Banner Iklan

Ngalap Barokah di Makam Untung Suropati, Pegiat Budaya Pasuruan Sepakati Renovasi Astana Pahlawan Nasional

Admin Cyber
18 Juni 2026 | 15.15 WIB Last Updated 2026-06-18T08:16:56Z

Rutinan Rabu malam Kamis Legi di Pesarean Untung Suropati melahirkan komitmen bersama untuk renovasi astana makam demi pelestarian sejarah dan penghormatan kepada jasa pahlawan.


PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM

Tradisi ngalap barokah yang rutin dilaksanakan setiap Rabu malam Kamis Legi di Makam Pahlawan Nasional Untung Suropati, kawasan Mancilan,Kelurahan Pohjentrek kecamatan Purworejo,Kota Pasuruan, kembali berlangsung khidmat pada Rabu malam (16/6/2026). Kegiatan yang diinisiasi keluarga besar Lintas Agama Pasuruan Raya tersebut tidak hanya menjadi sarana doa bersama dan penghormatan kepada para leluhur, tetapi juga melahirkan gagasan penting terkait pelestarian situs sejarah makam Untung Suropati.

Sejak malam hari, para jamaah, pegiat budaya, tokoh masyarakat, dan pecinta sejarah dari berbagai latar belakang agama telah berkumpul di kompleks makam. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, doa bersama, selametan, serta wilujengan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa bagi bangsa dan negara.

Antusias jamaah yang hadir dari berbagai unsur Budaya 


Suasana kebersamaan begitu terasa sepanjang acara. Para peserta tampak larut dalam kekhusyukan doa sekaligus menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum mempererat tali persaudaraan dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan oleh para pendahulu.

Ketua LP2BN Pasuruan Raya, Mbah M. Sholeh atau yang lebih dikenal dengan sapaan Abah Sholeh, mengatakan bahwa tradisi ziarah dan ngalap barokah memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar ritual budaya atau tradisi turun-temurun, melainkan juga menjadi sarana untuk melakukan introspeksi diri serta mengingat hakikat kehidupan manusia yang pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

"Tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu menghormati para leluhur, mengenang jasa-jasa mereka, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara. Dengan eling mati, manusia akan lebih mudah bersyukur dan menjaga hubungan baik dengan sesama," ujar Abah Sholeh.

Ia berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut dapat terus dilestarikan oleh generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Hal senada disampaikan Bopo Rubani yang menilai kegiatan ngalap barokah, selametan, dan wilujengan merupakan bagian dari identitas budaya bangsa Indonesia yang perlu dijaga bersama.

Menurutnya, budaya berkumpul dalam suasana penuh kekeluargaan seperti yang terlihat di pesarean Untung Suropati menjadi salah satu kekuatan sosial yang mampu mempererat persatuan masyarakat di tengah berbagai perbedaan.

"Budaya seperti ini harus terus hidup. Selain menjaga warisan leluhur, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan membangun kebersamaan di tengah masyarakat," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, anggota Paguyuban Bhirawa, Mas Agung yang juga merupakan dosen Universitas Merdeka (UMER) Pasuruan, menyampaikan paparan sejarah mengenai perjalanan hidup Untung Suropati yang dikenal sebagai salah satu tokoh perlawanan terhadap kolonialisme di Nusantara.

Mas Agung menjelaskan bahwa perjalanan hidup Untung Suropati menjadi inspirasi bagi siapa saja karena berangkat dari kondisi yang sederhana hingga mampu menjadi sosok berpengaruh dalam sejarah bangsa.

Menurutnya, kisah perjuangan Untung Suropati mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan, ketekunan, semangat belajar, dan kedekatan spiritual kepada Tuhan dalam membentuk karakter manusia yang unggul.

"Sejarah bukan hanya cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat banyak hikmah dan pelajaran hidup yang bisa menjadi bekal bagi generasi sekarang untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik," jelasnya.

Sementara itu, KH. Abdurrahman atau yang akrab disapa Gus Amang menyoroti pentingnya memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda. Ia mengaku prihatin karena masih banyak kalangan generasi Z yang belum mengenal sosok Untung Suropati maupun lokasi makamnya.

Karena itu, dalam berbagai kesempatan dirinya selalu mengajarkan sejarah tokoh-tokoh daerah kepada para peserta didiknya agar mereka memiliki rasa bangga terhadap warisan sejarah bangsa.

"Saya sering bertanya kepada peserta didik siapa Untung Suropati dan di mana beliau dimakamkan. Banyak yang belum tahu. Padahal beliau adalah tokoh besar yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia," ungkap Gus Amang.

Menariknya, setelah rangkaian Yasin, tahlil, dan diskusi budaya selesai dilaksanakan, muncul gagasan besar dari para pegiat budaya yang hadir malam itu. Salah satu ide tersebut disampaikan oleh Bopo Wiryono, tokoh masyarakat dari Suku Tengger yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Di tengah suasana diskusi yang hangat, Bopo Wiryono menyampaikan pandangan mengenai pentingnya menjaga dan merawat situs bersejarah yang menjadi simbol perjuangan bangsa. Bahkan ia sempat melantunkan doa dan petuah menggunakan bahasa khas Tengger yang mendapat perhatian para peserta.

Dalam penyampaiannya, Bopo Wiryono mengusulkan adanya program pembangunan dan renovasi Astana Makam Pahlawan Nasional Untung Suropati di Mancilan. Menurutnya, keberadaan makam tersebut tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga merupakan aset sejarah yang perlu dijaga kelestariannya untuk generasi mendatang.

Usulan tersebut mendapat sambutan positif dari seluruh peserta yang hadir. Setelah melalui musyawarah dan diskusi bersama, para pegiat budaya Pasuruan sepakat membentuk panitia pelaksana pembangunan dan renovasi kompleks makam Untung Suropati.

Adapun susunan panitia yang disepakati sementara yakni Bopo Rubani sebagai Ketua, Ismail sebagai Wakil Ketua, Angwyn sebagai Sekretaris, serta KH. Abdurrahman atau Gus Amang sebagai Bendahara.

Pembentukan panitia tersebut disaksikan langsung oleh seluruh jamaah yang hadir, termasuk Den Mas Darso yang merupakan salah satu keturunan atau cicit Mbah Untung Suropati.

Meski demikian, hasil kesepakatan tersebut masih akan dibahas lebih lanjut bersama juru kunci makam Mancilan, Pak Agus, guna memperoleh masukan serta kesepakatan yang lebih matang terkait rencana renovasi dan pengembangan kawasan makam.

Para pegiat budaya berharap langkah ini menjadi awal yang baik dalam upaya menjaga, merawat, dan melestarikan situs sejarah Untung Suropati sebagai warisan budaya bangsa. Selain menjadi tempat ziarah dan wisata sejarah, makam tersebut juga diharapkan dapat menjadi pusat edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan para pahlawan Nusantara.

Melalui kegiatan ngalap barokah yang berlangsung penuh kekhidmatan tersebut, para peserta berharap semangat perjuangan, keteladanan, penghormatan kepada leluhur, serta kecintaan terhadap sejarah dan budaya bangsa akan terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi penerus demi menjaga jati diri bangsa Indonesia.(SM/Ony)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ngalap Barokah di Makam Untung Suropati, Pegiat Budaya Pasuruan Sepakati Renovasi Astana Pahlawan Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now