![]() |
| Sumber Poster : https://filmlokal.id |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM - Keluarga merupakan institusi sosial pertama yang membentuk cara pandang seseorang terhadap kehidupan, termasuk pemahaman mengenai peran laki-laki dan perempuan. Melalui keluarga, individu belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, komunikasi, serta pembagian peran yang dianggap ideal dalam masyarakat. Karena itu, representasi keluarga dalam media memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi publik mengenai relasi gender. Film sebagai salah satu media massa tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk merepresentasikan berbagai realitas sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Film Keluarga Super Irit hadir sebagai film komedi keluarga yang mengangkat persoalan ekonomi dengan pendekatan yang ringan dan menghibur. Film ini menceritakan keluarga Sukaharta yang dipimpin oleh Toni Sukaharta, seorang ayah yang kehilangan pekerjaan dan harus menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat. Bersama istrinya, Linda, serta ketiga anak mereka, Toni berusaha mempertahankan kehidupan keluarga dengan menerapkan berbagai cara penghematan yang ekstrem. Mulai dari memanfaatkan air hujan untuk mandi, menghemat penggunaan air, hingga menumpang makan di berbagai acara hajatan, semua dilakukan demi menjaga keberlangsungan hidup keluarga.
Dalam kajian gender, peran laki-laki dan perempuan dipahami sebagai hasil konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya, norma, dan nilai yang berkembang dalam masyarakat. Menurut Fakih (2013), gender bukanlah sesuatu yang bersifat kodrati, melainkan hasil proses sosial yang menentukan bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperilaku. Dalam masyarakat yang masih dipengaruhi budaya patriarki, laki-laki sering ditempatkan sebagai pencari nafkah utama sekaligus pemimpin keluarga, sedangkan perempuan diposisikan sebagai pengurus rumah tangga dan pendukung laki-laki. Film Keluarga Super Irit menampilkan bentuk maskulinitas yang lebih fleksibel melalui karakter Toni yang tetap menjalankan tanggung jawab keluarga meskipun kehilangan pekerjaan. Representasi ini sejalan dengan perkembangan global yang menunjukkan meningkatnya keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan dan dunia kerja. World Economic Forum (2025) mencatat bahwa partisipasi perempuan dalam posisi manajerial dan kepemimpinan terus mengalami peningkatan di berbagai negara, termasuk Indonesia, meskipun kesenjangan masih belum sepenuhnya tertutup
Representasi semacam ini sering muncul dalam berbagai produk media, termasuk film dan sinetron. Namun, film Keluarga Super Irit menghadirkan gambaran yang lebih kompleks mengenai relasi gender dalam keluarga. Meskipun Toni tetap digambarkan sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama sebelum kehilangan pekerjaan, film ini tidak menunjukkan bahwa seluruh tanggung jawab keluarga berada di pundaknya seorang diri. Ketika kondisi ekonomi keluarga memburuk, seluruh anggota keluarga ikut terlibat dalam proses adaptasi dan bertahan hidup. Salah satu bentuk representasi kesetaraan gender yang terlihat jelas dalam film ini adalah hubungan antara Toni dan Linda. Dalam banyak film keluarga, kehilangan pekerjaan yang dialami oleh suami sering menjadi sumber konflik rumah tangga. Tidak jarang karakter istri digambarkan menyalahkan suami atau mempertanyakan kemampuannya sebagai kepala keluarga. Namun, hal tersebut tidak terlihat dalam hubungan Toni dan Linda. Linda justru hadir sebagai pasangan yang memberikan dukungan emosional dan moral kepada suaminya. Sikap Linda menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan dalam ranah domestik, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam menjaga ketahanan keluarga. Ia menjadi sosok yang membantu menjaga optimisme keluarga ketika menghadapi tekanan ekonomi. Dalam konteks gender, representasi ini menunjukkan bahwa kontribusi perempuan dalam keluarga tidak selalu diukur melalui pendapatan ekonomi, tetapi juga melalui kemampuan menjaga stabilitas emosional dan hubungan sosial antaranggota keluarga.
Selain itu, film ini juga menampilkan Toni sebagai sosok laki-laki yang tidak terjebak dalam stereotip maskulinitas tradisional. Dalam budaya patriarki, laki-laki sering dituntut untuk selalu kuat, dominan, dan tidak menunjukkan kelemahan. Kehilangan pekerjaan sering dianggap sebagai kegagalan yang dapat mengurangi harga diri seorang laki-laki. Akan tetapi, film ini memperlihatkan bahwa Toni tetap berusaha menjalankan tanggung jawabnya tanpa harus mempertahankan citra maskulin yang berlebihan. Toni bersedia melakukan berbagai cara yang tidak biasa demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ia tidak malu menjalani kehidupan yang sederhana dan melakukan penghematan ekstrem selama keluarganya tetap dapat bertahan. Representasi ini menunjukkan bentuk maskulinitas yang lebih fleksibel dan humanis. Laki-laki tidak digambarkan sebagai sosok yang harus selalu berkuasa, melainkan sebagai individu yang mampu beradaptasi dan bekerja sama dengan anggota keluarga lainnya.
Dari perspektif media dan gender, penggambaran tersebut menjadi penting karena menawarkan alternatif terhadap stereotip gender yang selama ini banyak ditemukan dalam media populer. Film ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan dapat memiliki posisi yang setara dalam keluarga meskipun menjalankan peran yang berbeda. Kesetaraan tidak selalu berarti melakukan pekerjaan yang sama, tetapi lebih kepada adanya penghargaan terhadap kontribusi masing-masing anggota keluarga. Representasi kesetaraan gender juga terlihat melalui keterlibatan anak-anak dalam kehidupan keluarga. Sally, Billy, dan Kenny tidak hanya menjadi karakter pendukung yang mengisi cerita, tetapi turut merasakan dampak dari kesulitan ekonomi yang dialami keluarga. Mereka belajar memahami kondisi orang tua dan menyesuaikan diri dengan perubahan gaya hidup yang lebih hemat. Situasi ini memperlihatkan bahwa keluarga Sukaharta menghadapi masalah secara kolektif, bukan secara individual.
Menurut teori konstruksi sosial yang dikemukakan Berger dan Luckmann (1966), realitas sosial terbentuk melalui proses interaksi yang berlangsung secara terus-menerus. Dalam konteks film, representasi keluarga yang ditampilkan dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap hubungan sosial yang dianggap ideal. Melalui keluarga Sukaharta, penonton diperlihatkan bahwa hubungan yang sehat tidak harus dibangun melalui dominasi salah satu pihak, melainkan melalui kerja sama dan komunikasi. Film ini juga mengandung kritik sosial terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Praktik-praktik penghematan ekstrem yang dilakukan keluarga Sukaharta memang disajikan dalam bentuk komedi, tetapi pada saat yang sama mencerminkan realitas yang dihadapi banyak keluarga. Meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan tekanan ekonomi menjadi tantangan yang semakin sering ditemui dalam kehidupan masyarakat modern.
Film Keluarga Super Irit mencerminkan perubahan tersebut melalui hubungan Toni dan Linda yang tidak didasarkan pada hierarki kekuasaan, melainkan pada kemitraan. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, film ini dapat dipandang sebagai representasi nilai-nilai keluarga modern yang menempatkan kerja sama sebagai fondasi utama kehidupan rumah tangga. Menurut pandangan penulis, kekuatan terbesar film ini terletak pada kemampuannya menyampaikan isu sosial yang serius melalui pendekatan komedi. Penonton diajak tertawa melihat berbagai tindakan ekstrem yang dilakukan keluarga Sukaharta, tetapi pada saat yang sama diajak merenungkan makna kebersamaan dan solidaritas keluarga. Film ini tidak berusaha menggurui penonton mengenai pentingnya kesetaraan gender, melainkan menunjukkan nilai tersebut melalui tindakan dan interaksi antar karakter.
Meski demikian, film ini tetap memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki pandangan tradisional mengenai peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama. Hal ini terlihat dari bagaimana kehilangan pekerjaan menjadi titik awal konflik dalam cerita. Oleh karena itu, film ini dapat dipahami sebagai representasi masyarakat yang sedang mengalami transisi dari pola relasi gender tradisional menuju pola yang lebih setara. Untuk mendorong terciptanya representasi gender yang lebih baik dalam media, industri perfilman perlu terus menghadirkan karakter laki-laki dan perempuan yang beragam. Media seharusnya tidak hanya menampilkan perempuan sebagai pengurus rumah tangga atau laki-laki sebagai pemimpin yang selalu dominan. Sebaliknya, media perlu menunjukkan bahwa keberhasilan keluarga ditentukan oleh kemampuan seluruh anggota keluarga untuk bekerja sama dan saling menghargai. Selain itu, pendidikan literasi media juga perlu ditingkatkan agar masyarakat mampu memahami bahwa representasi gender dalam film merupakan hasil konstruksi sosial. Dengan kemampuan berpikir kritis, penonton dapat melihat bahwa pembagian peran dalam keluarga tidak harus mengikuti stereotip tertentu, melainkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama.
Film Keluarga Super Irit menunjukkan bahwa isu gender dapat dihadirkan melalui cerita keluarga yang sederhana dan menghibur. Melalui perjuangan Toni, Linda, dan ketiga anak mereka dalam menghadapi kesulitan ekonomi, film ini menampilkan representasi kesetaraan gender yang diwujudkan dalam bentuk kerja sama, komunikasi, dan saling mendukung. Toni dan Linda tidak digambarkan sebagai pasangan yang saling mendominasi, melainkan sebagai mitra yang bersama-sama mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi. Representasi tersebut memberikan pesan bahwa kekuatan keluarga tidak terletak pada siapa yang paling berkuasa, melainkan pada kemampuan seluruh anggota keluarga untuk menghadapi tantangan secara bersama-sama. Dalam konteks masyarakat modern yang terus mengalami perubahan sosial dan ekonomi, nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting. Pada akhirnya, film Keluarga Super Irit mengajarkan bahwa kesetaraan gender bukan hanya tentang pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga tentang penghargaan terhadap kontribusi setiap anggota keluarga dalam membangun kehidupan yang harmonis dan sejahtera.
Penulis : Syerly Pribadi Mahasiswa Universitas Merdeka Madiun



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?