Banner Iklan

Sentuhan Ihsan di Masjid Raden Patah: Universitas Brawijaya dan Juleha Jatim Ubah Paradigma Manajemen Kurban Menjadi Lebih Holistik

Admin JSN
23 Mei 2026 | 12.55 WIB Last Updated 2026-05-23T05:57:04Z

 

Dokumentasi Pemaparan Teori Juleha

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha 1447 H, Universitas Brawijaya (UB) melakukan langkah progresif dengan menggelar "Workshop Manajemen Penanganan Ternak Kurban Holistik" Angkatan Pertama. Bertempat di Ruang Utama Masjid Raden Patah UB, kegiatan strategis ini lahir dari kolaborasi nyata antara Takmir Masjid, Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan, serta Fakultas Kedokteran Hewan UB. Melalui pendekatan ilmiah dan spiritual, lokakarya ini dirancang untuk mengedukasi masyarakat dari hulu ke hilir berdasarkan lima pilar utama, yaitu Syar'iyah, Profesional, Technological, Sustainable (Berkelanjutan), dan Speaking Environmentally (Ramah Lingkungan). Untuk membedah pilar profesionalisme dan syariat tersebut, UB menggandeng Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Juru Sembelih Halal (Juleha) Jawa Timur sebagai mentor utama.

Ketua DPW Juleha Jawa Timur, Imam Fauzi, S.Th.I., yang hadir langsung bersama tim ahlinya, menegaskan bahwa standarisasi kompetensi bagi para juru sembelih adalah hal yang mendesak. Menurutnya, proses penyembelihan bukan sekadar aktivitas memotong leher hewan, melainkan sebuah ritual ibadah yang wajib mengintegrasikan prinsip syariat Islam dengan konsep ihsan, atau memperlakukan hewan dengan penuh kebaikan dan kasih sayang. Standardisasi ini menjadi kunci utama untuk menghasilkan daging kurban yang memenuhi kriteria Halal, Aman, Sehat, dan Utuh (ASUH), sekaligus memastikan hewan kurban bebas dari stres maupun siksaan sebelum dan selama prosesi berlangsung.

Dokumentasi Praktik Penyembelihan

Edukasi mendalam dimulai dari persiapan pisau utama para jagal, di mana Tim Juleha Jatim membedah ilmu metalurgi dan teknik pengasahan pisau. Peserta diajarkan memahami karakteristik logam dan metode pengasahan yang tepat menggunakan batu asah khusus hingga tahap pemolesan akhir. Prinsipnya mutlak, pisau yang digunakan harus memiliki tingkat ketajaman ekstrem setingkat mampu mencukur bulu dan kertas secara sekali sayatan. Ketajaman sempurna ini krusial agar proses penyembelihan dapat diselesaikan dalam satu kali sayatan cepat, sehingga meminimalkan rasa sakit dan memberikan kematian yang instan tanpa menyiksa hewan.

Selanjutnya, penanganan beralih pada teknik perebahan hewan yang humanis. Tim Juleha mendemonstrasikan metode perebahan, salah satunya menggunakan teknik simpul tali, yang memungkinkan sapi berbobot ratusan kilogram dapat direbahkan dengan lembut tanpa kekerasan fisik. Langkah ini sangat penting untuk menjaga psikologis hewan agar tidak panik, karena stres menjelang penyembelihan terbukti secara ilmiah dapat menurunkan kualitas daging kurban.

Pada fase inti, Imam Fauzi memandu langsung tata cara penyembelihan yang sesuai dengan koridor fikih dan teknis klinis. Juru sembelih wajib memastikan satu gerakan sayatan cepat tanpa mengangkat pisau mampu memutus tiga saluran vital sekaligus, yakni saluran pernapasan, saluran makanan, dan dua urat nadi utama. Setelah penyembelihan selesai, petugas juga dilatih untuk bersabar menunggu dan memastikan hewan telah mati dengan sempurna—ditandai dengan berhentinya pancaran darah dan hilangnya refleks kornea mata—sebelum melangkah ke proses berikutnya.

Sebagai tahapan penutup yang tidak kalah krusial, tim instruktur memperagakan teknik pengulitan kulit atau yang bersih dan efisien. Proses pengulitan dimulai secara sistematis dari bagian kaki menuju area dada hingga seluruh tubuh menggunakan pisau seset khusus. Peserta dibekali keterampilan mengatur sudut kemiringan pisau agar kulit terkelupas mulus tanpa merusak lapisan daging di bawahnya. Teknik ini tidak hanya menjaga estetika dan nilai ekonomis kulit, tetapi yang terpenting adalah mencegah terjadinya kontaminasi silang antara kotoran pada kulit luar dengan daging kurban yang akan didistribusikan kepada masyarakat.

Melalui sinergi akademis dan praktisi ini, Universitas Brawijaya bersama DPW Juleha Jawa Timur berharap momentum Idul Adha di Malang Raya dapat naik kelas, menjadi pelopor ibadah kurban yang tidak hanya sah secara agama, tetapi juga unggul dalam standar kesehatan, profesionalisme, dan kesejahteraan hewan.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sentuhan Ihsan di Masjid Raden Patah: Universitas Brawijaya dan Juleha Jatim Ubah Paradigma Manajemen Kurban Menjadi Lebih Holistik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now