Banner Iklan

Fatayat Gondanglegi Petakan Potensi Empat Desa untuk Memperkuat Ekosistem Koperasi Desa Merah Putih

Admin JSN
14 Juli 2026 | 20.42 WIB Last Updated 2026-07-14T13:42:49Z

 

Suasana diskusi PAC Fatayat NU Gondanglegi bahas pemetaan potensi ekonomi desa.

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama Gondanglegi mulai memetakan potensi ekonomi di sejumlah desa sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Pemetaan dilakukan untuk memastikan setiap desa mengembangkan usaha berdasarkan aset yang dimiliki, bukan sekadar mengikuti tren atau menyeragamkan jenis usaha.

Ketua PAC Fatayat NU Gondanglegi, Ika Nur Hikmah, S.H., mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya ingin mengambil peran lebih luas dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurut dia, keberhasilan KDMP sangat ditentukan oleh kemampuan desa mengenali potensi lokal sebelum menentukan arah pengembangan usaha.

"Kami ingin Fatayat hadir tidak hanya dalam kegiatan sosial dan keagamaan, tetapi juga menjadi mitra strategis pembangunan desa. Pemetaan potensi ini menjadi langkah awal agar setiap koperasi memiliki pondasi usaha yang sesuai dengan kondisi masyarakat," ujar Ika.

Pendampingan tersebut melibatkan Danira Irin Wijayanti, S.E., M.MKMT., dosen Program Studi Manajemen Bisnis Syariah Universitas Al-Qolam Malang, yang melakukan wawancara langsung dengan pengurus KDMP beberapa desa di Kecamatan Gondanglegi. Hasil wawancara kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi peluang usaha yang paling realistis dikembangkan.

Menurut Danira, pendekatan tersebut menggunakan prinsip bahwa setiap desa memiliki modal sosial, modal ekonomi, dan sumber daya alam yang berbeda sehingga strategi pengembangannya tidak dapat disamaratakan.

"Pembangunan ekonomi desa akan lebih berhasil apabila dimulai dari aset yang sudah dimiliki masyarakat. Potensi yang ada harus dipetakan terlebih dahulu sebelum menentukan sektor unggulan," kata Danira.

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa Desa Panggungrejo memiliki potensi yang cukup beragam. Di sektor primer terdapat peluang pengembangan perikanan karena sebagian wilayah Krajan berada di dekat aliran sungai yang selama ini justru menyebabkan sebagian lahan pertanian kerap mengalami gagal panen akibat banjir.

Selain itu, mayoritas masyarakat menanam tebu, sehingga membuka peluang usaha penyediaan pupuk dan sarana produksi pertanian. Desa tersebut juga memiliki tiga sentra budidaya jamur tiram, industri rumah tangga pembuatan tahu di Dusun Boro, serta peluang pengembangan layanan agen pembayaran terpadu dan kemitraan dengan BUMDes maupun UMKM pemasaran.

Danira menilai keragaman potensi tersebut merupakan modal penting untuk membangun ekosistem ekonomi desa.

"Tidak semua potensi harus dijalankan sekaligus. Yang diperlukan adalah menentukan prioritas, kemudian menghubungkan setiap unit usaha agar saling mendukung dalam satu rantai ekonomi desa," ujarnya.

Sementara itu, Desa Putat Kidul menunjukkan keunggulan pada komoditas kedelai yang selama ini menjadi bahan baku industri tempe dan tahu. Menurut hasil wawancara, masyarakat berharap KDMP dapat mendorong lahirnya usaha pengolahan sehingga produk tidak berhenti pada bahan mentah, tetapi berkembang menjadi makanan siap konsumsi yang memiliki nilai tambah.

Namun, Danira menemukan adanya kekhawatiran dari pengurus KDMP terkait keberlanjutan usaha. Pengalaman mengalami kerugian pada perdagangan sembako, terutama akibat masa kadaluarsa produk yang singkat, membuat mereka lebih berhati-hati dalam menentukan model bisnis.

Menanggapi hal tersebut, Ika Nur Hikmah menilai kehati-hatian tersebut justru menjadi modal penting dalam membangun koperasi yang sehat.

"Kami tidak ingin koperasi hanya berdiri secara administratif, tetapi juga mampu bertahan secara ekonomi. Karena itu, setiap keputusan usaha harus didasarkan pada hasil pemetaan dan analisis kebutuhan masyarakat," katanya.

Di Desa Bulupitu, hasil wawancara menunjukkan kondisi yang relatif serupa dengan Putat Kidul. Aktivitas ekonomi masyarakat masih bertumpu pada sektor pertanian, peternakan, dan budidaya perikanan yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi hasil produksi.

Sementara itu, Desa Sukorejo memiliki karakteristik yang berbeda. Banyaknya pengepul barang rongsok membuka peluang pengembangan industri kreatif berbasis ekonomi sirkular melalui pengolahan barang bekas menjadi produk bernilai ekonomi. Potensi tersebut diperkuat oleh sektor persawahan dan perikanan yang selama ini menjadi penopang utama mata pencaharian masyarakat.

Menurut Danira, keberagaman karakter desa justru menjadi kekuatan apabila dikelola melalui model pengembangan yang saling terhubung.

"Jika Panggungrejo berkembang pada sektor perikanan, Putat Kidul pada industri olahan kedelai, Bulupitu pada pertanian dan peternakan, serta Sukorejo pada ekonomi sirkular, maka akan terbentuk jaringan ekonomi kawasan yang saling melengkapi, bukan saling bersaing," ujarnya.

Ika Nur Hikmah menambahkan, Fatayat NU Gondanglegi akan terus memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi, pemerintah desa, BUMDes, dan pelaku UMKM agar hasil pemetaan ini tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi menjadi dasar penyusunan program pemberdayaan masyarakat.

"Kami berharap lahir model Koperasi Desa Merah Putih yang benar-benar berbasis potensi lokal. Dengan demikian, koperasi bukan hanya menjadi lembaga ekonomi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi masyarakat dalam membangun kemandirian desa," tutur Ika.

Pemetaan potensi desa tersebut menjadi bagian dari desain pengembangan KDMP berbasis Asset-Based Community Development (ABCD). Pendekatan ini menempatkan aset masyarakat sebagai titik awal pembangunan sehingga setiap desa mampu mengembangkan keunggulan komparatifnya, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kawasan yang berkelanjutan, sebagaimana desain yang sudah disiapkan Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif, M. Ag. selaku penggagas Model Segi Tiga Emas.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Fatayat Gondanglegi Petakan Potensi Empat Desa untuk Memperkuat Ekosistem Koperasi Desa Merah Putih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now