![]() |
| Gamelan, Dokumentasi Pribadi |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM - Ada yang menarik ketika seseorang ditanya apakah mereka pernah menyaksikan pertunjukan karawitan di Kota Malang. Jawabannya jujur dan singkat “belum pernah”. Padahal kota ini menyimpan komunitas-komunitas karawitan yang masih hidup, berlatih, dan berjuang keras mempertahankan eksistensinya di tengah zaman yang bergantung dengan trend di sosial media. Pedapat ini sangat menarik untuk direnungkan bersama, karena karawitan kehadirannya ada tapi tak selalu terasa ada.
Karawitan Malang dan Identitasnya yang Unik
Pelaku karawitan yang bergabung dalam komunitas seni di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya menceritakan bagaimana kecintaannya pada gamelan itu tumbuh sejak kecil, ketika suara gamelan selalu menggema di setiap hajatan dan upacara desa tempatnya dibesarkan. Bagi dirinya, gamelan bukan instrumen biasa. Ada getaran dan rasa magis dari frekuensi suara perunggu itu yang membuatnya terus kembali. Bermain gamelan adalah proses menekan ego untuk menyelaraskan diri dengan penabuh lainnya, sebuah hal yang justru semakin sulit ditemukan di era yang serba individualistis ini.
Karawitan gaya Malangan sendiri memiliki karakter yang berbeda dari gaya Mataraman asal Solo atau Yogyakarta. Ia lebih dinamis, tegas, dan rancak, mencerminkan watak masyarakat Malang yang lugas. Namun justru kekhasan ini yang kini terancam tidak terlihat. Gaya Mataraman lebih banyak muncul di platform digital dan lebih sering dianggap sebagai representasi karawitan Jawa secara umum. Akibatnya, identitas karawitan Malangan perlahan tergerus bukan karena ia kehilangan nilainya, melainkan karena ia kehilangan ruang untuk tampil dan dikenal.
Stigma yang Lebih Berbahaya dari Globalisasi
Ketika ditanya soal tantangan terbesar dalam melestarikan karawitan, narasumber dari pelaku seni ini tidak menjawab teknologi atau globalisasi sebagai musuh utama. Justru ia menyebut dua hal yaitu kompetisi atensi dan stigma kuno. Platform seperti TikTok dan Instagram menawarkan hiburan yang instan, sementara belajar karawitan menuntut ketekunan dan proses yang panjang. Menjaga konsistensi anak muda di tengah gempuran konten digital adalah perjuangan tersendiri yang tidak bisa dianggap remeh.
Stigma terhadap karawitan sendiri menjadi musuh utama. Masih banyak anak muda yang beranggapan karawitan dengan sesuatu yang mistis, membosankan, atau identik dengan dunia orang tua. Pandangan ini dibenarkan secara tidak langsung oleh narasumber dari kalangan mahasiswa yang diwawancarai, ia menyebutkan bahwa audiens utama karawitan saat ini memang masih didominasi oleh generasi yang lebih tua. Jika persepsi ini dibiarkan terus- menerus tanpa ada upaya mengubahnya, maka karawitan berisiko terjebak dalam lingkaran yang tertutup saja, hanya dikenal oleh mereka yang sudah mengenalnya saja.
Hadir di Festival, Absen di Keseharian
Pemerintah Kota Malang sebenarnya tidak absen dalam urusan pelestarian budaya. Komunitas karawitan rutin diundang tampil di festival tahunan dan pawai budaya. Taman Krida Budaya Jawa Timur menjadi salah satu panggung yang disediakan. Namun kehadiran itu berhenti di sana meriah saat ada acara, lalu sunyi kembali setelahnya. Bantuan untuk perawatan instrumen gamelan yang biayanya tidak murah, kesejahteraan para pelatih yang mengabdi tanpa banyak penghargaan,
Pelestarian seni ini akan terus bergantung pada semangat komunitas yang sumber dayanya terbatas. Sementara itu, generasi muda yang sesungguhnya terbuka tidak pernah mendapat akses yang cukup untuk berpindah dari sekadar simpati menjadi keterlibatan nyata. Simpati tanpa akses tidak akan pernah menjadi pelestarian.
Karawitan Tidak Butuh Dikasihani, Ia Butuh Dihadirkan
Karawitan Malang tidak sedang sekarat. Ia sedang berjuang dengan caranya sendiri, dengan inovasi yang lahir dari dalam komunitas, dengan seniman yang terus berlatih meski panggungnya mengecil, dengan pengajar yang sabar memperkenalkan gending satu per satu kepada siapa pun yang mau datang. Namun perjuangan itu tidak akan cukup jika dilakukan sendirian.
Sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, bukan hanya soal bersatu dalam politik. Ia juga soal merawat keberagaman budaya sebagai bagian dari identitas bersama yang tidak boleh dibiarkan tergerus oleh waktu. Membiarkan karawitan makin jauh dari jangkauan generasi muda berarti membiarkan satu bagian penting dari jati diri bangsa ini perlahan tidak dikenali oleh pewarisnya sendiri.
Sebagaimana diungkapkan oleh narasumber sebagai pelaku karawitan yang diwawancarai mengungkapkan “Gamelan adalah identitas, akar, dan karakter kita. Ia tidak meminta untuk dikagumi dari kejauhan. Ia hanya meminta untuk dicoba, untuk didekati, untuk didengar dengan sungguh-sungguh. Maka pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi apakah karawitan Malang masih hidup, melainkan apakah kita masih mau peduli”.
Daftar Pustaka
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. (2025, November 7). Festival gamelan dan sinden: Pekan wayang dan gamelan 2025. SMKN 8 Surakarta.
Malang Posco Media. (2025, Februari 24). Festival seni tradisi Malang rebut perhatian generasi muda. Di akses dari https://malangposcomedia.id/festival-seni-tradisi-malang-rebut-perhatian-generasi-muda/
Mubah, A. S. (2011). Strategi meningkatkan daya tahan budaya lokal dalam menghadapi arus globalisasi. Jurnal Unair, 24(4), 302–308.
Sekretariat Negara Republik Indonesia. (2024). Peran generasi Z dalam pemertahanan budaya lokal di tengah masuknya budaya asing. Di akses dari
https://www.setneg.go.id/baca/index/peran_generasi_z_dalam_pemertahanan_budaya_lokal_di_tengah_masuknya_budaya_asing
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. (2017). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 104.
Daniswara, Bagas. 2026. "Karawitan Malang Masih Hidup, Tapi Siapa yang Peduli?". Wawancara Pribadi, 26 Mei 2026. Malang.
Anneddia, Inge. 2026. "Karawitan Malang Masih Hidup, Tapi Siapa yang Peduli?". Wawancara Pribadi, 26 Mei 2026. Malang.
Penulis : Indah Resqiani

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?