Banner Iklan

Saat Isu Reformasi Jilid II Memanas, Mahasiswa Semarang Justru Pilih Adu Gagasan daripada Turun ke Jalan

Anis Hidayatie
21 Juni 2026 | 08.39 WIB Last Updated 2026-06-21T01:39:45Z

 

Mahasiswa Semarang Membahas Isu Aktif Reformasi Jilid 2 Ketimbang Turun Aksi ke Jalan

SEMARANG | JATIMSATUNEWS: Di tengah menghangatnya wacana Reformasi Jilid II yang ramai diperbincangkan di berbagai ruang publikdan media sosialsekelompok mahasiswaakademisiaktivishingga budayawan di Kota Semarang memilih jalan yang berbeda. Alih-alih turun ke jalanmereka duduk bersama dalamsatu forum terbuka untuk menguji gagasanmempertanyakankebijakan, dan membedah masa depan bangsa melaluiargumentasi yang rasional.

Suasana itu tampak dalam forum diskusi bertajuk BicaraMerdeka: Reformasi Jilid II yang digelar RMOLJateng di Hans Kopi Veteran, Semarang, Sabtu (20/6/2026). Ruang yang biasanya menjadi tempat menikmati secangkir kopi disulapmenjadi arena dialektikatempat beragam perspektif bertemudan dipertukarkan secara terbuka.

Forum tersebut menghadirkan Waketum Luar Negeri EN Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) EvantioYudhistira, Presiden BEM Politeknik Negeri Semarang (Polines) Kevin Kurnia Priambodo, akademisi sekaligus Pengamat Politik Universitas Diponegoro (Undip) Nur Hidayat Sardini, sertabudayawan Beno Siang Pamungkas. Diskusi dipandu oleh moderator Edhi Prayitno Ige.

Dalam pemaparannyaEvantio Yudhistira menyoroti tantanganyang dihadapi masyarakat di era digital. Menurutnyaderasnyaarus informasi yang dikendalikan algoritma media sosial seringkali membentuk persepsi yang tidak utuh terhadap realitas.

“Kita harus melihat situasi secara objektifJangan sampai kitatermakan algoritma atau emosi yang terus-menerusmenampilkan keburukan. Kita harus melihat secara menyeluruhapa yang dilakukan negara saat ini,” ujar Evantio.

Menurutnyaruang-ruang diskusi yang sehat dan ilmiah menjadikebutuhan penting bagi bangsa saat ini. Di tengah polarisasiyang semakin mudah muncul akibat informasi yang terfragmentasi, forum diskusi dinilai mampu menjadi saranamempertemukan berbagai kelompok masyarakat untuk mencarititik temu bersama.

Evantio juga menekankan pentingnya persatuan nasional dalammengawal berbagai program pembangunanIa menilaimahasiswapetaninelayan, dan berbagai elemen masyarakatlainnya harus berada dalam satu barisan perjuangan yang samauntuk memastikan kebijakan negara benar-benar berpihakkepada rakyat.

Lebih jauhia menyoroti pentingnya penguatan implementasiPasal 33 UUD 1945 dalam pengelolaan sumber daya alamnasional.

 

“Selama ini kekayaan alam kita terlalu lama dieksploitasi oleh kepentingan imperialis dan oligarki. Momentum ini harusmenjadi titik balik agar sumber daya bangsa bisa dinikmatiuntuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Di sisi lain, Pengamat Politik Undip Nur Hidayat Sardini memberikan catatan kritis terhadap kondisi ruang publik di Semarang. Ia menilai forum-forum yang secara seriusmembahas komitmen kebangsaan dan arah pembangunan masihrelatif minim.

“Di Semarang masih sangat sedikit forum yang secara seriusmembedah komitmen kita terhadap perbaikan kehidupanbermasyarakatberbangsa, dan bernegara,” ungkapnya.

Sebagai akademisi, Nur Hidayat menekankan bahwa kritikterhadap pemerintah harus dibangun di atas analisis yang rasional dan berbasis data. Ia mencontohkan program KoperasiMerah Putih yang menurutnya tidak perlu diposisikan dalamkerangka mendukung atau menolakmelainkan dievaluasi darisisi tata kelola dan efektivitas pelaksanaannya.

Bukan soal mendukung atau menolaktetapi bagaimana tata kelola program itu diperbaiki. Harus jelas siapa sasaranpenerima manfaatbagaimana rekrutmen operatornyasertabagaimana distribusinya agar tepat sasaran,” jelasnya.

Menurut Nur Hidayat, pelibatan institusi sosial seperti sekolahdan komunitas lokal menjadi penting agar berbagai program pemerintah tidak berhenti sebagai kebijakan administratifsematamelainkan benar-benar memberikan dampak nyata bagimasyarakat.

Ia juga menyoroti efektivitas penggunaan anggaran negara, termasuk dalam penanganan stunting. Menurutnyafokus utamapemerintah seharusnya diarahkan pada kebutuhan paling mendasarkhususnya pada periode 1.000 hari pertamakehidupan anak yang menjadi fase krusial dalam pembentukankualitas sumber daya manusia.

Diskusi semakin dinamis ketika Presiden BEM Polines Kevin Kurnia Priambodo dan budayawan Beno Siang Pamungkas turutmenyampaikan pandangan mereka mengenai peran generasimuda dalam menjaga kualitas demokrasi serta pentingnya ruangdialog yang terbuka bagi seluruh elemen bangsa.

Bagi para peserta, Reformasi Jilid II tidak cukup dipahamisebagai slogan politik atau sekadar seruan perubahan. Reformasi harus diwujudkan melalui keberanian menguji gagasanmengkritisi kebijakan, dan membangun kesadaran kolektif untukmemperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melalui forum Bicara Merdeka, para peserta menunjukkanbahwa perbedaan pandangan tidak selalu harus berujung pada konflikSebaliknyaperbedaan dapat menjadi energi untukmelahirkan solusi yang lebih matang melalui pertukaran ide yang sehat dan konstruktif.

Dari sebuah kedai kopi di Kota Semarang, pesan itudisampaikan dengan jelas: di tengah memanasnya perdebatanmengenai Reformasi Jilid II, nalar kritis masih hidup, dan mahasiswa memilih mengawalnya melalui adu gagasan daripadasekadar turun ke jalan.

 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Saat Isu Reformasi Jilid II Memanas, Mahasiswa Semarang Justru Pilih Adu Gagasan daripada Turun ke Jalan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now