Banner Iklan

Menyambut Tahun Baru Hijriyah: Momentum Hijrah Diri Menuju Kebaikan dan Bumi yang Lestari

Anis Hidayatie
16 Juni 2026 | 04.49 WIB Last Updated 2026-06-15T21:50:14Z

 


Menyambut Tahun Baru Hijriyah: Momentum Hijrah Diri Menuju Kebaikan dan Bumi yang Lestari

Oleh: Dr. Nur Hasaniyah, S.Ag., M.A*.

OPINI| JATIMSATUNEWS.COM: 

Hari ini, umat Islam di seluruh dunia memasuki tahun baru Hijriyah, 1 Muharram. Berbeda dengan pergantian tahun Masehi yang identik dengan hitungan mundur dan pesta kembang api, datangnya tahun baru Hijriyah mengajak kita pada sesuatu yang lebih hening: muhasabah, atau introspeksi diri. Lalu, apa sebenarnya makna hijrah yang diperingati setiap tahunnya, dan bagaimana relevansinya bagi kehidupan kita hari ini?


Hijrah, Bukan Sekadar Pindah Tempat.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang sangat populer:


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْنِيَّاتِ، وإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُه إِلَى الله وَرَسُولِه فَهِجْرَتُه إِلَى الله وَرَسُولِه، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُه لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُه إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Maknanya: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya... Maka siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya itu (bernilai) untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai dengan apa yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)


Dari hadits ini kita belajar bahwa hijrah pada hakikatnya bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perpindahan niat dan orientasi hidup — dari yang kurang baik menuju yang lebih baik, dari yang Allah benci menuju yang Allah ridhai.


Teladan Hijrah Rasulullah ‘Alaihissalam.

Peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah bukanlah pelarian, melainkan strategi dakwah yang penuh perhitungan, kesabaran, dan tawakal. Allah berfirman mengenai peristiwa bersejarah di Gua Tsur:


إِذْ هُمَا فِي الْعَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ الله مَعَنَا

Artinya: “(Ingatlah) ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu Nabi berkata kepada sahabatnya, 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.'” (QS. At-Taubah [9]: 40)


Setelah tiba di Madinah, Rasulullah ‘Alahissalam mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) dengan kaum Anshar (penduduk asli Madinah). Allah memuji sikap kaum Anshar dalam QS. Al-Hashr (59): 9, yang menggambarkan mereka mengutamakan saudara-saudara Muhajirin meski mereka sendiri dalam kondisi membutuhkan. Inilah teladan ukhuwah (persaudaraan) yang sangat relevan untuk membangun solidaritas sosial di tengah masyarakat kita hari ini.


Hijrah dalam Konteks Kekinian.

Dalam konteks kekinian, hijrah bisa kita maknai dalam berbagai bentuk yang sangat dekat dengan keseharian kita. Hijrah dari kebiasaan menunda ibadah menuju kedisiplinan shalat di awal waktu. Hijrah dari gaya hidup konsumtif dan boros menuju kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama melalui sedekah. Hijrah dari kebiasaan menyebarkan gosip dan ujaran kebencian di media sosial menuju penyebaran ilmu dan kebaikan (dakwah yang santun).


Tidak kalah penting, hijrah juga dapat dimaknai sebagai perubahan sikap terhadap lingkungan — misalnya hijrah dari penggunaan plastik sekali pakai menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, mengurangi sampah, dan menanam pohon. Allah Ta’ala mengingatkan kita dalam QS. Al-A’raf (7): 56:


وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Maknanya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf [7]: 56)


Menjaga kelestarian alam adalah bagian dari amanah kekhalifahan manusia di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30), dan momentum tahun baru Hijriyah adalah kesempatan baik untuk memulai komitmen tersebut — sekecil apa pun bentuknya.


Muhasabah: Momen Jujur Menilai Diri

Allah Ta’ala berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِفَدٍ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hashr [59]: 18)


Ayat ini menjadi landasan bagi tradisi muhasabah di penghujung dan permulaan tahun — bukan sekadar seremoni, tetapi momen jujur untuk menilai diri: amal apa yang sudah dilakukan, kesalahan apa yang perlu ditinggalkan, dan langkah apa yang akan diperbaiki di tahun mendatang.


Mari jadikan momentum 1 Muharram tahun ini bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan titik awal perubahan nyata — baik perubahan pada diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar kita. Semoga Allah Ta’ala memberikan kekuatan kepada kita semua untuk terus berhijrah menuju kebaikan. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448, semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam berbagai hal kebaikan.


*(Dosen Bahasa & Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang).


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menyambut Tahun Baru Hijriyah: Momentum Hijrah Diri Menuju Kebaikan dan Bumi yang Lestari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?