Banner Iklan

Diskusi Publik, Pakar Geo Politik Yusuf R Hakim Sebut Ancaman Siber dan Geo-Ekonomi Kian Nyata Mahasiswa Diajak Kritis Membaca

Anis Hidayatie
17 Juni 2026 | 22.54 WIB Last Updated 2026-06-17T15:55:15Z


Pakar Geo Politik Yusuf R Hakim dalam diskusi publik di Kota Malang. 

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM:  Perubahan lanskap geopolitik dunia membawa tantangan baru yang tidak lagi identik dengan peperangan fisik. Ancaman terhadap kedaulatan negara kini berkembang ke ranah geo-ekonomi, teknologi informasi, dan dunia siber yang semakin sulit dikenali secara kasat mata.

Fenomena tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Diskusi Publik bertajuk “Perkembangan Dinamika Global dan Nasional dari Berbagai Perspektif” yang digelar Cafe Hyde Dekat UB di Kota Malang, Rabu (17/6/2026). 

Kegiatan ini menghadirkan Ahli Geopolitik dan Media, Yusuf R. Hakim, serta Staf Ahli Kementerian HAM, Penta Peturun, sebagai narasumber utama juga Mufti Makarim, ahli pertahanan dan keamanan, Direktur Eksekutif IDSPS: Ia menduduki posisi sebagai Direktur Eksekutif di Institute for Defence, Security and Peace Studies (IDSPS).

Dalam pemaparannya, Yusuf R. Hakim menjelaskan bahwa paradigma pertahanan negara telah mengalami transformasi besar. Jika pada masa lalu kekuatan negara ditentukan oleh penguasaan wilayah darat, laut, dan udara, maka kini dunia memasuki era baru di mana ruang siber menjadi medan strategis yang menentukan.

“Negara modern saat ini sudah bergerak menguasai dunia siber. Muncul karakter keempat sebagai matra baru yang sangat menentukan, yaitu media massa dan dunia digital. Ancaman utama kita hari ini justru diawali dari sektor geo-ekonomi, bukan militer langsung,” ujarnya.

Menurut Yusuf, perang modern tidak selalu hadir dalam bentuk serangan bersenjata. Penguasaan informasi, manipulasi opini publik, hingga penyebaran disinformasi menjadi instrumen baru yang mampu memengaruhi stabilitas sosial dan politik suatu negara.

Ia mengungkapkan bahwa dominasi media arus utama sebagai sumber informasi utama masyarakat mulai bergeser. Berdasarkan berbagai tren yang berkembang, sekitar 70 persen masyarakat kini lebih banyak mengonsumsi informasi melalui media sosial.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menghadirkan tantangan serius karena algoritma digital mampu membentuk polarisasi masyarakat secara sistematis.

 Yusuf mencontohkan fenomena politik yang pernah berkembang di Indonesia dengan munculnya label-label tertentu yang kemudian terus dipelihara oleh sistem algoritma media sosial.

“Algoritma ini menyaring dan mengategorikan masyarakat untuk mempermudah penyampaian pesan tertentu. Bahayanya, kemarahan dan sentimen negatif sengaja diolah serta diproduksi di dunia maya lalu ditarik ke dalam kehidupan nyata. Ini yang harus kita waspadai bersama,” tegasnya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi digital.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita sangat membutuhkan orang-orang yang tetap berpikir kritis dan realistis,” tambahnya.

Sementara itu, Staf Ahli Kementerian HAM, Penta Peturun, menyoroti posisi Indonesia dalam percaturan global. Menurutnya, Indonesia merupakan negara besar yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah sekaligus pasar domestik yang sangat besar sehingga menjadi perhatian banyak pihak dalam kompetisi global.

“Dalam konteks global, semua hal bisa terjadi. Oleh karena itu, kita harus pintar dan jeli dalam membaca serta menempatkan posisi Indonesia di tengah sengitnya dinamika politik global,” ujarnya.

Penta menekankan bahwa tantangan global saat ini menuntut masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memiliki wawasan kebangsaan yang kuat serta kemampuan memahami perubahan dunia secara objektif.

Diskusi diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur. Menjadi ruang dialog bagi peserta untuk menyampaikan pandangan dan refleksi mereka terhadap kondisi bangsa. Ans




Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Diskusi Publik, Pakar Geo Politik Yusuf R Hakim Sebut Ancaman Siber dan Geo-Ekonomi Kian Nyata Mahasiswa Diajak Kritis Membaca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now