SEMARANG | JATIMSATUNEWS: Di tengah menghangatnya wacana Reformasi Jilid II yang ramai diperbincangkan di berbagai ruang publikdan media sosial, sekelompok mahasiswa, akademisi, aktivis, hingga budayawan di Kota Semarang memilih jalan yang berbeda. Alih-alih turun ke jalan, mereka duduk bersama dalamsatu forum terbuka untuk menguji gagasan, mempertanyakankebijakan, dan membedah masa depan bangsa melaluiargumentasi yang rasional.
Suasana itu tampak dalam forum diskusi bertajuk BicaraMerdeka: Reformasi Jilid II yang digelar RMOLJateng di Hans Kopi Veteran, Semarang, Sabtu (20/6/2026). Ruang yang biasanya menjadi tempat menikmati secangkir kopi disulapmenjadi arena dialektika, tempat beragam perspektif bertemudan dipertukarkan secara terbuka.
Forum tersebut menghadirkan Waketum Luar Negeri EN Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) EvantioYudhistira, Presiden BEM Politeknik Negeri Semarang (Polines) Kevin Kurnia Priambodo, akademisi sekaligus Pengamat Politik Universitas Diponegoro (Undip) Nur Hidayat Sardini, sertabudayawan Beno Siang Pamungkas. Diskusi dipandu oleh moderator Edhi Prayitno Ige.
Dalam pemaparannya, Evantio Yudhistira menyoroti tantanganyang dihadapi masyarakat di era digital. Menurutnya, derasnyaarus informasi yang dikendalikan algoritma media sosial seringkali membentuk persepsi yang tidak utuh terhadap realitas.
“Kita harus melihat situasi secara objektif. Jangan sampai kitatermakan algoritma atau emosi yang terus-menerusmenampilkan keburukan. Kita harus melihat secara menyeluruhapa yang dilakukan negara saat ini,” ujar Evantio.
Menurutnya, ruang-ruang diskusi yang sehat dan ilmiah menjadikebutuhan penting bagi bangsa saat ini. Di tengah polarisasiyang semakin mudah muncul akibat informasi yang terfragmentasi, forum diskusi dinilai mampu menjadi saranamempertemukan berbagai kelompok masyarakat untuk mencarititik temu bersama.
Evantio juga menekankan pentingnya persatuan nasional dalammengawal berbagai program pembangunan. Ia menilaimahasiswa, petani, nelayan, dan berbagai elemen masyarakatlainnya harus berada dalam satu barisan perjuangan yang samauntuk memastikan kebijakan negara benar-benar berpihakkepada rakyat.
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya penguatan implementasiPasal 33 UUD 1945 dalam pengelolaan sumber daya alamnasional.
“Selama ini kekayaan alam kita terlalu lama dieksploitasi oleh kepentingan imperialis dan oligarki. Momentum ini harusmenjadi titik balik agar sumber daya bangsa bisa dinikmatiuntuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Di sisi lain, Pengamat Politik Undip Nur Hidayat Sardini memberikan catatan kritis terhadap kondisi ruang publik di Semarang. Ia menilai forum-forum yang secara seriusmembahas komitmen kebangsaan dan arah pembangunan masihrelatif minim.
“Di Semarang masih sangat sedikit forum yang secara seriusmembedah komitmen kita terhadap perbaikan kehidupanbermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ungkapnya.
Sebagai akademisi, Nur Hidayat menekankan bahwa kritikterhadap pemerintah harus dibangun di atas analisis yang rasional dan berbasis data. Ia mencontohkan program KoperasiMerah Putih yang menurutnya tidak perlu diposisikan dalamkerangka mendukung atau menolak, melainkan dievaluasi darisisi tata kelola dan efektivitas pelaksanaannya.
“Bukan soal mendukung atau menolak, tetapi bagaimana tata kelola program itu diperbaiki. Harus jelas siapa sasaranpenerima manfaat, bagaimana rekrutmen operatornya, sertabagaimana distribusinya agar tepat sasaran,” jelasnya.
Menurut Nur Hidayat, pelibatan institusi sosial seperti sekolahdan komunitas lokal menjadi penting agar berbagai program pemerintah tidak berhenti sebagai kebijakan administratifsemata, melainkan benar-benar memberikan dampak nyata bagimasyarakat.
Ia juga menyoroti efektivitas penggunaan anggaran negara, termasuk dalam penanganan stunting. Menurutnya, fokus utamapemerintah seharusnya diarahkan pada kebutuhan paling mendasar, khususnya pada periode 1.000 hari pertamakehidupan anak yang menjadi fase krusial dalam pembentukankualitas sumber daya manusia.
Diskusi semakin dinamis ketika Presiden BEM Polines Kevin Kurnia Priambodo dan budayawan Beno Siang Pamungkas turutmenyampaikan pandangan mereka mengenai peran generasimuda dalam menjaga kualitas demokrasi serta pentingnya ruangdialog yang terbuka bagi seluruh elemen bangsa.
Bagi para peserta, Reformasi Jilid II tidak cukup dipahamisebagai slogan politik atau sekadar seruan perubahan. Reformasi harus diwujudkan melalui keberanian menguji gagasan, mengkritisi kebijakan, dan membangun kesadaran kolektif untukmemperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui forum Bicara Merdeka, para peserta menunjukkanbahwa perbedaan pandangan tidak selalu harus berujung pada konflik. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi energi untukmelahirkan solusi yang lebih matang melalui pertukaran ide yang sehat dan konstruktif.
Dari sebuah kedai kopi di Kota Semarang, pesan itudisampaikan dengan jelas: di tengah memanasnya perdebatanmengenai Reformasi Jilid II, nalar kritis masih hidup, dan mahasiswa memilih mengawalnya melalui adu gagasan daripadasekadar turun ke jalan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?