![]() |
| Beny Miftahul Arifin menulis opini bertajuk 112 Tahun Kota Malang: Bertumbuh atau Bertumpuk?/dok.IKA PMII Kota Malang |
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM:
112 Tahun Kota Malang: Bertumbuh atau Bertumpuk?
Beny Miftahul Arifin
Selamat ulang tahun ke-112 untuk Kota Malang. Sebagai salah satu kota penting di Jawa Timur, Malang telah mengalami perjalanan panjang dalam sejarah, pendidikan, ekonomi, dan pembangunan. Di usianya yang telah melampaui satu abad, tentu harapan terbesar adalah agar Kota Malang terus memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakat dan peradaban Indonesia.
Namun, peringatan hari jadi sebuah kota juga seharusnya menjadi momentum refleksi. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya sejauh mana Malang telah berkembang, melainkan juga bagaimana arah perkembangan tersebut dijalankan.
Dalam kehidupan, segala sesuatu memiliki batas. Usia manusia memiliki batas, sumber daya alam memiliki batas, bahkan pergantian siang dan malam berlangsung dalam keteraturan yang menunjukkan adanya ukuran dan keseimbangan. Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak berjalan tanpa batas. Segala sesuatu memiliki ukuran yang harus dijaga agar keseimbangan tetap terpelihara.
Prinsip yang sama juga berlaku bagi sebuah kota.
Kota bukanlah ruang yang dapat menampung pertumbuhan tanpa akhir. Kota memiliki batas ekologis, batas sosial, dan batas infrastruktur. Ruang terbuka hijau memiliki luas yang terbatas. Jalan memiliki kapasitas yang terbatas. Layanan kesehatan, pendidikan, air bersih, dan berbagai fasilitas publik juga memiliki kemampuan yang terbatas dalam melayani pertumbuhan penduduk.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah apakah Kota Malang harus tumbuh. Sebagai kota pendidikan dan pusat aktivitas ekonomi, pertumbuhan merupakan sesuatu yang wajar. Pertanyaan yang lebih penting adalah sampai sejauh mana pertumbuhan tersebut masih dapat ditanggung oleh kota?
Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat memang menunjukkan bahwa Malang masih memiliki daya tarik yang kuat. Ribuan mahasiswa datang setiap tahun. Aktivitas ekonomi terus berkembang. Kawasan hunian baru bermunculan di berbagai wilayah. Namun, pertumbuhan yang tidak diimbangi dengan pengendalian yang baik berpotensi melahirkan persoalan baru.
Kemacetan yang semakin sering terjadi, berkurangnya ruang terbuka hijau, alih fungsi lahan produktif, serta meningkatnya tekanan terhadap fasilitas publik merupakan beberapa tanda yang perlu mendapat perhatian serius. Gejala-gejala tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kota tidak dapat hanya diukur dari bertambahnya bangunan, jumlah penduduk, atau aktivitas ekonomi semata.
Sebuah kota dapat terlihat berkembang secara fisik, tetapi pada saat yang sama mengalami penurunan kualitas hidup. Kota dapat bertambah besar, tetapi belum tentu menjadi lebih baik. Dalam kondisi seperti itu, pertumbuhan berisiko berubah menjadi penumpukan.
Penumpukan terjadi ketika jumlah penduduk, bangunan, dan aktivitas ekonomi bertambah lebih cepat daripada kemampuan kota dalam mengelolanya. Akibatnya, ruang hidup menjadi semakin sempit, kualitas lingkungan menurun, dan pelayanan publik mengalami tekanan yang semakin besar.
Karena itu, memasuki usia ke-112 tahun, Kota Malang perlu mulai bertanya kepada dirinya sendiri, apakah kota ini sedang bertumbuh atau sekadar bertumpuk?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menolak pembangunan, melainkan untuk memastikan bahwa pembangunan tetap berjalan dalam batas-batas yang dapat ditanggung oleh lingkungan, infrastruktur, dan masyarakat. Sebab pembangunan yang melampaui daya dukung pada akhirnya tidak akan menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Di usia yang ke-112 tahun ini, tantangan terbesar Kota Malang mungkin bukan bagaimana tumbuh lebih cepat, melainkan bagaimana tumbuh dengan lebih bijaksana. Sebab kota yang baik bukanlah kota yang terus bertambah padat, melainkan kota yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, lingkungan, dan kualitas hidup warganya. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?