Banner Iklan

Mahasiswa Jawa Timur Dorong Budaya Dialog di Tengah Kritik, Diskusi Publik Dinilai Kunci Merawat Demokrasi

Admin JSN
18 Juni 2026 | 13.25 WIB Last Updated 2026-06-19T12:34:07Z

Acara diskusi publik yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur 

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM:
Keberanian untuk tetap hadir, berdialog, dan mendengarkan berbagai pandangan di tengah perbedaan menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga demokrasi yang sehat. Semangat itulah yang mengemuka dalam diskusi publik bertajuk Dinamika Global dan Nasional dari Berbagai Perspektif yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur, Kamis (18/6/2026).

Forum tersebut menjadi ruang bertukar gagasan bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan geopolitik, kondisi ekonomi, hingga tantangan demokrasi di Indonesia. Para peserta sepakat bahwa kritik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan demokrasi, namun harus disampaikan melalui argumentasi dan komunikasi yang konstruktif.

Koordinator Wilayah BEM PTNU Jawa Timur, Hasan Husaini, menegaskan bahwa setiap gerakan mahasiswa harus dibangun di atas pemahaman yang utuh terhadap persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

"Ketika berbicara tentang gerakan, kita harus mengetahui dulu persoalannya. Setelah memahami akar masalah, baru kita berdiskusi dan merawat gerakan itu agar tetap memiliki arah yang jelas. Momentum diskusi seperti ini penting agar mahasiswa memahami dinamika global maupun nasional sehingga mampu bergerak bersama mewujudkan negara yang demokratis," ujarnya.

Menurut Hasan, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai agen perubahan. Karena itu, budaya berdiskusi harus terus diperkuat agar setiap langkah perjuangan didasarkan pada data, analisis, dan kepentingan masyarakat luas, bukan sekadar reaksi emosional.

Dalam forum tersebut, peserta juga memperoleh berbagai wawasan mengenai perkembangan geopolitik dunia yang berdampak terhadap kondisi ekonomi nasional. Sejumlah mahasiswa mengaku mendapatkan perspektif baru yang dapat menjadi bekal dalam aktivitas organisasi maupun pengabdian kepada masyarakat.

Salah seorang peserta menyampaikan bahwa diskusi seperti ini seharusnya tidak hanya berhenti di Kota Malang, tetapi diperluas ke berbagai daerah agar semakin banyak mahasiswa memperoleh ruang belajar yang sama.

"Walaupun pembahasannya cukup kompleks, kami mendapatkan banyak insight baru. Harapannya forum seperti ini bisa digelar di berbagai daerah di Jawa Timur bahkan luar pulau agar ilmu dan gagasan bisa tersebar lebih luas," ungkapnya.

Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa juga mengangkat isu masyarakat adat yang kehilangan ruang hidup akibat berbagai program pembangunan. Mereka mempertanyakan apakah setiap kebijakan pemerintah telah melalui kajian yang matang sebelum diterapkan di lapangan.

Menurut peserta, pembangunan memang penting, namun implementasinya harus tetap memperhatikan keberlangsungan hidup masyarakat adat serta dampak sosial yang ditimbulkan.

"Program pemerintah tentu memiliki tujuan baik, tetapi sebelum dijalankan perlu dikaji lebih mendalam. Jangan sampai pelaksanaannya justru menyulitkan masyarakat yang selama ini bergantung pada wilayah adat dan hutan sebagai sumber kehidupan," ujar salah satu mahasiswa.

Sementara itu, Intan, perwakilan Kementerian Luar Negeri BEM Universitas Islam Malang (Unisma), mengaku memperoleh banyak pelajaran dari berbagai perspektif yang disampaikan para narasumber.

Ia menilai mahasiswa tidak cukup hanya mengikuti perkembangan informasi, tetapi juga harus mampu mengevaluasi diri dan mempersiapkan kontribusi nyata bagi masa depan bangsa.

"Kita bukan hanya dituntut mengetahui informasi tentang dinamika global dan nasional, tetapi juga harus mampu mengevaluasi diri mengenai kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk Indonesia di masa depan," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Muhammad, perwakilan Prospem Pasuruan Raya. Menurutnya, diskusi publik yang menghadirkan berbagai sudut pandang perlu terus diselenggarakan di berbagai daerah.

Ia menilai forum semacam itu menjadi ruang yang efektif untuk mempertemukan gagasan dari berbagai kalangan sehingga mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih komprehensif terhadap persoalan bangsa.

"Diskusi publik seperti ini tidak boleh berhenti di Malang. Forum-forum seperti ini harus terus digelar di berbagai daerah agar mahasiswa memiliki ruang berdialog, bertukar pikiran, dan membangun solusi bersama," ujarnya.

Melalui diskusi tersebut, mahasiswa menegaskan bahwa kampus harus tetap menjadi ruang adu gagasan yang sehat. Perbedaan pandangan bukan alasan untuk saling menyerang ataupun menghindari dialog, melainkan menjadi kesempatan untuk memperkaya perspektif serta menemukan solusi terbaik bagi kepentingan masyarakat dan masa depan demokrasi Indonesia.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mahasiswa Jawa Timur Dorong Budaya Dialog di Tengah Kritik, Diskusi Publik Dinilai Kunci Merawat Demokrasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now