Foto: Dokumentasi bersama dewan penguji
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali meneguhkan komitmennya sebagai pusat pengembangan keilmuan Manajemen Pendidikan Islam melalui lahirnya doktor baru dari Program Studi Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di gedung pasca sarjana pada Kamis (25) kemarin.
Dalam Ujian Promosi Doktor, Dr. Zaedun Na'im, dosen tetap dan Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Strategi Pondok Pesantren dalam Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan Santri (Studi Multikasus di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang dan Pesantren Kampus Ainul Yaqin UNISMA Malang)." Penelitian tersebut tidak hanya mengantarkan promovendus meraih gelar doktor, tetapi juga melahirkan sebuah model konseptual baru yang memperkaya khazanah Manajemen Pendidikan Islam dalam bidang kaderisasi kepemimpinan santri di lingkungan pesantren mahasiswa.
Berangkat dari Kebutuhan Pendidikan Mahasiswa yang Utuh
Penelitian ini lahir dari kegelisahan akademik terhadap semakin besarnya kebutuhan mahasiswa akan pendidikan yang utuh (holistic education). Mahasiswa saat ini tidak cukup hanya dibekali kompetensi akademik dan keahlian profesional melalui perkuliahan di berbagai perguruan tinggi. Mereka juga membutuhkan pembinaan karakter, penguatan spiritualitas, pengalaman hidup beragama, kemampuan memimpin, serta pembiasaan nilai-nilai Islam yang dilaksanakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena tersebut mendorong lahir dan berkembangnya pesantren mahasiswa sebagai model pendidikan yang mengintegrasikan kehidupan akademik kampus dengan tradisi pendidikan pesantren. Pesantren mahasiswa menjadi ruang pembentukan intelektual, spiritual, sosial, sekaligus kepemimpinan sehingga mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang keilmuan, tetapi juga matang secara moral, religius, dan sosial.
Menariknya, setiap pesantren mahasiswa memiliki karakteristik pembinaan yang berbeda. Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang mengembangkan kepemimpinan melalui internalisasi nilai-nilai pesantren, budaya spiritual, organisasi santri, dan pembiasaan hidup berjamaah. Sementara itu, Pesantren Kampus Ainul Yaqin UNISMA Malang lebih menonjolkan integrasi kehidupan pesantren dengan aktivitas kemahasiswaan melalui berbagai program organisasi, kepanitiaan, pengabdian masyarakat, dakwah kampus, dan pengembangan soft skills. Perbedaan karakteristik tersebut justru menjadi kekuatan masing-masing pesantren dalam melahirkan calon-calon pemimpin di berbagai bidang kehidupan.
Namun demikian, hingga saat ini kajian mengenai strategi pesantren mahasiswa dalam membentuk jiwa kepemimpinan santri masih relatif terbatas. Sebagian besar penelitian lebih banyak menyoroti kepemimpinan kiai atau tata kelola pesantren, sementara proses kaderisasi kepemimpinan santri sebagai subjek utama pendidikan pesantren belum banyak dikembangkan secara komprehensif. Berangkat dari kesenjangan tersebut, penelitian ini berupaya menghasilkan model kaderisasi kepemimpinan santri yang dapat menjadi rujukan bagi pesantren mahasiswa di Indonesia.
Penelitian Dilaksanakan pada Dua Pesantren Mahasiswa Berkarakter Berbeda
Penelitian ini dilaksanakan di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang dan Pesantren Kampus Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) yang dipilih bukan semata-mata karena keduanya dikenal sebagai pesantren mahasiswa terkemuka, melainkan karena masing-masing merupakan information rich cases yang memiliki karakteristik, budaya, sistem pembinaan, dan strategi kaderisasi kepemimpinan yang berbeda. Perbedaan tersebut memberikan ruang bagi peneliti untuk melakukan analisis lintas kasus sehingga mampu menemukan pola umum sekaligus kekhasan strategi pembentukan jiwa kepemimpinan santri.
Pesantren Mahasiswa Al-Hikam mengembangkan pembinaan kepemimpinan melalui penguatan budaya pesantren (Ruhul Ma'had), internalisasi nilai-nilai keislaman, keteladanan para pengasuh, organisasi santri, serta pembiasaan hidup berjamaah. Sementara itu, Pesantren Kampus Ainul Yaqin UNISMA mengembangkan kepemimpinan melalui integrasi kehidupan pesantren dengan aktivitas akademik kampus, pelibatan santri dalam organisasi, kepanitiaan, dakwah, pengabdian kepada masyarakat, dan berbagai program pengembangan soft skills. Kedua pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pesantren mahasiswa mampu menjadi laboratorium kepemimpinan yang mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, sosial, dan manajerial.
Temuan Penting Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jiwa kepemimpinan santri di pesantren mahasiswa merupakan konstruksi multidimensional yang tidak hanya menekankan kemampuan memimpin organisasi, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan yang utuh. Kepemimpinan ideal dibangun melalui integrasi tiga peran utama, yaitu Imam sebagai pemimpin spiritual yang mampu menjadi teladan, Mudabbir sebagai pemimpin yang memiliki kemampuan mengelola organisasi dan mengambil keputusan, serta Khadim sebagai pemimpin yang berorientasi pada pelayanan dan kemaslahatan masyarakat. Integrasi ketiga dimensi tersebut menjadi karakter khas kepemimpinan santri yang membedakannya dari model kepemimpinan pada umumnya.
Penelitian juga menemukan bahwa proses penumbuhan jiwa kepemimpinan santri berlangsung secara bertahap melalui empat tahapan utama yang merupakan implementasi Teori Belajar Sosial Albert Bandura, yaitu Learning (Attention), Involvement (Retention), Delegation (Reproduction), dan Authority Granting (Motivation). Tahapan tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinan tidak dibentuk melalui ceramah atau pelatihan semata, melainkan melalui proses keteladanan, keterlibatan langsung, pemberian tanggung jawab, hingga kepercayaan untuk memimpin secara mandiri.
Penelitian ini juga mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung keberhasilan kaderisasi kepemimpinan santri, antara lain budaya Ruhul Ma'had, ekosistem pendampingan sebaya, dukungan kelembagaan yang terintegrasi, sistem penghargaan dan pembinaan, lingkungan pesantren yang kondusif, serta sinergi antara pesantren, perguruan tinggi, dan keluarga. Sebaliknya, beberapa kendala yang dihadapi meliputi rendahnya motivasi sebagian santri, dualisme peran sebagai mahasiswa dan santri, kendala birokrasi, keterbatasan infrastruktur, serta belum optimalnya sistem penguatan motivasi eksternal.
Lahirnya Model SANTRI–LEAD
Berdasarkan sintesis berbagai temuan empiris tersebut, Dr. Zaedun Na'im berhasil mengembangkan sebuah model baru yang diberi nama SANTRI–LEAD (Spiritual–Adaptive–Networked–Transformative–Responsible–Integrative Leadership). Model ini merupakan model strategi integratif-holistik yang menjelaskan bahwa keberhasilan pembentukan jiwa kepemimpinan santri hanya dapat dicapai apabila nilai-nilai spiritual, pembelajaran sosial, pengalaman organisasi, tanggung jawab, jejaring sosial, dan integrasi kehidupan pesantren dengan perguruan tinggi dibangun secara sistematis dalam satu ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.
Model SANTRI–LEAD memperluas perspektif kepemimpinan pesantren yang selama ini lebih berorientasi pada figur kiai menjadi pendekatan yang menempatkan santri sebagai subjek utama kaderisasi kepemimpinan. Dengan demikian, pesantren mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperdalam ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat pembentukan calon-calon pemimpin bangsa yang memiliki integritas, kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, kemampuan manajerial, dan kepedulian sosial.
Perspektif Filosofis: Kepemimpinan sebagai Proses Memanusiakan Manusia
Secara filosofis, penelitian ini dibangun atas keyakinan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi merupakan proses memanusiakan manusia (humanization process). Pesantren mahasiswa tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki integritas moral, kedewasaan spiritual, tanggung jawab sosial, dan kemampuan memimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan dipahami sebagai hasil dari proses pembinaan karakter yang berlangsung secara terus-menerus melalui keteladanan, pengalaman, pembiasaan, refleksi, dan pengabdian.
Model SANTRI–LEAD menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak dilahirkan secara instan, melainkan dibentuk melalui proses pendidikan yang sistematis. Kepemimpinan yang kuat lahir ketika nilai-nilai spiritual bertemu dengan pengalaman organisasi, kemampuan adaptasi, jejaring sosial, tanggung jawab, serta budaya belajar yang hidup dalam lingkungan pesantren. Filosofi tersebut menjadi landasan bahwa pesantren mahasiswa merupakan ruang pembelajaran kepemimpinan yang menyatukan dimensi intelektual, emosional, sosial, dan spiritual dalam satu kesatuan yang utuh.
Perspektif Islam: Kepemimpinan sebagai Amanah dan Khidmah
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT sekaligus menjadi sarana memberikan kemaslahatan bagi umat. Seorang pemimpin bukanlah orang yang paling berkuasa, tetapi orang yang paling besar tanggung jawabnya. Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Nilai tersebut tercermin dalam temuan penelitian yang menempatkan imam, mudabbir, dan khadim sebagai satu kesatuan karakter kepemimpinan santri. Seorang santri tidak hanya dibimbing agar mampu memimpin organisasi, tetapi juga menjadi teladan dalam ibadah, mampu mengelola amanah dengan baik, serta memiliki semangat melayani masyarakat. Dengan demikian, kepemimpinan dalam pesantren mahasiswa tidak berorientasi pada kekuasaan (power oriented), melainkan pada pengabdian (service oriented) yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Kontribusi bagi Pengembangan Manajemen Pendidikan Islam
Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis yang penting bagi pengembangan Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam, khususnya dalam kajian manajemen strategik pesantren dan kepemimpinan pendidikan Islam. Selama ini kajian kepemimpinan pesantren lebih banyak menempatkan kiai sebagai aktor utama, sedangkan penelitian ini menghadirkan perspektif baru dengan menempatkan santri sebagai subjek utama kaderisasi kepemimpinan melalui sistem pembinaan yang terencana, bertahap, dan berkelanjutan.
Selain melahirkan Model SANTRI–LEAD, penelitian ini juga memperkuat penerapan Teori Belajar Sosial Albert Bandura dalam konteks pendidikan pesantren. Proses belajar melalui keteladanan, pelibatan aktif, pendelegasian tugas, dan pemberian kepercayaan terbukti menjadi strategi efektif dalam membentuk jiwa kepemimpinan santri. Dengan demikian, model ini tidak hanya relevan bagi pesantren mahasiswa, tetapi juga dapat diadaptasi oleh pesantren lain, lembaga pendidikan Islam, bahkan perguruan tinggi yang mengembangkan program pembinaan kepemimpinan mahasiswa.
Ketua Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas capaian akademik Dr. Zaedun Na'im. Menurut beliau, penelitian doktoral harus mampu menghasilkan temuan, model, dan kontribusi keilmuan, bukan sekadar mendeskripsikan fenomena.
"Pesantren mahasiswa merupakan inovasi pendidikan Islam yang menjawab kebutuhan generasi muda terhadap pendidikan yang utuh. Mahasiswa memperoleh kompetensi akademik di perguruan tinggi, sekaligus memperoleh pembinaan spiritual, karakter, budaya hidup Islami, dan pengalaman kepemimpinan di pesantren. Model SANTRI–LEAD yang dihasilkan Dr. Zaedun Na'im menunjukkan bahwa kaderisasi kepemimpinan santri dapat dibangun melalui strategi yang sistematis, integratif, dan berkelanjutan. Temuan ini memperkaya khazanah Manajemen Pendidikan Islam dan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan pesantren mahasiswa di Indonesia," ungkapnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?