Banner Iklan

Bagaimana Kondisi Ekonomi Sentra Keramik Dinoyo di Tengah Tekanan Pasar Modern?

Admin JSN
05 Juni 2026 | 18.52 WIB Last Updated 2026-06-05T11:52:19Z

 

Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2026 


ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM -

Lokasi Kampung Wisata Keramik Dinoyo

Kampung Wisata Keramik Dinoyo terletak di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Kawasan ini berada di Jalan MT. Haryono IX dan dikenal sebagai salah satu sentra industri kerajinan keramik terbesar di Kota Malang. Lokasinya yang berada di tengah kota menjadikan kawasan ini mudah diakses oleh wisatawan lokal maupun dari luar kota.

Menurut H. Syamsul Arifin, Ketua Pokdarwis Kampung Wisata Keramik Dinoyo, pengunjung kawasan ini didominasi oleh wisatawan lokal. "Kalau di sini itu lebih banyak pengunjung lokal. Satu sisi di sini itu sebagai sentra industri kerajinan keramik, di satu yang lain menjadi daya tarik wisata," katanya. Posisi ganda sebagai sentra industri sekaligus destinasi wisata seharusnya menjadi keunggulan strategis. Namun keunggulan itu baru optimal jika ditopang oleh pengelolaan kawasan yang rapi dan sistem informasi yang memudahkan pengunjung baru untuk mengenal dan mengakses kawasan ini.

Sejarah: Kisah Awal Industri Keramik Dinoyo 

Industri keramik Dinoyo bermula dari sentra gerabah di wilayah Betek pada tahun 1930-an. Syamsul menegaskan bahwa lahirnya sentra ini berakar pada ketersediaan bahan baku lokal. "Lahirnya sentra ini karena adanya potensi bahan baku. Jadi bahan baku ini banyak ditemukan di sekitar sini," katanya. Usaha ini sudah turun-temurun sejak tahun 1930-an dan dirintis sampai sekarang.

Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2026 


Pada 1953, LEPPIN (Lembaga Penyelenggara Perusahaan-Perusahaan Industri Departemen Perindustrian) mulai memfasilitasi perkembangan industri ini. Pada 1955, inovasi keramik porselen muncul dengan mengganti tanah liat menggunakan tanah putih dan kaolin, termasuk memproduksi keramik untuk peralatan makan. Pabrik keramik Dinoyo berdiri resmi pada 1957 dan sejak saat itu kawasan ini berkembang menjadi sentra industri yang dikenal luas (Ambarwati dkk., 2022). Kini keramik Dinoyo tercatat sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dalam dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kota Malang tahun 2018.

Industri ini tumbuh hampir satu abad atas kekuatan komunitas sendiri, bukan atas dorongan program pemerintah. Fakta itu seharusnya menjadi dasar untuk menilai seberapa serius dukungan yang diberikan saat ini. Komunitas yang mampu membangun industri selama puluhan tahun secara mandiri kini menghadapi tekanan struktural yang tidak bisa diselesaikan seorang diri, dan penetapan status OPK tanpa tindak lanjut yang terukur tidak mengubah kondisi ekonomi pengrajin sedikit pun.

Struktur Pasar Keramik Dinoyo 

Struktur pasar keramik Dinoyo terbagi ke dalam tiga segmen pembeli, yaitu pemesan, pembeli langsung, dan pengecer yang membeli untuk dijual kembali. Syamsul menyebut pengecer sebagai kelompok terbesar. Komposisi produksi di setiap unit usaha terbagi antara 70% untuk pesanan dan 30% untuk display. Artinya, sebagian besar pendapatan pengrajin bergantung pada jaringan distribusi, bukan pada kunjungan wisatawan secara langsung.

Maryanto dan Syahida (2019) mengonfirmasi bahwa strategi distribusi yang digunakan mencakup distribusi langsung, melalui pengecer, dan melayani pesanan dari berbagai wilayah domestik maupun mancanegara. Dari sisi produk, Syamsul menyebut bahwa orientasi saat ini mengarah ke keramik hias berupa souvenir, hiasan, dan aksesori. Pergeseran ini merupakan langkah yang tepat karena kategori produk hias memiliki nilai diferensiasi lebih tinggi dan tidak bersaing langsung di level harga dengan produk plastik massal. Namun pergeseran orientasi produk saja tidak cukup jika tidak diikuti oleh perluasan jangkauan pasar yang sepadan.

Fakta Lapangan yang Menjadi Tantangan Ekonomi Kampung Keramik Dinoyo

Rantai distribusi yang panjang membuat pengrajin rentan terhadap perubahan biaya produksi. Syamsul menggambarkan mekanismenya secara langsung. "Hal ini sangat memengaruhi biaya produksi karena rata-rata di sini kan diambil pembeli untuk dijual lagi. Misal BBM naik, jadi ikut naik juga biaya transportnya. Dan ini membuat harga jualnya naik sedikit." Dalam industri kerajinan dengan margin tipis, kenaikan harga sekecil apapun sudah cukup menggeser keputusan pembelian konsumen ke produk alternatif yang lebih murah.

Tekanan dari produk manufaktur juga diakui Syamsul, meski ia tetap optimis. "Usaha itu memang tidak bisa lepas dari persaingan. Tapi menurut saya pasti konsumen itu memiliki selera tersendiri untuk membeli suatu produk. Contohnya saja, kalau memilih alat makan kebanyakan orang memilih untuk menggunakan keramik sebagai piring sehari-hari." Keyakinan ini ada dasarnya. Keramik memiliki segmen konsumen yang setia karena alasan kualitas dan estetika. Namun keyakinan terhadap keunggulan produk perlu ditopang oleh sistem distribusi yang mampu menjangkau konsumen tersebut, bukan hanya menunggu mereka datang ke kawasan.

Syamsul juga mengungkapkan harapannya ke depan. "Harapannya terjadi regenerasi pada anak muda di sini agar bisa modernisasi dan mempromosikan potensi di sini. Dan selanjutnya itu perlunya penataan ulang kawasan supaya lebih menarik dan lebih rapi." Regenerasi dan penataan kawasan adalah dua kebutuhan yang sudah lama diidentifikasi dalam berbagai kajian tentang Dinoyo. Fakta bahwa keduanya masih diucapkan sebagai harapan menunjukkan bahwa belum ada langkah konkret yang cukup untuk menjawab keduanya.

Bagaimana Langkah Memajukan Kampung Keramik Donoyo?

Maryanto dan Syahida (2019) mencatat bahwa Kampung Wisata Keramik Dinoyo pernah menjalankan online marketing melalui website, menyelenggarakan workshop brand product, serta aktif dalam event dan festival bersama Dinas Pariwisata Kota Malang. Namun ketika Syamsul ditanya pada 2024 tentang penjualan online, jawabannya menunjukkan kondisi yang berbeda. "Selama ini belum ada website atau e-commerce untuk berjualan secara online. Biasanya media sosial itu sebagai komunikasi."

Jarak antara kondisi yang digambarkan riset 2019 dan pengakuan pelaku pada 2024 mengindikasikan bahwa intervensi yang pernah dilakukan bersifat episodik. Program berjalan, pelatihan diberikan, event digelar, lalu selesai, tanpa mekanisme yang memastikan kapasitas itu bertahan setelah program berakhir. Pertumbuhan usaha kedai kopi dan restoran yang membutuhkan produk keramik estetis adalah peluang pasar nyata yang belum dimasuki secara terstruktur. Syamsul menyebut bahwa komunitas Dinoyo sudah membuka kelas pembuatan keramik yang bisa ditemukan melalui WhatsApp di Google Maps, sebuah inisiatif yang menarik namun masih berskala kecil dan belum menjadi bagian dari strategi kawasan yang terkoordinasi.

Pemerintah Kota Malang yang telah menetapkan keramik Dinoyo sebagai OPK perlu menerjemahkan status itu ke dalam program pemasaran digital yang berkelanjutan, bukan intervensi yang berhenti setelah anggaran habis. Pengrajin yang telah membangun industri ini hampir satu abad layak mendapat dukungan yang sepadan dengan ketahanan yang sudah mereka tunjukkan.

Sentra Keramik Dinoyo memiliki modal dasar yang kuat, mulai dari sejarahnya yang panjang, keterampilan yang teruji, bahan baku yang tersedia, dan produk yang memiliki segmen pasar tersendiri. Kondisi ekonominya saat ini bukan cerminan dari lemahnya produk, melainkan dari belum tersambungnya potensi itu ke sistem distribusi dan pemasaran yang memadai. Dukungan kebijakan yang spesifik, terukur, dan berkelanjutan adalah yang dibutuhkan agar sentra ini tidak terus berjalan di tempat di tengah modernisasi yang terus bergerak.

Daftar Pustaka

Ambarwati, A., Indah, D. R., & Zahro, A. (2022). Keramik Dinoyo dan kisahnya. CV. Beta Aksara.

Khotimah, H., & Anggaunitakiranantika. (2019). Bekerja dalam Rentangan Waktu: Geliat Perempuan pada Home Industri Keramik Dinoyo. Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development, 1(2), 106-116.

Maryanto, T., & Syahida, A. R. (2019). Strategi Komunikasi Pemasaran dalam Meningkatkan Hasil Penjualan di Kampung Keramik Dinoyo Kota Malang. Jurnal Komunikasi Nusantara, 1(1), 36-42. https://doi.org/10.33366/jkn.v1i1.8


Penulis : Galuh Pramesty Ramadhani


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bagaimana Kondisi Ekonomi Sentra Keramik Dinoyo di Tengah Tekanan Pasar Modern?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now