MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Tumpukan limbah tak selamanya berakhir menjadi masalah lingkungan. Di sudut Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, deretan karung berisi sampah plastik justru menjadi cikal bakal energi masa depan. Melalui tangan kreatif pemuda setempat dan kolaborasi bersama Pemerintah Desa (Pemdes) serta BUMDes, limbah tersebut berhasil diubah menjadi bahan bakar alternatif berkat inovasi mesin pirolisis.
Mesin pengolah senilai kurang lebih Rp68 juta ini menjadi tonggak baru penerapan ekonomi sirkular di Desa Putukrejo. Proses kerjanya memanfaatkan teknologi pirolisis, di mana sampah plastik yang telah dipilah akan dipanaskan pada suhu tinggi tanpa oksigen di dalam reaktor.
Rantai polimer plastik kemudian terurai menjadi uap hidrokarbon yang didinginkan melalui sistem kondensor. Hasil akhirnya berupa tiga fraksi bahan bakar cair bernilai guna tinggi, yakni bensin ringan (gasoline), minyak tanah (kerosene), dan solar (diesel). Hebatnya lagi, gas hasil pirolisis dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor sehingga proses produksi diklaim sangat hemat energi.
Kepala Desa Putukrejo, Achmad Zainul Achyar, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk komitmen desa dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan sekaligus menekan volume sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Selama ini sampah selalu dipandang sebagai masalah. Kami ingin mengubah cara pandang itu. Sampah plastik justru harus menjadi sumber energi dan sumber pendapatan bagi desa. Dengan teknologi ini, volume sampah berkurang dan biaya pengangkutan juga ikut turun," ujar Achmad saat ditemui di lokasi pengolahan.
Lebih lanjut, Achmad memaparkan bahwa kapasitas mesin saat ini masih bisa dimaksimalkan. Pihaknya membuka pintu kolaborasi dan menargetkan Putukrejo sebagai pusat pengolahan sampah terpadu di kawasan Gondanglegi. "Daripada dibuang atau dibakar, lebih baik diolah menjadi bahan bakar bernilai ekonomi. Kami siap menjadi pusat pengolahan bagi desa-desa di sekitar," tambahnya.
Di sisi lain, Ketua BUMDes Putukrejo memberikan apresiasi tinggi kepada para pemuda desa yang secara mandiri terus belajar mengoperasikan mesin hingga menyempurnakan proses produksi. Ke depannya, ekspansi BUMDes tidak hanya akan berhenti pada plastik. Pengolahan sampah organik juga telah masuk dalam cetak biru (*blueprint*) pengembangan desa.
"Sampah organik jumlahnya jauh lebih besar. Kami menargetkan pengolahan sampah organik menjadi kompos, pupuk organik cair (POC) untuk tanaman hortikultura, hingga budidaya *maggot* BSF sebagai pakan ternak berprotein tinggi," jelas Ketua BUMDes.
Dengan konsep tanpa limbah (*zero waste*), sisa media budidaya *maggot* pun nantinya dapat digunakan kembali sebagai pupuk. Melalui sinergi yang apik antara Pemdes, BUMDes, dan pemuda, Desa Putukrejo kini berdiri sebagai contoh nyata bagaimana inovasi lokal mampu menghadirkan solusi lingkungan sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?