Banner Iklan

FTAB UB Kembali ke Khittah Teknologi Tepat Guna, 57 Inovasi Mahasiswa Siap Diterapkan di 57 Kelurahan Kota Malang

Anis Hidayatie
29 Juni 2026 | 10.02 WIB Last Updated 2026-06-29T03:03:07Z

 


Wakil Rektor UB Prof Unti Ludigdo sebut FTAB Kembali ke Khittoh, pukul gong buka Expo 

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menggelar Expo Inovasi Program 3M (Mahasiswa Membangun Mitra) di Gedung Samantha Krida UB, Senin (29/6/2026). 

Sebanyak 57 karya inovasi teknologi hasil kreativitas mahasiswa dipamerkan dan siap diterapkan di 57 kelurahan di Kota Malang.

Kegiatan tersebut menjadi wujud komitmen kampus dalam menghadirkan teknologi tepat guna yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat, mulai dari bidang pangan, lingkungan, ekonomi sirkular, hingga pemberdayaan masyarakat.

Ketua panitia, Hendrik, menyampaikan bahwa expo inovasi tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif mahasiswa, dosen, pemerintah daerah, serta berbagai mitra yang selama ini mendukung pengembangan teknologi berbasis kebutuhan masyarakat.

"Kegiatan ini menjadi ajang untuk memperlihatkan hasil inovasi mahasiswa yang nantinya benar-benar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Kami berharap berbagai masukan dan evaluasi dari para tamu undangan dapat menyempurnakan implementasi program ini ke depan," ujarnya.

Sementara itu, Dekan FTAB Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Yusuf Hendrawan, S.T.P., M.App.Life.Sc., Ph.D. menegaskan bahwa perguruan tinggi harus hadir memberikan solusi konkret bagi masyarakat.

Menurutnya, sebanyak 57 inovasi yang dipamerkan merupakan karya dari 856 mahasiswa FTAB yang dibimbing oleh 12 dosen. Seluruh inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan di bidang pangan, industri, lingkungan, ekonomi sirkular, pemberdayaan masyarakat, serta pembangunan berkelanjutan.

"Yang membanggakan, seluruh karya ini tidak berhenti sebagai prototipe di laboratorium. Hari ini, 57 inovasi tersebut akan diterapkan di 57 kelurahan di Kota Malang melalui gerakan Satu Kelurahan Satu Karya," ungkap Yusuf.

Ia menambahkan, program tersebut menjadi komitmen FTAB agar inovasi yang dihasilkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang bisa dirasakan langsung masyarakat.

"Perguruan tinggi abad ke-21 tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan penelitian, tetapi harus menjadi motor transformasi masyarakat. Inovasi terbaik bukanlah yang paling banyak dipublikasikan, tetapi yang benar-benar digunakan oleh masyarakat," tegasnya.

Program 3M juga disebut selaras dengan berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan, kesehatan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta upaya menghadapi perubahan iklim.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa teknologi bukan sekadar persoalan kecanggihan mesin, melainkan bagaimana teknologi sederhana, murah, mudah diterapkan, namun mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Indonesia yang kuat dibangun bukan hanya dari kota-kota besar, tetapi juga dari desa dan masyarakat yang mandiri. Karena itu, melalui gerakan Satu Kelurahan Satu Karya, kami ingin menjadi bagian dari pembangunan Indonesia dari akar rumput," katanya.

Yusuf juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya mengembalikan khittah FTAB sebagai fakultas yang memiliki kekhasan dalam menghasilkan teknologi tepat guna.

"Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem memiliki pembeda dengan fakultas lain, yakni menghasilkan rekayasa teknologi tepat guna yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Itu yang menjadi identitas kami," tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor UB Bidang Informasi dan Sumber Daya Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak mengapresiasi langkah FTAB yang dinilainya telah kembali pada khittah pengembangan teknologi untuk kemandirian bangsa.

Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi kunci penting agar Indonesia mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri dan tidak bergantung pada negara lain.

"Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem kembali ke khittahnya, yakni menjadikan bangsa ini lebih mandiri dan berdaulat melalui penguasaan teknologi," ujarnya.

Prof. Unti menilai, 57 teknologi yang akan disebarkan ke masing-masing kelurahan memang memiliki nilai investasi sekitar Rp10 juta per unit, namun manfaatnya sangat besar bagi masyarakat.

"Nilainya mungkin terlihat kecil, tetapi manfaatnya sangat besar. Yang penting adalah keberlanjutannya," katanya.

Ia pun memberikan pesan khusus kepada pihak fakultas agar menyediakan layanan purna hibah sehingga masyarakat dapat melakukan perawatan dan perbaikan secara mandiri.

"Harus jelas layanan purna hibahnya. Kalau alat rusak, masyarakat bisa memperbaiki di mana dan bagaimana. Jangan sampai teknologi ini hanya menjadi monumen tanpa manfaat jangka panjang," tegasnya.


Expo inovasi tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat Pemerintah Kota Malang, di antaranya Camat Sukun Dian, yang mengapresiasi kerja sama antara Universitas Brawijaya dan Pemkot Malang.

Menurutnya, masyarakat sangat membutuhkan teknologi yang aplikatif dan memberikan dampak nyata terhadap lingkungan maupun perekonomian.

"Kami ingin melihat sejauh mana teknologi yang dihasilkan mahasiswa benar-benar bermanfaat dan bisa diterapkan masyarakat. Yang terpenting itu aplikatif dan berdampak," katanya.

Ia mencontohkan salah satu alat pengolahan sampah yang diserahkan kepada Kelurahan Bandulan sebagai solusi persoalan sampah perkotaan.

"Persoalan sampah menjadi salah satu masalah terbesar di perkotaan. Alat pencampur kompos ini sangat penting untuk mempermudah proses pengolahan sampah menjadi kompos sehingga masyarakat tidak lagi sekadar membuang sampah begitu saja," jelasnya.

Sementara itu, Lurah Bandulan, Lukman, mengaku terkesan dengan teknologi yang diterima warganya, termasuk penggunaan panel surya yang membuat alat tersebut dapat beroperasi secara mandiri.

"Saya baru melihat teknologi dengan solar cell seperti ini. Sambil ngopi, alatnya bisa tetap berjalan sendiri," ujarnya sambil tersenyum.

Ia memastikan penggunaan teknologi tersebut akan diawali dengan percontohan di satu RT sebelum diperluas ke wilayah lainnya.

"Kami akan membuat percontohan dulu di satu RT karena alat ini portable dan bisa dipindah-pindah. Nanti akan kami kawal penggunaannya agar benar-benar dimanfaatkan masyarakat," ucapnya.

Expo Inovasi Program 3M ini, FTAB Universitas Brawijaya juga mengumumkan 3 kelompok terbaik:


Diumumkan pula 3 kelompok terbaik,

Juara ke 3 Kelompok 24, kesatrian

Terbaik ke 2 Kelompok 43 , Purwodadi 

Terbaik pertama nomor 52 kelurahan Tlogomas.




Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • FTAB UB Kembali ke Khittah Teknologi Tepat Guna, 57 Inovasi Mahasiswa Siap Diterapkan di 57 Kelurahan Kota Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now