"Kami Ingin Mewariskan Bumi yang Lebih Baik untuk Anak Cucu"
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Hamparan sawah hijau yang membentang, aliran air yang jernih, serta perbukitan yang mengelilingi Desa Bulupitu menjadi pemandangan yang menyambut tim peneliti saat melakukan survei lapangan pada Kamis, 23 Juli 2026, di Dusun Krajan, Desa Bulupitu. Berdasarkan titik koordinat dokumentasi lapangan, kawasan ini berada di sekitar VJ85+WCM, Krajan, Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, sebuah wilayah yang dirancang menjadi pusat pengembangan ekonomi baru berbasis sumber daya alam desa.
Di tengah survei tersebut, Kepala Desa Bulupitu, H. Abdul Rokhman, S.Ag., menjelaskan bahwa pemerintah desa sedang menyusun rencana besar untuk memanfaatkan anugerah alam yang dimiliki masyarakat.
"Allah SWT telah memberikan air, sawah, dan tanah yang subur kepada Bulupitu. Amanah kami adalah mengelolanya dengan baik agar menjadi sumber kehidupan masyarakat, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk anak-anak dan cucu kami," tutur H. Abdul Rokhman.
Bagi Kepala Desa yang juga dikenal sebagai seorang pendidik di lingkungan madrasah, pembangunan desa bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi.
"Sebagai guru, saya ingin meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi muda Bulupitu. Mereka harus mewarisi desa yang mandiri, produktif, dan tetap menjaga kelestarian alam. Itulah amanah sebagai khalifah di bumi," tambahnya.
Dalam rencana pengembangan tersebut, salah satu program prioritas adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang memanfaatkan aliran air di kawasan tersebut. Listrik yang dihasilkan nantinya tidak hanya memenuhi kebutuhan energi desa, tetapi juga menjadi penggerak berbagai usaha produktif masyarakat, mulai dari pengolahan hasil pertanian, perikanan, hingga UMKM.
Selain energi terbarukan, pemerintah desa juga menyiapkan kawasan budidaya perikanan terpadu yang dirancang menjadi destinasi wisata edukasi. Konsep yang dikembangkan mengadopsi keberhasilan Desa Ponggok di Klaten, yang dikenal melalui wisata mata air dan perikanannya. Di Bulupitu, kawasan ini direncanakan sebagai "Kampung Mina Bulupitu", sebuah kawasan yang mengintegrasikan kolam ikan, wisata keluarga, edukasi budidaya perikanan, serta pusat ekonomi masyarakat.
Tak jauh dari kawasan tersebut, hamparan sawah yang bertingkat akan dikembangkan menjadi destinasi "Sawah Bulupitu Heritage", sebuah kawasan wisata persawahan yang menggabungkan pertanian padi, budidaya sayuran, jalur edukasi pertanian, dan wisata pedesaan. Konsep ini terinspirasi dari keberhasilan kawasan wisata sawah seperti Terasering Jatiluwih di Bali yang memadukan pertanian produktif dengan pariwisata berbasis lanskap alam.
Menurut H. Abdul Rokhman, kawasan tersebut juga akan menjadi pusat pendukung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kalau nanti pertanian, perikanan, dan energi bisa terintegrasi, maka kebutuhan pangan masyarakat, sekolah, maupun program MBG dapat dipenuhi dari desa sendiri. Nilai tambahnya akan kembali kepada masyarakat Bulupitu," jelasnya.
Selama proses survei lapangan, Ketua KDMP Bulupitu, Hannan Mansyur, turut mendampingi tim peneliti sejak awal hingga akhir kegiatan. Ia optimistis bahwa sinergi antara pemerintah desa, BUMDes, KDMP, perguruan tinggi, dan masyarakat akan mempercepat terwujudnya kawasan ekonomi terpadu di Bulupitu.
"Kami tidak ingin hanya menjual hasil panen. Yang ingin kami bangun adalah ekosistem ekonomi desa, mulai dari produksi, pengolahan, wisata, sampai pemasaran. Dengan begitu manfaat ekonominya akan dirasakan lebih luas oleh masyarakat," ujar Hannan Mansyur.
Hasil survei menunjukkan bahwa Bulupitu memiliki modal yang sangat kuat untuk berkembang sebagai desa berbasis ekonomi hijau. Dukungan sumber daya air yang melimpah, lahan pertanian yang luas, serta kepemimpinan desa yang memiliki visi jangka panjang menjadi fondasi penting bagi lahirnya kawasan ekonomi baru yang mengintegrasikan energi terbarukan, pertanian, perikanan, wisata, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan konsep tersebut, Bulupitu tidak hanya membangun desa untuk masa kini, tetapi juga menyiapkan warisan pembangunan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?