![]() |
| Menjelang Muktamar NU, Gus Thoriq mengajak seluruh warga nahdliyin menjaga ukhuwah, memperkuat persatuan, dan mengedepankan musyawarah demi kemajuan jam'iyah. |
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM
Malang – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), berbagai dinamika dan perbincangan mulai berkembang di tengah warga nahdliyin. Menyikapi hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama, KH. Thoriq Bin Ziyad atau yang akrab disapa Gus Thoriq, mengajak seluruh elemen NU untuk tetap menjaga persatuan dan tidak terjebak dalam perbedaan yang berpotensi memecah belah organisasi.
Menurut Gus Thoriq, NU merupakan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang telah berdiri selama hampir satu abad dan memiliki sejarah panjang dalam menjaga keutuhan bangsa. Oleh karena itu, setiap momentum Muktamar harus dipandang sebagai sarana untuk memperkuat persaudaraan, mempererat ukhuwah, serta melahirkan gagasan-gagasan terbaik bagi kemajuan organisasi dan kemaslahatan umat.
"NU itu satu. Jangan sampai perbedaan pandangan, pilihan, maupun aspirasi menjelang Muktamar justru memperlebar jarak di antara sesama warga nahdliyin. Perbedaan adalah hal yang wajar, tetapi persatuan harus tetap menjadi prioritas utama," ujar Gus Thoriq.
Ia menjelaskan bahwa sejak didirikan oleh para muassis NU, organisasi ini dibangun di atas nilai-nilai kebersamaan, musyawarah, dan penghormatan terhadap perbedaan pendapat. Tradisi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama NU yang mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan zaman, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern saat ini.
Gus Thoriq menilai bahwa dinamika menjelang Muktamar merupakan sesuatu yang lumrah dalam organisasi besar. Beragam pandangan dan aspirasi yang muncul hendaknya dijadikan energi positif untuk membangun organisasi yang lebih kuat dan semakin relevan dalam menjawab kebutuhan umat. Namun demikian, ia mengingatkan agar seluruh pihak tetap menjaga etika organisasi dan mengedepankan semangat persaudaraan.
Menurutnya, NU tidak boleh terjebak dalam konflik internal yang berkepanjangan. Sebaliknya, seluruh kader dan warga nahdliyin harus mampu menunjukkan kedewasaan dalam berorganisasi dengan menjunjung tinggi keputusan musyawarah serta menghormati hasil yang nantinya ditetapkan dalam forum Muktamar.
"Muktamar adalah forum tertinggi organisasi yang harus dijaga marwahnya. Siapapun yang nantinya dipercaya memimpin NU harus mendapatkan dukungan dari seluruh elemen organisasi demi keberlangsungan perjuangan para ulama dan pendiri NU," katanya.
Lebih lanjut, Gus Thoriq menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia saat ini jauh lebih besar dibandingkan perbedaan pandangan yang muncul di internal organisasi. Karena itu, energi warga nahdliyin seharusnya difokuskan pada upaya memperkuat pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi umat, serta menjaga nilai-nilai kebangsaan yang selama ini menjadi komitmen NU.
Ia juga mengajak generasi muda NU untuk aktif mengambil peran dalam menjaga persatuan organisasi. Menurutnya, kader-kader muda harus mampu menjadi teladan dalam membangun komunikasi yang baik, menyebarkan narasi persatuan, serta menghindari provokasi yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat.
"Mari kita jadikan Muktamar sebagai momentum memperkuat jam'iyah, mempererat ukhuwah, dan melanjutkan perjuangan para ulama. Jangan sampai perbedaan yang ada justru mengurangi semangat pengabdian kita kepada umat, bangsa, dan negara," tegasnya.
Menjelang Muktamar mendatang, Gus Thoriq berharap seluruh warga NU tetap menjaga kondusivitas, memperbanyak silaturahmi, serta mengedepankan sikap saling menghormati. Dengan demikian, Muktamar tidak hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat peran Nahdlatul Ulama sebagai penjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan pilar persatuan bangsa.
Di akhir keterangannya, Gus Thoriq kembali mengingatkan bahwa kekuatan terbesar NU terletak pada persatuan warganya. Karena itu, seluruh pihak diharapkan mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
"NU adalah rumah besar kita bersama. Mari kita jaga dengan penuh tanggung jawab, menjaga persatuan, memperkuat kebersamaan, dan terus melanjutkan perjuangan para ulama untuk kemaslahatan umat dan bangsa," pungkasnya.(SA)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?