Indikasi Propaganda Pesta Babi dan Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa di Era Digital
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Munculnya polemik terkait dugaan propaganda yang membonceng film Pesta Babi menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai narasi yang berpotensi mengganggu persatuan nasional.
Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media digital, publik dituntut tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu bersikap kritis dalam memahami pesan yang disampaikan melalui berbagai bentuk konten.
Pernyataan pengamat politik Rico Marbun mengenai adanya indikasi pola propaganda disintegrasi dalam film tersebut patut menjadi bahan refleksi bersama.
Menurutnya, terdapat sejumlah pola komunikasi yang dinilai mengarah pada pembentukan narasi pemisahan Papua dari Indonesia, mulai dari penggunaan simbol dan bahasa yang memisahkan Papua dengan Indonesia, penolakan terhadap berbagai upaya pembangunan yang dilakukan pemerintah, hingga pembentukan sentimen ketidakpercayaan terhadap negara.
Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang, satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Indonesia merupakan bangsa besar yang dibangun atas keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa. Persatuan yang selama ini terjaga menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai tantangan nasional maupun global.
Kebebasan berekspresi memang merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati. Namun, kebebasan tersebut juga perlu dibarengi dengan tanggung jawab sosial dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. Kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan hal yang sah dalam sistem demokrasi, tetapi kritik hendaknya menjadi sarana perbaikan, bukan instrumen yang dapat menumbuhkan kebencian atau mendorong lahirnya perpecahan.
Di era digital saat ini, propaganda tidak selalu hadir dalam bentuk kampanye politik terbuka. Ia dapat hadir melalui narasi, simbol, visual, maupun konten yang secara perlahan membentuk persepsi publik. Karena itu, literasi digital menjadi benteng penting agar masyarakat mampu memilah informasi secara objektif dan tidak mudah terpengaruh oleh pesan-pesan yang berpotensi menggerus semangat persatuan.
Bangsa Indonesia telah berkali-kali membuktikan kemampuannya menghadapi berbagai tantangan karena kuatnya rasa kebersamaan dan nasionalisme. Oleh sebab itu, setiap upaya yang berpotensi menimbulkan disintegrasi harus disikapi secara bijak, proporsional, dan berdasarkan fakta. Masyarakat perlu mengedepankan dialog, menjaga toleransi, serta menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun golongan.
Pada akhirnya, polemik mengenai dugaan propaganda dalam film Pesta Babi seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan bangsa adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Perbedaan pandangan boleh terjadi, namun komitmen terhadap keutuhan NKRI harus tetap menjadi titik temu bersama demi masa depan Indonesia yang aman, damai, dan sejahtera.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?