Prof. M. Fauzan Zenrif Perkenalkan Model Ekosistem QCD: Integrasikan MBG, KDMP, BUMDes, UMKM, dan Pesantren dalam Satu Rantai Nilai Ekonomi Desa
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Gagasan besar tentang pembangunan desa berbasis komunitas kembali diperkenalkan oleh Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif, M.Ag., pakar Ulumul Qur'an dan Tafsir untuk Pengembangan Sosial dan Ekonomi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Melalui penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK) Model Ekosistem Qur'anic Community Development (QCD), ia menawarkan sebuah paradigma baru yang menghubungkan seluruh potensi desa ke dalam satu ekosistem pembangunan yang terpadu.
Model tersebut mengusung tema "Transformasi Potensi Desa Menuju Kemandirian Pangan, Energi, Air, dan Ekonomi Berkelanjutan", dengan membangun sinergi antara Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), BUMDes, UMKM, dan pesantren sebagai satu kesatuan sistem pembangunan desa.
Dalam wawancara, Prof. Fauzan menjelaskan bahwa selama ini desa memiliki sumber daya yang sangat besar, mulai dari lahan pertanian, sumber daya manusia, kelembagaan, modal sosial, hingga kekuatan nilai-nilai keagamaan. Namun, berbagai potensi tersebut masih berjalan sendiri-sendiri sehingga belum menghasilkan dampak ekonomi yang optimal.
"Persoalan utama desa bukan karena tidak memiliki potensi, tetapi karena potensi-potensi tersebut belum terkoneksi menjadi satu ekosistem. MBG berjalan sendiri, KDMP berjalan sendiri, BUMDes memiliki aset tetapi belum terhubung dengan UMKM, sementara pesantren belum sepenuhnya menjadi pusat inkubasi ekonomi masyarakat. Karena itu kami merancang Model Ekosistem QCD agar seluruh komponen saling memperkuat dalam satu rantai nilai ekonomi desa," jelas Prof. Fauzan.
Menurutnya, model tersebut lahir dari serangkaian Focus Group Discussion (FGD) di berbagai desa di Kecamatan Gondanglegi. Dari proses tersebut ditemukan bahwa desa sesungguhnya telah memiliki seluruh aset yang diperlukan, tetapi belum tersedia desain kolaborasi yang mampu menyatukan seluruh potensi menjadi sistem ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
Prof. Fauzan menjelaskan bahwa Model QCD dibangun di atas empat fondasi ilmiah utama, yaitu Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku pembangunan, Asset Based Community Development (ABCD) yang memaksimalkan seluruh aset desa, Value Chain Development yang menghubungkan proses produksi hingga investasi kembali, serta Tafsir al-Tsaqafiy yang menjadikan Al-Qur'an sebagai inspirasi pembangunan sosial dan ekonomi berbasis budaya kolaborasi dan kemaslahatan.
"QCD bukan hanya konsep pemberdayaan masyarakat. Ia merupakan paradigma pembangunan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai Al-Qur'an sehingga pembangunan ekonomi tidak berhenti pada pertumbuhan, tetapi juga melahirkan keadilan sosial, solidaritas, dan keberlanjutan lingkungan," ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa secara teologis model ini bertumpu pada lima nilai utama Al-Qur'an, yaitu tamkΔ«n sebagai dasar pemberdayaan masyarakat, syirkah sebagai prinsip kemitraan antar lembaga, ta'Δwun sebagai budaya kolaborasi, maαΉ£laαΈ₯ah sebagai orientasi seluruh aktivitas ekonomi, dan istikhlΔf sebagai amanah dalam mengelola sumber daya secara profesional dan berkelanjutan.
Ketika ditanya mengenai fungsi masing-masing lembaga dalam ekosistem tersebut, Prof. Fauzan memaparkan bahwa Program MBG berfungsi sebagai market creator yang menciptakan permintaan pasar secara berkelanjutan terhadap hasil produksi desa. KDMP menjadi agregator, pusat logistik, distributor, dan penguat ekonomi kolektif masyarakat. BUMDes berperan sebagai investor dan pengelola aset desa, sedangkan UMKM menjadi produsen sekaligus pengolah hasil. Adapun pesantren diposisikan sebagai pusat pendidikan, inkubasi bisnis, laboratorium kewirausahaan, penguatan karakter, sekaligus pengguna hasil produksi lokal.
Menurutnya, hubungan antar lembaga tersebut membentuk sebuah rantai nilai ekonomi yang dimulai dari potensi desa, dilanjutkan proses produksi, pengolahan, standarisasi, distribusi melalui KDMP, pemanfaatan oleh MBG dan pesantren, pemasaran ke pasar umum, menghasilkan keuntungan yang kemudian diinvestasikan kembali sehingga melahirkan kemandirian desa.
"Selama keuntungan ekonomi tetap berputar di desa, maka desa akan memiliki kemampuan membangun dirinya sendiri. Inilah inti dari QCD, yakni membangun siklus ekonomi lokal yang berkelanjutan dan tidak bergantung pada kekuatan dari luar," tegasnya.
Pelaksanaan model ini dilakukan secara bertahap melalui identifikasi aset desa, pemetaan potensi ekonomi, Focus Group Discussion, penyusunan rencana aksi, pembangunan kolaborasi antar kelembagaan, pelaksanaan usaha produktif, penguatan kapasitas masyarakat, monitoring dan evaluasi, refleksi bersama, hingga replikasi model pada desa-desa lainnya.
Prof. Fauzan menambahkan bahwa keluaran (output) yang diharapkan bukan sekadar terbentuknya dokumen perencanaan, melainkan lahirnya model pembangunan desa berbasis QCD, terbentuknya rantai nilai ekonomi desa, meningkatnya kapasitas BUMDes, KDMP, UMKM, dan pesantren, berkembangnya usaha produktif berbasis komunitas, serta tersedianya sistem distribusi yang efisien. Dampak akhirnya adalah terwujudnya desa yang mandiri dalam pangan, energi, dan pengelolaan air, meningkatnya pendapatan masyarakat, bertambahnya lapangan kerja, berkembangnya investasi desa, serta terciptanya ekosistem ekonomi yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Keberhasilan model tersebut diukur melalui peningkatan produksi pertanian, peternakan, perikanan, dan UMKM, meningkatnya transaksi KDMP, bertambahnya omzet BUMDes, terpenuhinya kebutuhan MBG dan pesantren dari produksi lokal, meningkatnya pendapatan masyarakat, serta terbentuknya sistem kolaborasi yang dapat direplikasi di berbagai desa lain. Untuk menjaga keberlanjutan, model ini menekankan penguatan kelembagaan, diversifikasi usaha, digitalisasi pemasaran, kemitraan dengan pemerintah dan sektor swasta, pendampingan perguruan tinggi, serta evaluasi berkala berbasis indikator sosial, ekonomi, lingkungan, dan tata kelola.
Menutup wawancara, Prof. Fauzan menegaskan bahwa Model Ekosistem Qur'anic Community Development merupakan paradigma pembangunan desa masa depan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai-nilai Al-Qur'an, dan kolaborasi seluruh komponen masyarakat.
"Apabila MBG menjadi mesin permintaan pasar, KDMP menjadi simpul distribusi, BUMDes menjadi penggerak investasi, UMKM menjadi produsen, dan pesantren menjadi pusat pendidikan serta inkubasi kewirausahaan, maka desa akan memiliki ekosistem ekonomi yang utuh. Dari sinilah cita-cita menuju desa mandiri dan Indonesia Emas 2045 dapat dibangun dari akar rumput."



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?