PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM
Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Pasuruan (LBM PCNU Kopas) kembali melanjutkan agenda rutin dua mingguan “Halaqah Fiqih” yang selama ini sudah berjalan dengan istikamah. Pertemuan berkala yang telah sukses terselenggara beberapa kali ini kembali digelar pada Ahad malam Senin, 31 Mei 2026. Acara bertempat di rumah salah satu anggota LBM yaitu Saudara Sultan Aladin, di Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, mulai jam 20.00 sampai 22.00 WIB. Melanjutkan konsistensi dari pertemuan-pertemuan sebelumnya, kali ini pembahasan tetap dengan berbasis kitab Fathul-Qarib dan masuk ke bab nikah bagian awal.
Antusiasme peserta pada pertemuan kali ini terlihat meningkat dengan hadirnya 14 orang. Jumlah kehadiran ini terhitung bertambah lumayan banyak jika dibandingkan dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Hal ini karena forum halaqah yang digagas oleh LBM ini dibuka secara luas untuk umum bagi siapa saja yang ingin ikut berdiskusi dan mengkaji pemahaman kitab bersama-sama, dengan catatan seluruh peserta yang hadir memang merupakan orang-orang yang sudah pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Dengan demikian, seluruh peserta yang berkumpul malam itu sudah memiliki dasar kuat dalam membaca kitab gundul serta memahami dasar-dasar ilmu fiqih. Di antara yang hadir sebagai perwakilan dari pengurus PCNU Kota Pasuruan, tampak Ust. H. Ahmad Muhaimin selaku Koordinator Bidang Keagamaan PCNU Kota Pasuruan.
Jalannya kajian diawali dengan pembacaan serta penerjemahan teks Arab bab nikah oleh Ust. Abdu Dzil Jalal selaku Bendahara LBM. Setelah itu, Ust. M. Rudliya Anthariqi selaku Sekretaris LBM memaparkan penjelasan awal mengenai isi dari materi tersebut. Setelah pemaparan tersebut selesai, forum langsung masuk ke sesi diskusi interaktif di mana para pengurus dan peserta yang hadir saling bertanya jawab secara aktif.
Dalam sesi ini, jika ada peserta yang belum paham mengenai maksud dari teks yang dibaca, peserta lain yang sudah paham akan langsung menjelaskan sekaligus memberikan referensi penguat dari kitab lain. Begitu pula jika ada pemahaman yang dirasa janggal atau kurang pas, seluruh forum langsung mendiskusikannya bersama-sama untuk menguji kebenaran pemahaman tersebut sambil melacak referensi kitab pendukungnya. Selain itu, pembacaan bab nikah ini juga memancing berbagai pertanyaan dari peserta, baik karena rasa penasaran ilmiah maupun karena adanya kasus-kasus nyata seputar pernikahan yang terjadi di sekitar lingkungan rumah mereka. Kasus dan pertanyaan tersebut kemudian dibedah, dicarikan jawabannya secara kolektif, lalu dirumuskan keputusannya bersama-sama dengan mengacu pada kitab-kitab fikih otoritatif.
Kesimpulan Hukum Fiqih Hasil Halaqah LBM PCNU Kota Pasuruan
Berikut adalah penjelasan ringkas mengenai 6 poin hukum fiqih yang berhasil dirumuskan oleh para peserta halaqah dalam acara tersebut beserta sumber kitab-kitab pendukungnya:
1. Siapa yang Dimaksud dengan Orang Safih?
Dari hasil pelacakan ibarat kitab, rumusan pertama menyimpulkan bahwa safih adalah orang yang tidak bisa mengelola uang atau hartanya dengan baik. Dia cenderung boros dan suka membuang-buang uang untuk hal yang sia-sia atau tidak ada manfaatnya.
Penjelasan: Menurut kitab Hasyiyah at-Tarmasi (Juz VII, hlm. 335), ada orang yang sifat borosnya baru muncul setelah dewasa, dan ada juga yang sejak usia baligh memang sudah tidak bisa mengatur harta atau tidak paham urusan agama.
Contoh Nyata: Kitab Hasyiyah al-Bajuri (Juz II, hlm. 678–680) menjelaskan bahwa pengeluaran disebut boros jika dipakai untuk hal yang tidak membawa manfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Contohnya untuk hal yang haram (seperti judi atau minuman keras) atau hal yang makruh (seperti membeli rokok berlebihan tanpa kebutuhan). Kalau uang dipakai untuk membeli makanan, pakaian yang layak, atau untuk nafkah keluarga, itu tidak disebut boros karena memang begitu cara menikmati harta yang benar.
Ibarot Arab:
Kitab Hasyiyah at-Tarmasi Jilid VII (Beirut, Darul Minhaj: 2021: 335)
قوله : ( وهذا ) أي : السفيه الذي حدث سفهه بعد الرشد
قوله : ( يسمى بالسفيه المهمل ( هذا هو المشهور ، وهو مرادهم بقولهم : السفيه المهمل ملحق بالرشيد ، فمتى أطلقوا السفيه المهمل .. اختص بهذا ، ولهم سفيه آخر يسمى ( المهمل ) ، وهو محجور عليه لا يصح تصرفه ؛ وهو من بلغ غير رشيد ، وهذا ليس المراد من السفيه المهمل حيث أطلق ، وإنما المراد : الأول لا غير ، تدبر!
قوله : ( وإن بلغ سفيهاً ؛ أي : غير مصلح لدينه أو ماله ) أي : أو غير مصلح لكل منهما كما فهم بالأولى
Kitab Hasyiyah al-Bajuri hal 678-680 juz 2 Darul Minhaj cetakan ke-1
، وَالسَّفِيهِ ) وَفَسَّرَهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ : ( الْمُبَذِّرِ لِمَالِهِ ) أَيْ : يَصْرِفُهُ فِي غَيْرِ مَصَارِفِهِ ...
قوله : ( المبذر لماله ) من التبذير ، وهو والسرف مترادفان على صرف المال في غير مصارفه ؛ كما يقتضيه كلام الغزالي (٢) ، ويوافقه قول غيره : ( ما لا يقتضي محمدة عاجلاً ، ولا أجراً آجلاً ) (۳) .
وفرق الماوردي بين التبذير والسرف : بأن الأول : الجهل بمواقع الحقوق ، والثاني : الجهل بمقاديرها (4) ، ونازع فيه ابن قاسم (0) .
ثم إن كان التبذير من حين البلوغ .. لم يحتج لحجر القاضي ، وإن كان بعد بلوغه رشيداً .. احتيج لحجره عليه ؛ كما علم مما تقدم (٢) .
قوله : ( في غير مصارفه ) وهو كل ما لا يعود نفعه إليه لا عاجلاً ولا آجلاً ، فيشمل : الوجوه المحرمة ؛ كأن يشرب به الخمر ، أو يزني به ، أو يرميه في البحر ، أو في الطريق ، والمكروهة ؛ كأن يشرب به الدخان المعروف ؛ فإن الأصل فيه الكراهة ،فصرف المال فيه من التبذير ؛ حيث لا نفع فيه ، أو يضيعه باحتمال غبن فاحش وهو لا يعلم به ، وإلا . فهو من الصدقة الخفية وهي محمودة ، لا صرفه في المطاعم والملابس ووجوه الخير ؛ لأن تلك مصارفه ، ولا فرق في المطاعم والملابس بين أن تليق به وألا تليق به ؛ كشراء إماء كثيرة للتمتع ، وتحصيل أنواع الأطعمة اللذيذة ؛ لأن المال إنما يتخذ للتنعم به .
2. Syarat Menikah bagi Lelaki yang Safih
Karena pernikahan berkaitan erat dengan masalah mahar dan nafkah (uang), pembahasan forum merumuskan bahwa lelaki yang boros atau tidak cakap mengatur harta ini tidak boleh menikah sembarangan. Dia hanya bisa menikah asalkan memenuhi 3 syarat ketat berikut:
A) Benar-benar butuh (hajat) untuk menikah (misalnya karena keinginan biologisnya kuat atau butuh ada yang merawat karena sakit, sementara tidak ada keluarga lain yang bisa membantu). Jika tidak ada kebutuhan mendesak, hukum menikahnya adalah haram.
B) Harus mendapatkan izin dari walinya.
C) Mutlak hanya boleh menikah dengan satu wanita saja (monogami) dan dilarang keras untuk poligami. Aturan ini dikaji demi melindungi hak istri; jika mengelola keuangan untuk dirinya sendiri saja dia tidak mampu dan tidak bisa diandalkan, dia dipastikan tidak akan sanggup membagi nafkah secara adil kepada lebih dari satu istri. Poligami dalam kondisi ini justru akan menzalimi para istri.
Sumber: Kitab Roudhotut-Tholibin (Juz VI, hlm. 177) menegaskan aturan pembatasan ini dibuat agar harta lelaki tersebut tidak habis sia-sia tanpa tujuan yang darurat, sekaligus menjaga agar tidak ada pihak (istri) yang dirugikan akibat ketidakcakapan finansial sang suami.
Ibarot Arab:
Kitab Roudhotut-Tholibin juz 6 hal 177 aplikasi Hadza
فرع قال الأكثرون: يشترط في نكاح السفيه حاجته إليه، وإلا، فهو إتلاف ماله بلا فائدة، وبنوا على هذا أنه لا يزوجه إلا واحدة كالمجنون. قالوا: والحاجة بأن تغلب شهوته، أو احتاج إلى من يخدمه ولم تقم محرم بخدمته، وكانت مؤن الزوجة أخف من ثمن جارية ومؤنها، ولم يكتفوا في الحاجة بقول السفيه، لأنه قد يقصد إتلاف المال، بل اعتبروا ظهور الأمارات الدالة على غلبة الشهوة. وحكى الإمام وجها أنه يجوز تزويجه بالمصلحة كالصبي، ولم يعتبر الإمام والغزالي ظهور أمارات الشهوة، واكتفيا فيها بقول السفيه.
3. Hukum Asal Menikah Satu Istri (Monogami) dan Poligami
Berdasarkan hasil kajian dan diskusi terhadap teks-teks fiqih, salah satu hukum yang berhasil dirumuskan oleh para peserta halaqah adalah bahwa dalam Islam, menikah dengan satu istri hukumnya adalah sunnah, sedangkan poligami hukum asalnya hanyalah mubah (boleh). Poligami baru bisa berubah menjadi sunnah kalau memang ada kebutuhan yang jelas dan mendesak.
Sumber: Kitab Fathul-Qarib (hlm. 83), Asnal-Mathalib (hlm. 1083), dan Raudhatut-Thalibin (Juz VII, hlm. 19) menyebutkan bahwa yang dianjurkan adalah cukup dengan satu istri, kecuali jika ada kebutuhan nyata.
Alasan Hukum: Kitab Mausu’atul-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (Juz XLI, hlm. 220) menjelaskan bahwa Madzab Syafi'i dan Hanbali menganjurkan monogami agar suami tidak terjebak dalam tindakan tidak adil kepada istri-istrinya, karena berbuat tidak adil itu hukumnya haram.
Ibarot Arab:
Kitab Fathul-Qorib hal 83 aplikasi Hadza
ويجوز للحر أن يجمع بين أربع حرائر فقط
Kitab Asnal-Matholib hal 1083
وأن يكتفي بواحدة ) أي أن لا يزيد عليها من غير حاجة ظاهرة قال ابن العماد ويقاس بالزوجة في هذا السرية
Kitab Roudhotut-Tholibin juz 7 hal 19
والمستحب أن لا يزيد على امرأة من غير حاجة ظاهرة، ويستحب أن لا يتزوج من معها ولد من غيره لغير مصلحة،
Kitab Mausu’atul-Fiqhiyyah, Kuwait, Wazaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, cetakan pertama, 2002 M/1423 H, juz 41, halaman 220)
ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ لاَ يَزِيدَ الرَّجُل فِي النِّكَاحِ عَلَى امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ ظَاهِرَةٍ ، إِنْ حَصَل بِهَا الإِعْفَافُ لِمَا فِي الزِّيَادَةِ عَلَى الْوَاحِدَةِ مِنَ التَّعَرُّضِ لِلْمُحَرَّمِ ، قَال اللَّهُ تَعَالَى وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ، وَقَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ يَمِيل إِلَى إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَدُ شِقَّيْهِ مَائِلٌ"... وَيَرَى الْحَنَفِيَّةُ إِبَاحَةَ تَعَدُّدِ الزَّوْجَاتِ إِلَى أَرْبَعٍ إِذَا أَمِنَ عَدَمَ الْجَوْرِ بَيْنَهُنَّ فَإِنْ لَمْ يَأْمَنِ اقْتَصَرَ عَلَى مَا يُمْكِنُهُ الْعَدْل بَيْنَهُنَّ ، فَإِنْ لَمْ يَأمَنْ اقْتَصَرَ عَلَى وَاحِدَةٍ لِقَولِه تَعَالَى فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
4. Perubahan Hukum Poligami Tergantung Kondisi Suami
Dari hasil pemetaan masalah, rumusan hukum menyimpulkan bahwa status poligami tidak sama bagi setiap orang. Hukumnya bisa berubah tergantung kemampuan fisik, mental, dan keuangan si suami:
Mubah (Boleh): Jika kondisinya normal, suami butuh, dan dia yakin bisa berlaku adil.
Sunnah: Jika suami punya alasan kuat, misalnya istri pertama sakit parah, mandul (sementara suami ingin punya anak), dan suami yakin total bisa adil.
Makruh: Jika suami sebenarnya tidak butuh (hanya ingin pamer atau bermewah-mewah) dan dia sendiri masih ragu apakah bisa adil atau tidak kepada istri-istrinya.
Sumber: Kitab al-Fiqhu al-Manhaji 'ala Madzhabil Imam asy-Syafi'i (Juz IV, hlm. 35).
Ibarot Arab
Kitab al-Fiqhu al-Manhaji 'ala Madzhabil Imam asy-Syafi'i (Juz IV, hlm. 35).
1ـ حكم تعد الزوجات:تعدد الزوجات مباح في أصله، قال تعالى: {وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع} [النساء: 3].
ومعنى الآية: إن خفتم إذا نكحتم اليتيمات أن لا تعدلوا في معاملتهن، فقد أبيح لكم أن تنكحوا غيرهن، مثنى وثلاث ورباع.
ولكن قد يطرأ على التعدد ما يجعله مندوبا، أو مكروها، أو محرما، وذلك تبعا لاعتبارات وأحوال تتعلق بالشخص الذي يريد تعدد الزوجات:
أـ فإذا كان الرجل بحاجة لزوجة أخرى: كأن كان لا تعفه زوجة واحدة، أو كانت زوجته الأولى مريضة، أو عقيما، وهو يرغب بالولد، وغلب على ظنه أن يقدر على العدل بينهما، كان هذا التعدد مندوبا، لأن فيه مصلحة مشروعة، وقد تزوج كثير من الصحابة رضي الله عنهم بأكثر من زوجة واحدة.
ب ـ إذا كان التعدد لغير حاجة، وإنما لزيادة التنعم والترفيه، وشك في قدرته على إقامة العدل بين زوجاته، فإن هذا التعدد يكون مكروها، لأنه لغير حاجة، ولأنه ربما لحق بسببه ضرر في الزوجات من عدم قدرته على العدل بينهن.
5. Dua Syarat Wajib Jika Ingin Poligami
Melalui komparasi referensi, para peserta merumuskan 2 syarat sangat ketat yang harus dipenuhi oleh pria yang ingin mengambil pilihan poligami:
A) Harus Bisa Adil: Wajib adil dalam hal-hal yang tampak, seperti uang nafkah, pakaian, cara memperlakukan istri, dan pembagian jatah menginap. Kalau masalah rasa cinta di dalam hati, itu dimaafkan karena manusia tidak bisa mengaturnya secara paksa.
B) Mampu Secara Keuangan: Suami harus mapan dan punya uang yang cukup untuk membiayai pernikahan baru serta menjamin nafkah wajib untuk istri-istri sebelumnya.
Sumber: Kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu (Juz IX, hlm. 6669–6670).
Ibarot Arab:
Kitab al-Fiqhul-Islam wa Adillatuhu juz 9 hal 6669-6670 aplikasi Turots
قيود إباحة التعدد:
اشترطت الشريعة لإباحة التعدد شرطين جوهريين هما:
١ - توفير العدل بين الزوجات: أي العدل الذي يستطيعه الإنسان، ويقدر عليه، وهو التسوية بين الزوجات في النواحي المادية من نفقة وحسن معاشرة ومبيت، لقوله تعالى: ﴿فإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة، أو ما ملكت أيمانكم، ذلك أدنى ألا تعولوا﴾ [النساء:٣/ ٤] فإنه تعالى أمر بالاقتصار على واحدة إذا خاف الإنسان الجور ومجافاة العدل بين الزوجات.
وليس المراد بالعدل - كما بان في أحكام الزواج الصحيح - هو التسوية في العاطفة والمحبة والميل القلبي، فهوغير مراد؛ لأنه غير مستطاع ولا مقدور لأحد، والشرع إنما يكلف بما هو مقدور للإنسان، فلا تكليف بالأمور الجبلِّية الفطرية التي لا تخضع للإرادة مثل الحب والبغض.
ولكن خشية سيطرة الحب على القلب أمر متوقع، لذا حذر منه الشرع في الآية الكريمة: ﴿ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء، ولو حرصتم، فلا تميلوا كل الميل، فتذروها كالمعلقة﴾ [النساء:١٢٩/ ٤] وهو كله لتأكيد شرط العدل، وعدم الوقوع في جور النساء، بترك الواحدة كالمعلقة، فلا هي زوجة تتمتع بحقوق الزوجية، ولا هي مطلقة. والعاقل: من قدَّر الأمور قبل وقوعها، وحسب للاحتمالات والظروف حسابها، والآية تنبيه على خطر البواعث والعواطف الداخلية، وليست كما زعم بعضهم لتقرير أن العدل غير مستطاع، فلا يجوز التعدد، لاستحالة تحقق شرط إباحته.
٢ - القدرة على الإنفاق: لا يحل شرعًا الإقدام على الزواج، سواء من واحدة أو من أكثر إلا بتوافر القدرة على مؤن الزواج وتكاليفه، والاستمرار في أداء النفقة الواجبة للزوجة على الزوج، لقوله ﷺ: «يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج ...» والباءة: مؤنة النكاح
6. Hukum Menikahi Orang Beda Agama di Zaman Sekarang
Setelah membedah konteks kekinian dan mencocokkannya dengan teks kitab, hasil rumusan diskusi menyimpulkan bahwa pernikahan beda agama antara seorang pria muslim dengan wanita non-muslim (meskipun mengaku Ahli Kitab) di zaman sekarang hukumnya adalah haram dan tidak sah.
Alasan: Kitab Nihayatul-Muhtaj (Juz VI, hlm. 291) menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani zaman sekarang sudah tidak memenuhi kriteria "Ahli Kitab" yang dihalalkan di dalam Al-Qur'an. Hal ini karena kitab suci mereka sudah banyak diubah dan silsilah keturunan mereka sudah tidak jelas lagi (apakah nenek moyang mereka masuk agama tersebut sebelum atau sesudah kitab sucinya dipalsukan).
Sikap Kehati-hatian: Karena adanya keraguan besar tentang keaslian status mereka, maka demi menjaga kesucian pernikahan, fiqih mewajibkan kita mengambil sikap hati-hati (ihtiyath) dengan menyatakan pernikahan tersebut dilarang.
Ibarot Arab:
Kitab Nihayatul-Muhtaj hal 291 juz 6 aplikasi Turots
وَالْأَصَحُّ الْمَنْعُ لِبُطْلَانِ فَضِيلَةِ الدِّينِ بِتَحْرِيفِهِ، وَخَرَجَ بِعُلِمَ مَا لَوْ شَكَّ هَلْ دَخَلُوا قَبْلَ التَّحْرِيفِ، أَوْ بَعْدَهُ، أَوْ قَبْلَ النَّسْخِ، أَوْ بَعْدَهُ، فَلَا تَحِلُّ مُنَاكَحَتُهُمْ وَلَا ذَبَائِحُهُمْ أَخْذًا بِالْأَحْوَطِ
Kontributor: Sultan Aladin





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?