![]() |
| Sumber Foto : https://www.kompasiana.com |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM - Kalau dipikir-pikir, sekarang hampir tidak ada satu hari pun yang kita lewati tanpa internet. Bangun tidur, yang pertama kali dicari bukan lagi jam dinding, melainkan ponsel. Kita membuka WhatsApp, Instagram, TikTok, atau melihat berita yang sedang ramai diperbincangkan. Semua terasa begitu cepat karena informasi datang silih berganti, bahkan sebelum kita sempat mencerna informasi sebelumnya. Sebagai bagian dari Generasi Z, saya merasakan sendiri bagaimana teknologi membuat komunikasi menjadi jauh lebih mudah. Tugas kuliah dapat dicari melalui internet, diskusi dilakukan lewat grup WhatsApp, hingga mencari hiburan pun cukup melalui media sosial.
Di balik kemudahan itu, saya justru merasa ada hal yang perlu lebih diperhatikan. Tidak semua informasi yang muncul di media sosial bisa langsung dipercaya. Kadang sebuah berita terlihat meyakinkan karena sudah dibagikan ribuan kali, padahal setelah dicari tahu ternyata isinya tidak benar. Saya sendiri pernah hampir mempercayai berita seperti itu hanya karena sedang ramai dibicarakan. Pengalaman sederhana tersebut membuat saya sadar bahwa kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kemampuan memilih informasi yang benar. Dari situlah saya mulai memahami mengapa sistem komunikasi Indonesia memiliki peran yang sangat penting, terutama bagi Generasi Z yang hampir setiap hari hidup berdampingan dengan dunia digital.
Sebagai mahasiswi, saya, Randah Nada Asifa, melihat bahwa Generasi Z menjadi kelompok yang paling dekat dengan perkembangan teknologi komunikasi. Pandangan ini tidak hanya saya rasakan sendiri, tetapi juga diperkuat dari hasil wawancara sederhana yang saya lakukan dengan beberapa teman sesama Generasi Z. Dari hasil wawancara tersebut, saya menemukan bahwa hampir semua narasumber menggunakan internet dan media sosial setiap hari untuk belajar, berkomunikasi, mencari informasi, hingga hiburan. Hampir semua aktivitas dilakukan secara digital, mulai dari mencari referensi kuliah, membaca berita, berbelanja, sampai membangun relasi dengan orang lain. Media sosial seolah sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Bahkan, tidak sedikit anak muda yang memanfaatkan platform digital untuk membuka usaha, membuat konten edukasi, atau mengembangkan kreativitasnya.
Namun, di balik semua manfaat tersebut, saya juga menemukan kebiasaan yang cukup mengkhawatirkan dari hasil wawancara yang saya lakukan. Beberapa narasumber mengaku pernah langsung mempercayai atau membagikan informasi yang sedang viral tanpa membaca isi beritanya sampai selesai atau memastikan sumbernya benar. Akibatnya, berita palsu menyebar begitu cepat dan sering kali memicu kesalahpahaman. Hal seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Sekali informasi yang salah tersebar, akan sulit mengembalikan kepercayaan masyarakat meskipun sudah ada klarifikasi.
Dalam perkuliahan Sistem Komunikasi Indonesia, bapak Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. pernah menyampaikan bahwa komunikasi yang baik bukan hanya soal seberapa cepat informasi sampai kepada masyarakat, tetapi juga bagaimana informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Kalimat itu masih saya ingat karena sangat sesuai dengan kondisi saat ini. Di era digital, semua orang bisa menjadi penyampai informasi. Cukup dengan satu tombol “bagikan”, sebuah berita bisa tersebar ke ribuan orang hanya dalam hitungan menit. Karena itu, setiap pengguna media sosial sebenarnya memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kualitas informasi yang beredar.
Menurut saya, sistem komunikasi Indonesia bukan hanya tentang media massa atau aturan pemerintah. Sistem ini juga melibatkan kita sebagai pengguna media digital. Pemerintah memang membuat regulasi, media bertugas menyampaikan informasi yang akurat, tetapi masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Kalau kita masih mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya, maka sistem komunikasi yang baik pun tidak akan berjalan maksimal.
Salah satu narasumber yang saya wawancarai bahkan menceritakan pengalamannya yang hampir mempercayai berita yang ternyata tidak sesuai fakta hanya karena berita tersebut ramai dibagikan di media sosial. Dari situ, saya semakin yakin bahwa kemampuan untuk memverifikasi informasi sangat penting. Karena itu, saya mulai membiasakan diri untuk mencari informasi dari lebih dari satu sumber sebelum mempercayainya. Kebiasaan sederhana seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi menurut saya sangat penting agar kita tidak ikut menyebarkan informasi yang salah kepada orang lain.
Selain lebih kritis dalam menerima informasi, Generasi Z juga perlu memanfaatkan media sosial untuk hal-hal yang lebih positif. Berdasarkan hasil wawancara saya, beberapa narasumber juga berpendapat bahwa media sosial tidak selalu berdampak buruk. Saat ini banyak konten yang memberikan edukasi, membahas isu sosial, berbagi pengalaman, bahkan mengajarkan keterampilan baru secara gratis. Menurut saya, media digital akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk saling berbagi pengetahuan daripada sekadar menyebarkan sensasi atau ikut memperkeruh perdebatan yang tidak jelas ujungnya.
Di sisi lain, komunikasi yang baik juga tidak hanya soal informasi yang benar, tetapi tentang bagaimana kita menyampaikan pendapat. Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, apalagi di media sosial yang dipenuhi oleh berbagai latar belakang pengguna. Namun, berbeda pendapat tidak harus berujung pada saling menghina atau menyebarkan kebencian. Justru di sinilah etika komunikasi sangat dibutuhkan. Menurut saya, kemampuan menghargai pendapat orang lain sama pentingnya dengan kemampuan menggunakan teknologi itu sendiri.
Bagi saya, perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakannya dengan bijak. Sistem komunikasi Indonesia akan berjalan dengan baik jika semua pihak menjalankan perannya, mulai dari pemerintah, media massa, hingga masyarakat sebagai pengguna media digital. Sebagai bagian dari Generasi Z, saya merasa kita memiliki tanggung jawab yang cukup besar karena hampir setiap hari bersentuhan dengan informasi. Sebelum menekan tombol “bagikan”, mungkin tidak ada salahnya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, apakah informasi ini benar, apakah sumbernya jelas, dan apakah layak dibagikan? Kalau kebiasaan sederhana itu bisa dilakukan oleh lebih banyak orang, saya yakin ruang digital di Indonesia akan menjadi lebih sehat. Pada akhirnya, menjadi Generasi Z bukan hanya soal mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menggunakan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab.
Penulis: Randah Nada Asifa

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?