![]() |
| Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2026 |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM :
Sejarah Singhasari dan Tantangan Generasi Muda
Kerajaan Singhasari merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah Malang yang menyimpan banyak nilai budaya dan historis. Tokoh-tokoh seperti Ken Arok dan Ken Dedes bukan hanya dikenal sebagai bagian dari cerita kerajaan, tetapi juga menjadi simbol perjalanan sejarah dan identitas budaya masyarakat Jawa Timur, khususnya Malang. Namun, di tengah perkembangan era digital yang semakin cepat, sejarah lokal perlahan mulai kehilangan perhatian dari generasi muda.
Mahasiswa saat ini lebih akrab dengan budaya populer yang tersebar melalui media sosial dibandingkan sejarah daerahnya sendiri. Padahal, sejarah lokal memiliki peran penting dalam membentuk identitas budaya dan rasa memiliki terhadap daerah asal. Menurut Koentjaraningrat (2009), kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah lokal menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budaya suatu daerah.
Sebagai bentuk pengenalan budaya lokal kepada mahasiswa, Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya menghadirkan mata kuliah Kebrawijayaan. Mata kuliah ini tidak hanya membahas sejarah Kota Malang dan Kerajaan Singhasari, tetapi juga mengkaji hubungan sejarah antara Singhasari dan Majapahit, mengenal sosok Bhre Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit, memahami berdirinya hingga masa kejayaan Majapahit, serta mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Palapa Gajah Mada.
Selain itu, mahasiswa juga diajak memahami sistem tata negara dan administrasi pemerintahan Majapahit, proses suksesi kepemimpinan, transformasi Majapahit, hingga bagaimana Universitas Brawijaya mengambil semangat Bhre Wijaya dan Majapahit sebagai bagian dari identitas universitas. Dengan demikian, mata kuliah Kebrawijayaan tidak hanya berfokus pada sejarah masa lalu, tetapi juga menghubungkannya dengan kontribusi Universitas Brawijaya bagi bangsa dan negara di masa depan.
Mata kuliah ini pada dasarnya bertujuan menanamkan semangat ke-Brawijaya-an kepada mahasiswa melalui pendekatan sejarah, dokumen, artefak, dan berbagai sumber kebudayaan yang berkaitan dengan Singhasari dan Majapahit. Menurut Poesponegoro dan Notosusanto (2019), Kerajaan Singhasari dan Majapahit memiliki peran penting dalam perkembangan politik, budaya, dan administrasi pemerintahan di Nusantara. Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah kedua kerajaan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkuat identitas dan wawasan kebangsaan mahasiswa.
Mata Kuliah Kebrawijayaan sebagai Sarana Pengenalan Sejarah
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi, mata kuliah Kebrawijayaan dinilai cukup membantu mahasiswa dalam memahami sejarah Kerajaan Singhasari. Narasumber 1 menyampaikan bahwa mata kuliah tersebut membahas sejarah Singhasari secara cukup detail, mulai dari perkembangan kerajaan hingga hal-hal unik yang membuat sejarah tersebut menarik untuk dipelajari.
Menurut Narasumber 1, pembelajaran dalam mata kuliah Kebrawijayaan membantu mahasiswa memahami sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia, khususnya Kerajaan Singhasari yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Malang. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di perguruan tinggi dapat menjadi media efektif untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.
Tidak hanya meningkatkan pemahaman, mata kuliah Kebrawijayaan juga mampu menumbuhkan ketertarikan mahasiswa terhadap budaya lokal. Narasumber 1 mengungkapkan bahwa setelah mengikuti pembelajaran, ia menjadi lebih tertarik mempelajari sejarah dan budaya Malang karena menemukan banyak fakta baru yang sebelumnya tidak diketahui. Hal tersebut membuktikan bahwa sejarah lokal sebenarnya memiliki potensi untuk menarik perhatian mahasiswa apabila dikemas melalui pembelajaran yang tepat.
Pelestarian Sejarah Kerajaan Lokal melalui Pendidikan
Melihat
kondisi tersebut, mata kuliah Kebrawijayaan sebenarnya memiliki potensi besar
sebagai sarana pelestarian sejarah lokal di lingkungan perguruan tinggi. Namun,
efektivitasnya perlu terus ditingkatkan melalui inovasi pembelajaran yang lebih
interaktif dan dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Mata kuliah Kebrawijayaan memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap sejarah Kerajaan Singhasari, Majapahit, serta budaya lokal Malang. Berdasarkan hasil wawancara, pembelajaran dalam mata kuliah ini mampu menambah pengetahuan sekaligus menumbuhkan ketertarikan mahasiswa terhadap sejarah lokal.
Namun, masih terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan, terutama dalam metode penyampaian pembelajaran agar lebih interaktif, relevan, dan dekat dengan kehidupan mahasiswa masa kini. Dengan pengembangan metode pembelajaran yang lebih menarik, mata kuliah Kebrawijayaan dapat menjadi sarana yang lebih efektif dalam menjaga dan melestarikan sejarah lokal sekaligus menanamkan semangat Ke-Brawijaya-an kepada generasi muda.
Daftar Pustaka
Koentjaraningrat. (2009).
Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Poesponegoro, M. D., &
Notosusanto, N. (2019). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno.
Jakarta: Balai Pustaka.
Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Narasumber 1. (2026). Wawancara
langsung. Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Wawancara
dilakukan oleh penulis.
Narasumber 2. (2026). Wawancara
langsung. Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Wawancara
dilakukan oleh penulis.
Penulis : Alvinda Keysha Putritama



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?