MALANG | JATIMSATUNEWS .COM: Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menunjukkan komitmennya sebagai pusat pengembangan teori, model, dan inovasi Manajemen Pendidikan Islam melalui lahirnya sebuah paradigma baru dalam bidang manajemen pelayanan pendidikan Islam. Dalam Ujian Promosi Doktor yang diselenggarakan pada Senin, 6 Juli 2026, Dr. Sulaiha Annisyaroh berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Strategi Excellent Service Madrasah dalam Meningkatkan Kepuasan Stakeholders Pendidikan (Studi Kasus di MTsN 1 Sampang)."
Berangkat dari Kegelisahan Akademik terhadap Aksesibilitas Pendidikan Berkeadilan
Riset ini berangkat dari kegelisahan akademik terhadap tantangan pendidikan Indonesia yang tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan mutu (quality), tetapi juga pada pemerataan kesempatan (equity), aksesibilitas (accessibility), inklusivitas (inclusion), dan keberlanjutan (sustainability) layanan pendidikan. Meskipun berbagai kebijakan telah diarahkan pada penguatan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, transformasi digital, dan sistem penjaminan mutu, pendidikan yang berkualitas belum sepenuhnya dapat dinikmati secara merata oleh seluruh anak bangsa. Di berbagai wilayah, terutama kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), daerah kepulauan, pesisir, maupun wilayah dengan keterbatasan infrastruktur, masih terdapat hambatan geografis, ekonomi, dan sosial yang membatasi akses masyarakat terhadap layanan pendidikan. Persoalan tersebut menjadi perhatian dunia melalui Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4 yang menegaskan pentingnya mewujudkan pendidikan berkualitas, inklusif, dan berkeadilan (inclusive and equitable quality education), sejalan dengan amanat Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Tantangan tersebut juga menjadi realitas yang dihadapi banyak madrasah, termasuk di wilayah Madura, yang tidak hanya dituntut meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi juga menghadirkan pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memperluas akses pendidikan, serta membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, pelayanan pendidikan tidak lagi cukup dipahami sebagai aktivitas administratif, melainkan harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengelolaan lembaga untuk menjamin aksesibilitas pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkeadilan. Berangkat dari kegelisahan akademik inilah penelitian ini dilakukan untuk mengkaji secara lebih mendalam bagaimana strategi excellent service dapat dikembangkan dalam pengelolaan madrasah guna menjawab tantangan pendidikan Islam kontemporer.
MTsN 1 Sampang sebagai Information-Rich Case
Dalam penelitian kualitatif, pemilihan lokasi didasarkan pada prinsip information-rich case, yaitu lokasi yang mampu memberikan informasi mendalam mengenai fenomena yang diteliti. Atas dasar itu, MTsN 1 Sampang dipilih karena menunjukkan praktik terbaik (best practice) dalam pengelolaan pelayanan pendidikan Islam sekaligus menghadapi tantangan yang relevan dengan konteks pendidikan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, madrasah ini menunjukkan perkembangan yang signifikan, ditandai dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat, bertambahnya jumlah peserta didik, meningkatnya prestasi akademik dan nonakademik, penguatan budaya religius, pemanfaatan teknologi informasi, serta kemitraan yang erat dengan orang tua dan masyarakat. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi memilih madrasah semata-mata karena prestasi akademik, tetapi juga karena kualitas pelayanan yang dirasakan secara langsung.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya pergeseran paradigma dalam pengelolaan lembaga pendidikan, di mana kualitas pelayanan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan masyarakat. Berbagai inovasi yang dikembangkan MTsN 1 Sampang, termasuk pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan orang tua dan peserta didik serta penyediaan layanan antar-jemput bagi wilayah dengan keterbatasan akses transportasi, menunjukkan bahwa pelayanan tidak hanya berorientasi pada kepuasan stakeholder, tetapi juga menjadi upaya memperluas aksesibilitas pendidikan. Karakteristik inilah yang menjadikan MTsN 1 Sampang sebagai information-rich case yang tepat untuk mengkaji bagaimana strategi excellent service dapat dikembangkan dalam memperkuat akses pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan an berkeadilan.
Humanistic Islamic Values sebagai Fondasi Budaya Pelayanan
Salah satu temuan penting penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelayanan di MTsN 1 Sampang tidak hanya ditentukan oleh standar operasional prosedur (SOP), tetapi terutama oleh internalisasi Humanistic Islamic Values yang berkembang menjadi budaya organisasi. Nilai-nilai amanah, ihsan, raḥmah, 'adl, ikhlas, ta'awun, itqan, dan orientasi pada kemaslahatan menjadi landasan perilaku seluruh warga madrasah dalam memberikan pelayanan kepada peserta didik, orang tua, dan masyarakat. Dengan demikian, pelayanan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai amanah yang dilaksanakan secara profesional, humanis, dan berorientasi pada nilai-nilai Islam.
Implementasi nilai-nilai tersebut tercermin dalam kepemimpinan yang melayani (servant leadership), pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter (tarbiyah dan ta'dib), serta pelayanan administrasi yang cepat, ramah, transparan, dan berkeadilan. Budaya pelayanan ini mampu membangun rasa percaya, kenyamanan, dan kepuasan stakeholder sehingga mendorong meningkatnya loyalitas orang tua, citra positif madrasah, serta kepercayaan masyarakat.
Sintesis Tiga Temuan Melahirkan ARISE Model
Berdasarkan analisis terhadap tiga fokus penelitian, menghasilkan konsep baru yang saling melengkapi. Fokus pertama, strategi excellent service madrasah, melahirkan dua konsep utama, yaitu Accessible Educational Service (A) yang menekankan kemudahan akses pendidikan melalui penyederhanaan layanan, keterbukaan informasi, pemanfaatan teknologi, dan inovasi pelayanan, serta Responsive Service Management (R) yang menekankan pelayanan yang cepat, adaptif, solutif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik, orang tua, serta masyarakat. Fokus kedua, implementasi Humanistic Islamic Values, melahirkan konsep Islamic Humanistic Values (I), yaitu internalisasi nilai amanah, ihsan, raḥmah, 'adl, ikhlas, ta'awun, dan itqan sebagai budaya organisasi yang mewarnai kepemimpinan, proses pembelajaran, maupun pelayanan administrasi.
Sementara itu, fokus ketiga, implikasi excellent service terhadap kepuasan stakeholder, menghasilkan dua konsep penguat, yaitu Stakeholder Trust (S) dan Educational Sustainability (E). Penelitian menunjukkan bahwa pelayanan yang berkualitas tidak berhenti pada kepuasan stakeholder, tetapi berkembang menjadi kepercayaan, loyalitas, citra positif madrasah, serta budaya pelayanan yang berkelanjutan melalui evaluasi, inovasi, dan continuous improvement. Dengan demikian, kepuasan stakeholder dipahami sebagai tahapan awal dalam membangun kepercayaan publik yang menopang keberlanjutan mutu lembaga.
Sintesis kelima konsep tersebut melahirkan Accessible Responsive Islamic Service Excellence (ARISE) Model, yaitu paradigma baru Manajemen Pelayanan Madrasah yang mengintegrasikan Accessible Educational Service, Responsive Service Management, Islamic Humanistic Values, Stakeholder Trust, dan Educational Sustainability dalam satu sistem yang utuh. Berbeda dengan teori SERVQUAL Parasuraman yang berorientasi pada kualitas layanan dan kepuasan pelanggan, ARISE Model merekonstruksi makna excellent service dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam. Pelayanan tidak lagi diposisikan sebagai fungsi administratif atau sekadar strategi meningkatkan kepuasan stakeholder, tetapi sebagai strategi kelembagaan untuk memperluas aksesibilitas pendidikan, memperkuat budaya mutu berbasis nilai-nilai Islam, membangun kepercayaan masyarakat, serta menjamin keberlanjutan lembaga. Dengan demikian, ARISE Model menjadi kontribusi baru bagi Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam sekaligus menawarkan kerangka implementatif yang dapat direplikasi oleh madrasah dan sekolah Islam dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Perspektif Islam: Excellent Service sebagai Amanah dan Kemaslahatan
Dalam perspektif Islam, pelayanan (khidmah) bukan sekadar aktivitas administratif, tetapi merupakan amanah yang bernilai ibadah dan berorientasi pada kemaslahatan. Oleh karena itu, keberhasilan pelayanan pendidikan tidak hanya diukur dari kepuasan stakeholder, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan keadilan, memuliakan martabat manusia (karāmah al-insān), serta memperluas kesempatan setiap peserta didik memperoleh pendidikan yang bermutu. Prinsip tersebut sejalan dengan QS. An-Nahl [16]:90 tentang keadilan dan ihsan, QS. Al-Mā'idah [5]:2 tentang ta'āwun, serta sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Nilai amanah, ihsan, raḥmah, 'adl, ikhlas, ta'āwun, dan itqān menjadi fondasi Humanistic Islamic Values yang menghidupkan budaya pelayanan di MTsN 1 Sampang sehingga pelayanan menjadi bagian dari ibadah sekaligus strategi menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Perspektif Filosofis dan Kontribusi Keilmuan
Secara filosofis, penelitian ini merekonstruksi makna excellent service dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam. Secara ontologis, pelayanan dipahami sebagai strategi membangun ekosistem pendidikan yang humanis, inklusif, dan berkeadilan. Secara epistemologis, penelitian ini mengembangkan teori SERVQUAL Parasuraman melalui integrasi lima dimensi ARISE, yaitu Accessible Educational Service, Responsive Service Management, Islamic Humanistic Values, Stakeholder Trust, dan Educational Sustainability. Secara aksiologis, model ini memberikan manfaat sebagai pedoman pengembangan budaya pelayanan bagi madrasah, rujukan kebijakan bagi pemerintah, serta kontribusi baru terhadap Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam.
Kontribusi utama penelitian ini terletak pada rekonstruksi paradigma pelayanan pendidikan Islam, yaitu dari customer satisfaction menuju educational accessibility, dari service quality menuju humanistic Islamic service, dari administrative service menuju educational service system, dari leader-based service menuju institutionalized service culture, serta dari short-term satisfaction menuju sustainable stakeholder trust. Pergeseran paradigma tersebut menempatkan pelayanan sebagai strategi kelembagaan untuk memperkuat mutu, aksesibilitas, karakter, dan keberlanjutan pendidikan Islam.
Implikasi bagi Kebijakan Pendidikan
Temuan penelitian ini memberikan implikasi strategis bagi pengembangan kebijakan pendidikan, khususnya dalam penguatan standar pelayanan pendidikan. Di samping peningkatan mutu akademik, lembaga pendidikan perlu memastikan kemudahan akses, pelayanan yang profesional dan berbasis nilai, penguatan kepercayaan masyarakat, serta pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Dalam konteks tersebut, ARISE Model dapat menjadi salah satu referensi bagi madrasah, sekolah Islam, pesantren, maupun lembaga pendidikan lainnya dalam mengembangkan sistem pelayanan yang berkualitas, inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Ketua Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., mengapresiasi penelitian ini sebagai kontribusi penting bagi pengembangan teori dan praktik Manajemen Pendidikan Islam. Menurut beliau, ARISE Model berhasil memperluas makna excellent service dari sekadar peningkatan kepuasan stakeholder menjadi strategi kelembagaan untuk memperkuat aksesibilitas pendidikan, budaya mutu, kepercayaan masyarakat, dan keberlanjutan layanan pendidikan berbasis Humanistic Islamic Values. Beliau berharap model ini dapat menjadi referensi bagi madrasah dan lembaga pendidikan Islam dalam membangun budaya pelayanan yang profesional, humanis, adaptif, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Lahirnya Accessible Responsive Islamic Service Excellence (ARISE) Model menegaskan bahwa riset doktoral tidak hanya menghasilkan gelar akademik, tetapi juga melahirkan paradigma, model, dan inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata pendidikan Indonesia. Di tengah tuntutan peningkatan mutu, pemerataan akses, transformasi pelayanan publik, dan penguatan karakter bangsa, ARISE menawarkan perspektif baru bahwa excellent service merupakan strategi kelembagaan untuk mewujudkan aksesibilitas pendidikan yang berkualitas, inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Melalui penelitian ini, Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan teori dan inovasi yang tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi transformasi pendidikan Islam dan pembangunan pendidikan nasional menuju Indonesia Emas 2045.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?