PASURUAN | JATIMSATUNEWS: Potensi agraris Kabupaten Pasuruan dinilai menjadi salah satu kekuatan besar daerah yang belum sepenuhnya tergarap maksimal. Sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan disebut memiliki kualitas unggulan tingkat nasional, namun masih menghadapi persoalan integrasi, branding produk, hingga perlindungan petani.
Hal itu mengemuka dalam program “Jawara Jagongan Wakil Rakyat” yang menghadirkan jajaran Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan, yakni Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan Agus Setia Wardana, Wakil Ketua Komisi 2 Agus Suyanto, serta anggota Komisi 2 Sugiarto.
Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Setia Wardana, menegaskan bahwa Pasuruan memiliki banyak komoditas unggulan yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
“Pasuruan ini luar biasa. Kita punya kentang Granola Kembang di Tosari dengan kualitas terbaik, bunga sedap malam di Rembang, krisan di Tutur, hingga Mangga Klonal dan Durian Kasmin di Lumbang,” ujarnya.
Tak hanya sektor pertanian, sektor peternakan Pasuruan juga disebut menjadi salah satu barometer nasional, terutama sebagai penghasil susu terbesar di Jawa Timur yang tersebar di wilayah Tutur, Grati, dan Puspo.
Meski demikian, Agus Setia Wardana menilai potensi besar tersebut masih berjalan secara konvensional dan belum memiliki sistem integrasi yang kuat dari pemerintah daerah, khususnya dalam hal distribusi, branding, dan pengemasan produk.
“Banyak hasil bumi Pasuruan justru dikenal atas nama daerah lain karena proses repackaging sebelum masuk pasar besar. Padahal produksinya berasal dari Pasuruan,” katanya.
Menurutnya, keberadaan Sub Terminal Agribisnis (STA) menjadi kebutuhan penting untuk melindungi identitas dan branding produk lokal agar memiliki nilai tambah lebih tinggi di pasaran.
Sementara itu, anggota Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan, Sugiarto, menyoroti lemahnya identitas kawasan sentra produksi di Kabupaten Pasuruan. Ia menilai belum ada penanda atau welcome gate tematik yang mampu memperkuat karakter daerah penghasil komoditas unggulan.
“Kalau kita mau jujur, orang datang ke sentra pertanian belum langsung tahu identitas wilayahnya. Pemerintah daerah harus hadir melalui intervensi yang nyata,” tegasnya.
Ia mengusulkan pembangunan welcome gate khusus dan galeri produk terpusat di wilayah-wilayah penghasil komoditas unggulan seperti kentang, durian, maupun bunga.
Selain itu, Sugiarto juga menyoroti ancaman jangka panjang terhadap sektor pertanian akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan yang dinilai merusak kualitas tanah dan mengurangi produktivitas lahan.
Untuk melindungi petani dari ancaman gagal panen, ia mendorong pemerintah daerah agar berani mengalokasikan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebagai skema Asuransi Pertanian.
“Ketika petani gagal panen, mereka tetap punya perlindungan dan tidak langsung kolaps karena beban pinjaman,” ujarnya.
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto, mencontohkan keberhasilan branding “Mangga Alpukat” sebagai bukti bahwa inovasi pemasaran mampu meningkatkan nilai jual produk lokal secara signifikan.
“Dulu mangga biasa, tapi setelah ada branding dan inovasi cara konsumsi, harganya bisa sangat tinggi dan dikenal luas,” katanya.
Menurut Agus Suyanto, keberhasilan serupa juga mulai terlihat pada kopi Robusta Bromo dan kopi Arabika lereng Arjuno yang kini mulai menembus pasar internasional.
Ia pun menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dan pelaku digital dalam memasarkan produk unggulan Pasuruan melalui media sosial dan platform digital.
“Anak-anak muda harus dilibatkan untuk membantu promosi produk lokal supaya pasar tradisional dan UMKM tetap hidup,” tambahnya.
Menutup diskusi, jajaran Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan menyampaikan optimisme terhadap masa depan sektor agraris Pasuruan. Mereka berharap integrasi lintas sektor melalui reformasi birokrasi dan program strategis nasional dapat memperkuat kesejahteraan petani, peternak, dan pelaku usaha agraris di Kabupaten Pasuruan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?