FIB UB Hadirkan Seni sebagai Kritik Sosial di Mini Art Malang #7, Corpus Fractum Wahyu Firdaus Curi Perhatian
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Seni rupa kembali membuktikan perannya bukan sekadar menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menjadi medium refleksi atas berbagai persoalan kemanusiaan. Hal itu ditunjukkan melalui pameran tunggal "Corpus Fractum" karya seniman visual sekaligus tenaga kependidikan Laboratorium Ilmu Humaniora, Studio Seni Rupa Murni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Happy Wahyu Firdaus.
Pameran yang menjadi bagian dari rangkaian Mini Art Malang #7: AKAR ini berlangsung di Ruang Fotografi Lantai 5 Malang Creative Center (MCC) mulai 17 hingga 30 Juli 2026. Pembukaan pameran dilaksanakan pada Jumat (17/7/2026) dan dibuka oleh Judi Wahyudin, S.S., M.Hum., Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI.
Melalui Corpus Fractum, Happy mengajak masyarakat memandang tubuh manusia bukan hanya sebagai entitas biologis, melainkan ruang yang menyimpan pengalaman hidup, luka, trauma, konflik, hingga relasi kuasa yang membentuk kehidupan manusia.
"Corpus Fractum, yang berarti tubuh yang terpecah, menggambarkan kondisi manusia yang terus berhadapan dengan berbagai tekanan sosial, budaya, maupun politik," ujar Happy.
Menurutnya, tubuh menjadi titik awal untuk membaca berbagai persoalan kemanusiaan. Luka yang dihadirkan dalam karya-karyanya tidak selalu bermakna luka fisik, tetapi juga merepresentasikan tekanan mental, ketidakadilan, dominasi, keterasingan, hingga pengalaman traumatis yang sering kali tidak terlihat.
Happy menjelaskan, kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan dapat bekerja secara perlahan melalui sistem sosial, bahasa, kebiasaan, hingga relasi kuasa yang dianggap wajar oleh masyarakat.
Secara visual, karya-karya dalam pameran ini didominasi bentuk organik menyerupai jaringan tubuh dengan tekstur biologis yang menghadirkan kesan rapuh sekaligus penuh tekanan. Pilihan warna merah, putih, hitam, dan abu-abu memperkuat pesan emosional yang ingin disampaikan.
Merah menjadi simbol darah, luka, kemarahan, sekaligus kehidupan. Putih menghadirkan ruang sunyi dan kehampaan, sementara hitam serta abu-abu mempertegas suasana konflik, ketidakpastian, dan tekanan sosial.
Setiap karya tidak hanya menawarkan pengalaman estetis, tetapi juga membuka ruang dialog bagi pengunjung untuk menafsirkan berbagai bentuk kekerasan yang terjadi dalam kehidupan manusia, baik secara langsung maupun melalui sistem sosial yang berlangsung secara struktural.
Keikutsertaan Corpus Fractum dalam Mini Art Malang #7 yang mengusung tema "AKAR" dinilai selaras dengan gagasan yang dibangun Happy. Melalui tubuh, ia mengajak publik menelusuri akar berbagai persoalan sosial, budaya, dan kemanusiaan yang melahirkan konflik serta ketidakadilan.
Alih-alih memberikan jawaban, setiap karya justru membuka ruang refleksi sehingga setiap pengunjung dapat memaknai pengalaman tubuh berdasarkan latar belakang, ingatan, dan pengalaman hidup masing-masing.
Lebih dari sekadar pameran seni, Corpus Fractum menegaskan bahwa seni rupa mampu menjadi medium kritik sosial yang menyentuh persoalan-persoalan kemanusiaan dengan pendekatan yang reflektif dan emosional.
Pameran ini juga menjadi bukti kontribusi sivitas akademika Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya dalam mendukung perkembangan ekosistem seni dan budaya di Kota Malang. Keterlibatan perguruan tinggi dalam ruang publik dinilai penting untuk memperkuat hubungan antara dunia akademik dengan masyarakat melalui karya-karya yang relevan terhadap isu sosial.
"Melalui pameran ini, pengunjung tidak hanya diajak melihat karya seni, tetapi juga berhadapan dengan pertanyaan mengenai tubuhnya sendiri: pengalaman apa yang tersimpan di dalamnya, tekanan apa yang pernah diterima, dan struktur apa yang selama ini membentuk cara manusia hidup serta berhubungan dengan orang lain," ungkap Happy.
Ia menegaskan, Corpus Fractum merupakan ruang perjumpaan antara seni, ingatan, dan kesadaran kritis. Tubuh dalam karya-karyanya menjadi saksi kehidupan sekaligus metafora untuk membaca bagaimana relasi kuasa bekerja dalam kehidupan manusia.
Pameran Corpus Fractum dapat dikunjungi masyarakat setiap hari hingga 30 Juli 2026, pukul 10.00–21.00 WIB, di Ruang Fotografi Lantai 5 Malang Creative Center. Kehadirannya diharapkan menjadi ruang apresiasi seni sekaligus refleksi bagi publik terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang kerap luput dari perhatian. Ans



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?