demikian, pengembangan kawasan belum berhenti pada fasilitas yang telah tersedia. Di sekitar Sumber Sirah masih terdapat lahan milik masyarakat yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan rekreasi air, taman edukasi, arena permainan alam, hingga wisata pertanian terpadu.
"Potensinya masih sangat besar. Kami ingin kawasan ini terus berkembang menjadi wisata edukasi berbasis desa. Masih banyak lahan masyarakat yang bisa dikolaborasikan sehingga manfaat ekonominya juga dirasakan lebih luas," kata Ketua BUMDes.
Saat tim melakukan observasi lapangan, kawasan wisata tampak ramai oleh puluhan siswa Raudlatul Ulum Ganjaran yang sedang mengikuti kegiatan eduwisata. Anak-anak berkumpul di bawah rindangnya pepohonan sebelum mengikuti berbagai aktivitas pembelajaran di alam terbuka. Sesekali terdengar gelak tawa ketika mereka mencoba permainan kelompok, berinteraksi dengan teman-temannya, maupun menikmati suasana alam di sekitar mata air.
Guru-guru mendampingi para siswa mengenalkan berbagai potensi lingkungan, mulai dari pentingnya menjaga kelestarian sumber air, mengenal ekosistem perairan, hingga mempelajari tanaman yang tumbuh di sekitar kawasan. Wisata yang mereka lakukan bukan sekadar rekreasi, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran yang menghadirkan pengalaman langsung di alam.
Kepala Desa Putukrejo, Achmad Zainul Achyar, menilai bahwa model pengembangan wisata berbasis edukasi memiliki nilai strategis karena mampu menggabungkan pelestarian lingkungan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
"Kami tidak ingin wisata hanya menjadi tempat orang datang, berfoto, lalu pulang. Yang kami bangun adalah ruang belajar tentang alam, pertanian, perikanan, dan lingkungan. Anak-anak memperoleh pengalaman baru, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, sementara kelestarian sumber mata air tetap menjadi prioritas utama," ujarnya.
Menurutnya, arah pengembangan Sumber Sirah akan terus diperluas sebagai bagian dari ekosistem ekonomi desa yang saling terhubung dengan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha mikro masyarakat.
"Ke depan kami ingin wisata ini terintegrasi dengan seluruh potensi desa. Pengunjung tidak hanya menikmati keindahan mata air, tetapi juga belajar tentang budidaya ikan, pertanian, pengelolaan sampah, hingga menikmati produk-produk UMKM desa. Dengan demikian, setiap kunjungan akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat," katanya.
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa Sumber Sirah memiliki modal alam yang sulit ditemukan di banyak tempat. Air yang jernih, lingkungan yang teduh, kawasan hijau yang masih terjaga, serta ruang pengembangan yang masih luas menjadi kekuatan utama Putukrejo dalam membangun wisata berbasis lingkungan. Ketika seluruh potensi tersebut dipadukan dengan pengelolaan profesional oleh BUMDes dan partisipasi masyarakat sebagai investor, Sumber Sirah tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi desa yang menghubungkan konservasi alam, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat dalam satu ekosistem pembangunan berkelanjutan. Ans




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?