Banner Iklan

Alih-alih Turun ke Jalan, Mahasiswa Semarang Pilih Bedah Reformasi Jilid II Secara Terbuka

Anis Hidayatie
21 Juni 2026 | 08.23 WIB Last Updated 2026-06-21T01:23:58Z

 

Mahasiswa Semarang Merubah Aksi Turun ke Jalan dengan Diskusi Membedah Reformasi Jilid 2

SEMARANG | JATIMSATUNEWS: Di tengah riuhnya wacana Reformasi Jilid II yang belakangansanter disuarakan publik, forum diskusi terbuka di Semarang menghadirkan kabar baikperubahan bangsa ternyata bisadiperjuangkan lewat dialog yang sehatbukan semata aksijalanan.

Forum bertajuk “Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II” yang digelar di Hans Kopi Veteran, Semarang, dan diselenggarakanRMOLJateng ini menghadirkan mahasiswaakademisiaktivishingga budayawan sebagai ruang dialog terbuka untukmembahas kondisi kebangsaanperan masyarakat sipilsertaevaluasi kebijakan pemerintah. Forum ini menghadirkanWaketum Luar Negeri LMND Evantio YudhistiraPresidenBEM Polines Kevin Kurnia Priambodo, akademisi sekaligusPengamat Politik Undip Nur Hidayat Sardini, serta budayawanBeno Siang Pamungkas, dengan moderator Edhi Prayitno Ige.

Evantio Yudhistira optimistis forum semacam ini justru menjadikebutuhan bangsa hari iniDiskusi seperti ini memangdibutuhkan oleh bangsa kita saat iniDiskusi yang ilmiahpenuh dialektikamenjadi kebutuhan bersama. Apa yang kitalakukan untuk bangsa saat ini membutuhkan persatuannasional, dan salah satu bentuknya adalah ruang diskusi sepertiini,” ujar Evantio, Sabtu (20/6/2026).

Ia mengajak masyarakat melihat persoalan bangsa secara jernih“Kita harus melihat situasi secara objektifjangan sampaitermakan algoritma atau emosi yang terus menampilkankeburukan. Kita harus melihat secara menyeluruh apa yang dilakukan negara saat ini,” tambahnya.

Evantio juga menekankan pentingnya persatuan seluruh elemenbangsamulai dari mahasiswapetanihingga nelayandalammengawal program pemerintah agar berpihak kepada rakyat, sekaligus memperkuat implementasi Pasal 33 UUD 1945. “Selama ini kekayaan alam kita terlalu lama dieksploitasi oleh kepentingan imperialis dan oligarki. Momentum ini harusmenjadi titik balik agar sumber daya bangsa bisa dinikmatiuntuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnyaBaginyagerakan yang berjalan sendiri-sendiri tidak akanefektif; yang dibutuhkan adalah ruang dialog terbuka yang menyatukan gagasan berbagai kelompok masyarakat.

Optimisme serupa datang dari Nur Hidayat Sardini, yang menyambut baik semakin terbukanya ruang diskusi kritis di Semarang. “Di Semarang masih sangat sedikit forum yang secara serius membedah komitmen kita terhadap perbaikankehidupan bermasyarakatberbangsa, dan bernegara,” kata Nur Hidayat.

Soal program Koperasi Merah Putih, sikapnya konstruktifBukan soal mendukung atau menolaktetapi bagaimana tata kelola program itu diperbaiki. Harus jelas siapa sasaranpenerima manfaatbagaimana rekrutmen operatornyasertabagaimana distribusinya agar tepat sasaran,” jelasnyaIamenekankan pentingnya pelibatan institusi sosial seperti sekolahdan komunitas lokalserta efektivitas anggaran negara, termasukprogram penanganan stunting pada 1.000 hari pertamakehidupan anak.

Forum Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II ini diharapkanmenjadi wadah konsolidasi gagasan dan memperkuat partisipasimasyarakat dalam mengawal arah pembangunan nasional — bukti bahwa kemenangan bagi bangsa bisa dirintis dari mejadiskusi.



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Alih-alih Turun ke Jalan, Mahasiswa Semarang Pilih Bedah Reformasi Jilid II Secara Terbuka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now