![]() |
| Anggota DPD/MPR RI Lia Istifhama terus berupaya tetap menyampaikan aspirasi masyarakat dari podium ke podium dengan kesantunan./dok.istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD/MPR RI Lia Istifhama terus menunjukkan komitmennya menyuarakan aspirasi masyarakat dengan kesantunan.
Sebagai senator yang dipilih oleh masyarakat Jawa Timur pada Pemilu 2024 lalu, ia terus berupaya menjadi mediator penyalur suara otentik masyarakat di ruang Gedung Senayan.
Aspirasi masyarakat juga sering dibagikan di wadah-wadah publik ketika dirinya berkunjung ke berbagai tempat untuk mencari silang pendapat, apakah situasi di satu tempat dengan tempat lain sama atau berbeda, dan bagaimana idealnya penanganan terhadap situasi-situasi tersebut.
Kalangan yang dihimpun aspirasinya juga beragam, dari golongan masyarakat umum seperti ibu-ibu rumah tangga, penggiat UMKM, guru, hingga pemuda dan akademisi.
Sebagai politisi yang baru berusia 42 tahun, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I. terlihat fleksibel untuk berinteraksi dengan kaum pemuda, pelajar, dan mahasiswa. Golongan terakhir juga identik sebagai kelompok pemuda yang masih mampu berpikir idealis dan kritis dalam melihat realitas-realitas sosial.
Dari sana tidak jarang ada pandangan-pandangan yang sejatinya masih relevan untuk melahirkan solusi terhadap permasalahan-permasalahan sosial.
Apalagi mereka juga merupakan generasi intelektual yang sangat dekat dengan era digital, maka pengetahuan mereka selama berjejaring sosial di dunia digital bisa saja menemukan solusi yang sangat relevan dengan situasi saat ini di masyarakat.
Hal semacam ini tak luput dari perhatian Lia Istifhama sebagai 'perantara suara' sejak dirinya resmi menjadi senator.
Ia pun terus menunjukkan komitmennya dalam menyuarakan aspirasi masyarakat dari berbagai podium.
Baginya, setiap amanah adalah tanggung jawab yang harus diperjuangkan dengan ketulusan, keberanian, dan kecintaan kepada bangsa.
Sembari menyampaikan aspirasi masyarakat, ia juga tak lupa dengan kearifan budaya tanah air melalui busana-busana yang dikenakan.
Artinya, sembari menjaga demokrasi bangsa ia juga merawat budaya bangsa agar keindahan budaya tanah air tidak luntur termakan oleh pergerakan-pergerakan budaya global yang makin mudah singgah ke berbagai tempat.
Ia juga punya harapan bahwa suara yang disampaikan menjadi jembatan harapan rakyat menuju kebijakan yang lebih berpihak pada kemaslahatan bersama.
Selain itu, ia juga ingin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia mampu tampil anggun, berbudaya, dan tetap tegas dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Ia pun berharap semangat pengabdian ini terus menginspirasi generasi muda untuk berani bersuara, berkarya, dan mengabdi demi Indonesia yang lebih maju. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?