SEMARANG | JATIMSATUNEWS: Alih-alih menggelar aksi di jalan, mahasiswa dan aktivis di Semarang memilih cara lain yang tak kalah kuat untukmenyuarakan sikap mereka soal Reformasi Jilid II: beradugagasan dalam forum diskusi terbuka, lengkap denganargumentasi tajam dari berbagai sudut pandang.
Forum “Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II” di Hans Kopi Veteran, Semarang, yang diselenggarakan RMOLJateng inimenghadirkan akademisi dan Pengamat Politik Undip Nur Hidayat Sardini, Waketum Luar Negeri LMND EvantioYudhistira, Presiden BEM Polines Kevin Kurnia Priambodo, serta budayawan Beno Siang Pamungkas, dipandu moderator Edhi Prayitno Ige.
Nur Hidayat Sardini membuka forum dengan argumentasi tegassoal minimnya ruang kritis di kotanya. “Di Semarang masihsangat sedikit forum yang secara serius membedah komitmenkita terhadap perbaikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” kata Nur Hidayat Sardini dalam forum diskusiBicara Merdeka: Reformasi Jilid II di Hans Kopi Veteran, Semarang, Sabtu (20/6/2026).
Argumentasinya berlanjut saat menyoal program KoperasiMerah Putih: “Bukan soal mendukung atau menolak, tetapibagaimana tata kelola program itu diperbaiki. Harus jelas siapasasaran penerima manfaat, bagaimana rekrutmen operatornya, serta bagaimana distribusinya agar tepat sasaran,” jelasnya. Iamendorong pelibatan institusi sosial seperti sekolah dan komunitas lokal, serta efektivitas anggaran negara, termasukprogram stunting pada 1.000 hari pertama kehidupan anak.
Argumentasi tak kalah kuat datang dari Evantio Yudhistira. “Diskusi seperti ini memang dibutuhkan oleh bangsa kita saatini. Diskusi yang ilmiah, penuh dialektika, menjadi kebutuhanbersama. Apa yang kita lakukan untuk bangsa saat inimembutuhkan persatuan nasional, dan salah satu bentuknyaadalah ruang diskusi seperti ini,” ujar Evantio.
“Kita harus melihat situasi secara objektif, jangan sampaitermakan algoritma atau emosi yang terus menampilkankeburukan. Kita harus melihat secara menyeluruh apa yang dilakukan negara saat ini,” tambahnya. Ia juga menekankanimplementasi Pasal 33 UUD 1945: “Selama ini kekayaan alamkita terlalu lama dieksploitasi oleh kepentingan imperialis dan oligarki. Momentum ini harus menjadi titik balik agar sumberdaya bangsa bisa dinikmati untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Presiden BEM Polines, Kevin Kurnia Priambodo, menambahkanargumentasi dari sisi mahasiswa, menyoroti pentingnyaketerlibatan generasi muda dalam mengawal kebijakan publikdan menjaga agar semangat reformasi tetap relevan dengankebutuhan masyarakat saat ini.
Sementara budayawan Beno Siang Pamungkas melengkapidiskusi dengan argumentasi dari sisi kebudayaan: pembangunanbangsa tidak cukup hanya ditopang kebijakan yang tepat, tetapijuga kesadaran budaya yang memperkuat karakter dan identitasmasyarakat.
Forum Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II diharapkan menjadiwadah konsolidasi gagasan sekaligus memperkuat partisipasimasyarakat dalam mengawal arah pembangunan nasional — bukti bahwa argumentasi yang sehat bisa menjadi kekuatan baruperubahan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?