Banner Iklan

SEREMONI TANPA AKSI: Refleksi Kritis Hari Lingkungan Hidup Sedunia_dari Perspektif Seorang Pecinta Bahasa, Pecinta Bumi

Anis Hidayatie
05 Juni 2026 | 10.25 WIB Last Updated 2026-06-05T03:26:05Z


SEREMONI TANPA AKSI: Refleksi Kritis Hari Lingkungan Hidup Sedunia_dari Perspektif Seorang Pecinta Bahasa, Pecinta Bumi

Oleh: Dr. Nur Hasaniyah, S. Ag., M.A.

 

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: 

Setiap 5 Juni, langit media sosial mendadak menghijau. Poster-poster cantik bermunculan, tagar-tagar bergerak, pidato-pidato bergema. Semuanya tentang bumi, tentang alam, tentang masa depan. Lalu, tanggal 6 Juni tiba — dan segalanya kembali seperti semula.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang diperingati tiap 5 Juni, sejatinya adalah momentum sakral. Ia lahir dari kepanikan kolektif umat manusia terhadap kerusakan ekosistem yang semakin mengkhawatirkan. Namun kini, di tengah euforia peringatan, satu pertanyaan pahit perlu kita ajukan dengan lantang: apakah kita benar-benar merayakan bumi, atau hanya merayakan diri kita sendiri yang merasa sudah peduli?

Ketika Kata-Kata Lebih Hijau dari Tindakan.

Tema Hari Lingkungan Hidup 2026, "Inspired by Nature, For Climate, For Our Future," adalah kalimat yang indah — sebagaimana indahnya syair Arab klasik yang mudah dilantunkan namun berat diamalkan. 

Dalam ilmu retorika Arab, ada istilah yang sangat relevan di sini:


الكلامُ سَهْلٌ، والفِعْلُ صَعْبٌ

Pepatah Arab Klasik — "Berkata-kata itu mudah, berbuat itu sulit"


Sudah berapa dekade tema-tema serupa dikumandangkan? Sudah berapa banyak deklarasi lingkungan ditandatangani? Namun data berbicara pahit: emisi karbon global justru terus meningkat. Suhu bumi terus menanjak. Hutan-hutan terus berkurang. Laut terus dipenuhi plastik. Seremoni berganti seremoni, sementara bumi menangis tanpa henti.

Di Jawa Timur sendiri — provinsi yang menjadi rumah bagi jutaan jiwa dan kekayaan alam yang luar biasa — laporan demi laporan mencatat pencemaran sungai yang makin parah, alih fungsi lahan yang tak terkendali, dan sampah yang menggunung. 

Ironis, di tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Lingkungan Hidup, bumi Jatim justru sedang menjerit.


Amanah Khalifah yang Terlupakan.

Sebagai seorang yang hidup dalam khazanah ilmu bahasa dan sastra Arab, saya tidak bisa tidak membawa perspektif Al-Qur'an ke dalam diskusi ini. Jauh sebelum PBB mendeklarasikan Hari Lingkungan Hidup pada 1972, Islam telah menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh — penjaga dan pengelola bumi, bukan pemilik yang bebas mengeksploitasinya.

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً

(QS. Al-Baqarah: 30) — "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi...'"

 

Kata khalifah dalam tradisi tafsir Arab bermakna al-na'ib — wakil atau pengganti. Artinya, bumi ini bukan milik manusia; ia hanyalah titipan. Manusia adalah penjaga, bukan tuan. Namun lihat bagaimana kita mengelola titipan itu: hutan dibakar demi perkebunan, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, udara dipenuhi asap industri.

Allah Ta'ala bahkan secara eksplisit melarang perusakan bumi dalam firman-Nya:

 

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا

(QS. Al-A'raf: 56) — "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik..."

 

Ayat ini bukan sekadar seruan moral yang bisa diabaikan. Ini adalah perintah teologis yang mengikat. Kerusakan lingkungan, dalam optik Islam, bukan sekadar masalah ekologi — ia adalah dosa. Ia adalah pengkhianatan terhadap amanah ilahi.

 

*Fasad: Kerusakan yang Kita Ciptakan Sendiri*

Al-Qur'an menggunakan kata fasad (فساد) — kerusakan — dalam konteks yang sangat luas, termasuk kerusakan alam. Dan yang paling menggetarkan, Al-Qur'an dengan terang-terangan menyebut siapa pelakunya:

 

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ

(QS. Ar-Rum: 41) — "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia..."

 

Bima kasabat aydiin naas — disebabkan perbuatan tangan manusia. Tidak ada yang bisa disalahkan selain diri kita sendiri. Banjir bandang bukan semata bencana alam; ia adalah akumulasi deforestasi. Kekeringan bukan kutukan langit; ia adalah buah dari eksploitasi air tanah yang tak berkelanjutan. Krisis iklim bukan takdir; ia adalah konsekuensi logis dari keserakahan industri yang kita diam-diami.

Rasulullah 'Alaihissalam juga telah lama memberikan teladan nyata dalam menjaga lingkungan. Dalam sebuah hadits yang sangat populer namun sering dilupakan maknanya:

 

إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمَالَ، نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ

HR. Tirmidzi — "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan"


Kebersihan dan keindahan bukan hanya soal estetika pribadi. Ia adalah refleksi iman. Sungai yang tercemar, sampah yang berserakan, udara yang beracun — semua itu adalah cermin dari kebersihan batin kita yang sedang sakit.

Lebih jauh, Rasulullah bersabda tentang pentingnya menanam dan menghijaukan bumi:

 

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

HR. Ahmad & Bukhari (dalam Al-Adab Al-Mufrad) — "Jika hari kiamat tiba, sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon kurma, maka jika ia masih sempat menanamnya sebelum kiamat benar-benar datang, hendaklah ia tanamkan."

 

Hadits ini bukan hanya tentang optimisme. Ia adalah manifesto ekologis Islam: bahwa menjaga bumi adalah ibadah yang tidak mengenal kata terlambat, tidak menunggu momentum, tidak butuh seremoni tahunan.

Bahasa yang Membohongi Kita.

Sebagai pemerhati bahasa, saya melihat fenomena yang sangat menarik sekaligus mengkhawatirkan: bahasa lingkungan hidup telah mengalami komodifikasi. Kata-kata seperti "hijau", "sustainable", "ramah lingkungan", "go green" telah menjadi label marketing belaka.

Dalam ilmu semantik Arab, ada konsep al-majaz (المجاز) — makna kiasan yang jauh dari realitas. Sayangnya, itulah yang terjadi pada wacana lingkungan hidup kita hari ini. Kata-kata "peduli lingkungan" telah menjadi majaz belaka — kiasan kosong yang diucapkan tanpa substansi.

Perusahaan-perusahaan besar memasang spanduk hijau saat Hari Lingkungan Hidup, sementara cerobong pabrik mereka tak pernah berhenti menyemburkan polutan. Pemerintah daerah mengadakan upacara penanaman pohon yang difoto, sementara izin alih fungsi hutan terus ditandatangani di balik meja. Inilah yang disebut greenwashing — manipulasi linguistik atas nama kepedulian.

*Tema 2026: Saatnya Bekerja untuk Iklim — Sungguhkah???...*

Tema nasional tahun ini, "Saatnya Bekerja untuk Iklim," adalah ajakan yang sangat tepat — seandainya kita benar-benar mau bekerja. Kata saatnya mengandung urgensi temporal: sekarang, bukan nanti. Bekerja mengandung tuntutan aksi nyata: bukan sekadar berteriak, tapi bertindak.

Maka mohon izinkan untuk mengusulkan agenda kerja nyata yang jauh lebih bermakna dari sekadar merayakan:

مَنْ زَرَعَ أَرْضاً، فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

HR. Bukhari — "Barangsiapa menghidupkan (menggarap) sebidang tanah, maka dialah yang paling berhak atasnya" — dalam konteks: ia yang benar-benar merawat bumi.

_Pertama,_ hentikan hukuman yang permisif terhadap perusak lingkungan. Selama sanksi bagi pelaku pembuangan limbah ilegal, pembalak liar, dan penambang pasir tanpa izin masih ringan dan tak efektif, seruan "bekerja untuk iklim" hanya akan menjadi slogan.

_Kedua,_ integrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum secara substantif — bukan hanya sebagai mata pelajaran hafalan, tapi sebagai pembentukan karakter ekologis sejak dini. Lembaga pendidikan seperti Adiwiyata seharusnya menjadi model budaya, bukan sekadar ajang lomba.

_Ketiga,_ kembalikan kearifan lokal. Leluhur kita punya tradisi menjaga alam yang jauh lebih efektif dari sekadar poster digital. Pamali, sasi, subak, dan berbagai kearifan. Nusantara adalah warisan ekologi yang patut direvitalisasi.

 

*Penutup: Dari Kata ke Kerja, dari Seremoni ke Aksi.*

Dalam tradisi akademik Arab dan Islam, ada prinsip yang sangat agung yang sering disebut dalam diskursus etika ilmu:

 

العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ

Pepatah Arab — "Ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tak berbuah"

 

Kita boleh tahu banyak tentang perubahan iklim, kita boleh hafal seluruh data karbon dioksida atmosfer, kita boleh fasih berbicara tentang biodiversitas — tetapi semua itu tidak ada nilainya tanpa amal, tanpa tindakan nyata.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah undangan. Bukan undangan untuk berpesta, tapi undangan untuk bermuhasabah — introspeksi kolektif atas dosa-dosa ekologis kita. Ia adalah momen untuk kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah aku lakukan untuk bumi ini, bukan hanya hari ini, tapi sepanjang hidupku?

Al-Qur'an menutup firman-Nya tentang kerusakan bumi dengan kalimat yang penuh harap:

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

(QS. Ar-Rum: 41) — "...agar mereka kembali (ke jalan yang benar)"

 

La'allahum yarji'un — semoga mereka kembali. Kembali dari keserakahan, kembali dari kelalaian, kembali dari seremoni tanpa aksi. Bumi masih memberikan kita kesempatan untuk kembali. Pertanyaannya: apakah kita mau?

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2026. Semoga bukan hanya selamat yang kita ucapkan — tapi selamat bumi yang kita wujudkan.


*Penulis adalah Dosen Bahasa dan Sastra Arab, PPsbPendidikan Bahasa Arab, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Pecinta lingkungan hidup dan pemerhati ekologi berbasis nilai-nilai Islam.

#SaatnyaBekerjaUntukIklim #HariLingkunganHidupSedunia #SatuBumiUntukMasaDepan


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • SEREMONI TANPA AKSI: Refleksi Kritis Hari Lingkungan Hidup Sedunia_dari Perspektif Seorang Pecinta Bahasa, Pecinta Bumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now