Banner Iklan

Camat Blimbing Apresiasi Inovasi Mahasiswa UB, Teknologi Disesuaikan dengan Potensi Tiap Wilayah

Anis Hidayatie
29 Juni 2026 | 17.43 WIB Last Updated 2026-06-29T10:44:16Z


Camat Blimbing dan  Mahasiswa UB

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Camat Blimbing, Widi, mengapresiasi langkah Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) yang menghadirkan teknologi tepat guna sesuai karakteristik dan potensi unggulan masing-masing wilayah melalui Expo Inovasi Program 3M (Mahasiswa Membangun Mitra), yang digelar di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Senin (29/6/2026).

Sebanyak 57 karya inovasi hasil kreativitas mahasiswa dipamerkan dan akan diterapkan di 57 kelurahan di Kota Malang. Program tersebut menjadi bagian dari gerakan “Satu Kelurahan Satu Karya” yang diinisiasi FTAB UB sebagai bentuk pengabdian dan pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi.

Camat Blimbing, Widi, menilai inovasi yang dikembangkan mahasiswa tidak dibuat secara umum, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan dan keunggulan masing-masing wilayah.

"Bantuan dari kelompok mahasiswa UB ini sudah sesuai dengan spesifikasi wilayah, termasuk keunggulan yang dimiliki masing-masing daerah. Misalnya untuk wilayah yang potensial di bidang pertanian, mereka membuat teknologi yang mendukung pengembangan tanaman. Sedangkan di Purwantoro yang lebih berkembang pada sektor perdagangan dan UMKM, mereka membuat inovasi untuk packing atau pengemasan produk," ujar Widi.

Menurutnya, mahasiswa terlebih dahulu melakukan pemetaan potensi di tingkat RW sebelum menentukan teknologi yang akan diterapkan. Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

"Mereka melihat apa yang menjadi dominasi dan keunggulan di wilayah tersebut, baru kemudian membuat inovasinya. Meskipun sebelumnya sudah ada alat yang bagus, adik-adik mahasiswa tetap berupaya menghadirkan teknologi yang lebih cepat, lebih praktis, dan lebih serbaguna," katanya.

Widi juga mengapresiasi penggunaan komponen dalam negeri pada berbagai alat yang dipamerkan sehingga lebih mudah dalam pemeliharaan dan pengembangannya di masa mendatang.

Ia berharap inovasi tersebut terus disempurnakan agar mampu memenuhi standar kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang membutuhkan kualitas kemasan produk yang lebih baik dan bernilai jual tinggi.

"Harapannya spesifikasinya semakin bagus, hasil kemasannya lebih halus dan lebih memenuhi standar pasar sehingga produk-produk UMKM kita bisa semakin berkembang dan bersaing," ungkapnya.

Sementara itu, Dekan FTAB Universitas Brawijaya, Yusuf Hendrawan, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus hadir memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

Sebanyak 57 inovasi yang dipamerkan merupakan hasil karya 856 mahasiswa FTAB yang dibimbing oleh 12 dosen. Inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan di bidang pangan, industri, lingkungan, ekonomi sirkular, pemberdayaan masyarakat, serta pembangunan berkelanjutan.

"Yang membanggakan, seluruh karya ini tidak berhenti sebagai prototipe di laboratorium. Hari ini, 57 inovasi tersebut akan diterapkan di 57 kelurahan di Kota Malang melalui gerakan Satu Kelurahan Satu Karya," ujar Yusuf.

Menurutnya, perguruan tinggi abad ke-21 tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan penelitian, tetapi juga harus menjadi motor transformasi sosial di tengah masyarakat.

"Inovasi terbaik bukanlah inovasi yang paling banyak dipublikasikan, tetapi inovasi yang benar-benar digunakan dan memberikan manfaat sosial, ekonomi, serta lingkungan bagi masyarakat," tegasnya.

Program tersebut juga selaras dengan berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan, kesehatan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.

Yusuf menambahkan, kegiatan ini sekaligus mengembalikan khittah FTAB sebagai fakultas yang fokus menghasilkan teknologi tepat guna bagi masyarakat.

"Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem memiliki pembeda dibanding fakultas lainnya, yaitu menghasilkan rekayasa teknologi yang murah, sederhana, mudah diterapkan, namun memberikan dampak besar bagi masyarakat. Itu menjadi identitas kami," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor UB Bidang Informasi dan Sumber Daya, Prof. Kunti, mengapresiasi komitmen FTAB dalam membangun kemandirian bangsa melalui penguasaan teknologi.

Ia menyebut, 57 teknologi yang disalurkan ke masing-masing kelurahan memiliki nilai sekitar Rp10 juta per unit, namun manfaatnya jauh lebih besar bagi masyarakat.

"Nilainya mungkin terlihat kecil, tetapi manfaatnya sangat besar. Yang terpenting adalah keberlanjutannya sehingga masyarakat bisa terus memanfaatkan teknologi tersebut," ujarnya.

Prof. Kunti juga berpesan agar fakultas menyediakan layanan purna hibah sehingga masyarakat dapat melakukan perawatan dan perbaikan alat secara mandiri.

"Harus jelas layanan purna hibahnya. Kalau alat mengalami kerusakan, masyarakat harus tahu ke mana memperbaikinya agar teknologi ini tidak hanya menjadi monumen, tetapi benar-benar memberikan manfaat jangka panjang," tegasnya.

Expo Inovasi Program 3M FTAB UB menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat mampu melahirkan teknologi tepat guna yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan dan perekonomian warga. Ans


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Camat Blimbing Apresiasi Inovasi Mahasiswa UB, Teknologi Disesuaikan dengan Potensi Tiap Wilayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now