Banner Iklan

Kebut Klasterisasi Ekonomi Desa, Bupati Malang Instruksikan Replikasi Model Gondanglegi: Dampaknya Harus Terukur!

Admin JSN
28 Juli 2026 • 17.07 WIB
Rapat Koordinasi jajaran Pemkab Malang dalam memantapkan langkah pembangunan ekonomi desa berbasis kawasan klaster.

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang kian serius mendongkrak perekonomian desa. Tak lagi menggunakan cara lama yang parsial, Pemkab kini memantapkan langkah pembangunan ekonomi melalui pendekatan klasterisasi kawasan.

Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Bupati Malang dalam Rapat Koordinasi (Rakor) strategis yang digelar pada Senin (27/7/2026). Secara khusus, orang nomor satu di Kabupaten Malang ini menginstruksikan agar kesuksesan model pengembangan ekonomi klaster di Kecamatan Gondanglegi segera direplikasi ke wilayah-wilayah lainnya.

Rakor tersebut dihadiri oleh jajaran penting, mulai dari Sekretaris Daerah (Sekda), Kepala Bappeda, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop UM), sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, tim peneliti, hingga Ketua Forum Pengembang Desa Klaster 1 Gondanglegi. Turut hadir pula para Kepala Desa (Kades) dan Ketua Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang mewakili tujuh desa di Klaster 1 Gondanglegi.

Bangun Ekosistem, Tinggalkan Pembangunan Parsial

Dalam arahannya, Bupati menyoroti pentingnya membangun desa dalam sebuah ekosistem yang terintegrasi. Setiap desa didorong untuk menonjolkan potensi unggulannya agar terbentuk rantai nilai ekonomi yang kuat dan saling melengkapi.

"Kita harus membangun desa dengan pendekatan klaster. Karena itu, saya meminta Dinas Koperasi dan Usaha Mikro untuk segera mengembangkan sistem klasterisasi sebagaimana yang sudah mulai dirancang dan berjalan di Gondanglegi," tegas Bupati Malang.

Model kolaborasi antardesa ini diyakini ampuh untuk mengurangi tumpang tindih program pemerintah, sekaligus membuka keran investasi yang lebih terarah sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.

Riset Jangan Berhenti di Kertas, Manfaat Harus Terukur

Tidak hanya menyoroti soal ekosistem, Bupati juga memberikan instruksi tegas kepada Bappeda dan jajaran OPD untuk mendukung penuh riset dan penelitian pengembangan desa yang saat ini tengah berjalan.

"Penelitian ini jangan berhenti hanya sebagai dokumen akademik di atas meja. Saya berharap seluruh perangkat daerah mendukung penuh agar hasilnya benar-benar aplikatif, menjadi solusi, dan bisa diterapkan dalam program pembangunan daerah," urainya.

Lebih lanjut, Bupati memberikan peringatan warning terkait indikator keberhasilan. Desain pengembangan kawasan dinilai percuma jika hanya bagus secara konsep namun minim dampak nyata.

"Yang paling penting adalah dampaknya dapat diukur. Berapa peningkatan pendapatan masyarakatnya? Berapa lapangan kerja yang tercipta? Bagaimana nilai tambah produk desa itu meningkat? Desain ini harus punya indikator ekonomi yang jelas agar manfaatnya benar-benar dirasakan warga," imbuhnya menekankan.

Disambut Positif Akar Rumput

Instruksi tegas Bupati ini mendapat angin segar dari para pelaku di lapangan. Ketua Forum Pengembang Desa Klaster 1 Gondanglegi menyebut bahwa konsep klasterisasi memang didesain untuk menyatukan visi *One Village One Excellence* ke dalam satu kawasan ekonomi terpadu.

"Setiap desa punya keunggulan beda-beda; ada pertanian, peternakan, perikanan, energi, sampai pengolahan hasil. Kalau semua dihubungkan dalam satu sistem, nilai tambah ekonominya akan jauh melompat dibanding kalau desa jalan sendiri-sendiri," paparnya.

Dukungan senada juga disuarakan oleh para Kades dan Ketua KDMP yang siap bersinergi mengawal kebijakan ini. Rakor ini pun menjadi sinyal kuat bahwa Pemkab Malang tengah tancap gas mengubah wajah ekonomi desa menjadi lebih kolaboratif, produktif, dan membawa kesejahteraan nyata bagi masyarakatnya.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kebut Klasterisasi Ekonomi Desa, Bupati Malang Instruksikan Replikasi Model Gondanglegi: Dampaknya Harus Terukur!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?