![]() |
| Pramudika Wicaksana, identitas yang digunakan pelaku penipuan berkedok Shopee yang menjerat korban dari Sampang, Haniyah./dok.istimewa |
SAMPANG | JATIMSATUNEWS.COM - Kasus dugaan penipuan digital menimpa warga Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.
Seorang wanita bernama Haniyah, warga Dusun Tobadas Laok, Desa Ketapang Timur, Kecamatan Ketapang, mengaku menjadi korban penipuan berkedok pengembalian dana Shopee hingga mengalami kerugian mencapai Rp 8.292.000.
Dalam keterangannya kepada awak media, korban mengaku awalnya dihubungi oleh seseorang yang mengatasnamakan pihak Shopee dan menawarkan bantuan proses pengembalian dana transaksi.
Pelaku kemudian mengarahkan korban untuk melakukan sejumlah tahapan dengan dalih proses pendataan dan verifikasi akun.
"Awalnya saya disuruh isi saldo ke ShopeePay untuk proses pendataan. Setelah itu uang diminta dikirim ke e-wallet Pintu," beber Haniyah.
Tidak berhenti di situ, setelah saldo ATM korban mulai habis, pelaku kembali mengarahkan korban untuk mengunduh beberapa aplikasi pinjaman online seperti AdaKami, Kredivo, dan Akulaku.
Korban dijanjikan bahwa seluruh dana yang digunakan hanya bersifat sementara dan akan dikembalikan.
"Saya sempat tanya apakah ini akan tercatat sebagai pinjaman, tapi pelaku bilang nanti semuanya akan kembali dan aman. Namun sampai sekarang uangnya tidak kembali," sambungnya.
Korban menyebut total uang yang diduga telah diterima pelaku mencapai Rp 8.292.000.
Pada perkembangan kasus tersebut, korban juga memperoleh identitas yang diduga digunakan oleh pelaku untuk meyakinkan korban.
Pelaku diduga menggunakan foto kartu identitas kerja bertuliskan nama 'Pramudika Wicaksana' dengan atribut menyerupai pegawai Shopee.
Selain itu, terdapat pula tangkapan layar profil media sosial LinkedIn atas nama yang sama yang mencantumkan profesi di bidang digital marketing dan data analyst.
Walau demikian, hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah identitas tersebut benar milik pelaku atau hanya dicatut untuk menjalankan aksi penipuan. Awak media masih berupaya melakukan penelusuran lebih lanjut terkait keaslian identitas yang digunakan.
Usai kejadian, korban mendatangi tempat layanan Shopee terdekat di Jalan Raya Masiang, Desa Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang, guna meminta penjelasan dan bantuan atas peristiwa yang dialaminya.
Namun menurut pengakuan korban, pihak layanan Shopee belum dapat memberikan solusi terkait dana yang hilang.
"Saya sudah datang ke tempat Shopee terdekat, tetapi belum ada solusi," ungkap Haniyah lagi.
Kasus ini menambah daftar panjang modus penipuan digital yang mengatasnamakan marketplace maupun layanan keuangan online.
Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati terhadap pihak yang meminta transfer dana, data pribadi, kode OTP, maupun pengajuan pinjaman online dengan alasan verifikasi atau pengembalian dana.
Pihak korban dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk melaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian agar dapat ditindaklanjuti secara hukum.
Menurut rilis OJK pada Desember 2025, terdapat kasus penipuan mengatasnamakan platform belanja daring (online shop) yang menempati posisi tertinggi dalam modus penipuan digital di Indonesia, dengan total 64.933 laporan dan kerugian finansial yang mencapai Rp 1,14 triliun.
Angka ini mendominasi laporan di berbagai platform pengaduan kejahatan siber nasional menurut OJK tahun lalu.
Kemudian hingga awal 2026, Indonesia Anti Scam Center (IASC) mencatat sekitar 432.637 kasus, dengan lonjakan rata-rata sekitar 1.000 laporan penipuan digital masuk setiap harinya.
Penipuan berkedok toko online adalah yang terbanyak dilaporkan. Angka tersebut berada di atas jenis penipuan lain seperti penipuan berkedok undian/hadiah dan pinjaman ilegal.
Dari ratusan ribu laporan digital secara keseluruhan, sebanyak 756.006 rekening perbankan diidentifikasi terlibat penipuan, dan 415.385 di antaranya telah diblokir.
Kini, kasus penipuan kembali terjadi dan menimpa warga Sampang, Haniyah. Ia pun berpotensi membawa kasus ini ke kepolisian guna ditindaklanjuti secara hukum. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?