![]() |
| Ilustrator Sumber Foto : https://pin.it/ |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM :
Pendahuluan
Perkembangan teknologi komunikasi di era globalisasi telah membawa
perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kemajuan internet, media
sosial, serta berbagai platform digital membuat proses komunikasi menjadi
semakin cepat dan tidak lagi terbatas oleh jarak maupun waktu. Kondisi ini
menyebabkan perubahan cara masyarakat dalam berinteraksi, baik secara individu
maupun dalam lingkup yang lebih luas.
Transformasi
tersebut tidak hanya berdampak pada aspek teknis komunikasi, tetapi juga
memengaruhi cara berpikir dan perilaku masyarakat. Saat ini, masyarakat tidak
hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pihak yang ikut
memproduksi dan menyebarkan informasi. Hal ini membuat arus informasi menjadi
sangat deras dan sulit dikendalikan. Di satu sisi, hal ini membuka peluang
besar dalam memperluas wawasan dan akses informasi, namun di sisi lain juga
memunculkan berbagai permasalahan baru.
Pane dan Lase
(2024) menjelaskan bahwa globalisasi mendorong terbentuknya komunikasi
multikultural, di mana individu dari berbagai latar belakang budaya dapat
berinteraksi secara langsung. Sementara itu, Ikhsano et al. (2023) menunjukkan
bahwa perkembangan media digital juga berdampak pada meningkatnya penyebaran
informasi yang tidak benar, khususnya melalui media sosial. Selain itu, dalam
lingkungan organisasi, komunikasi memiliki peran penting dalam menyampaikan
perubahan serta menjaga keselarasan antaranggota (Gusmarani & Rajiyem,
2022).
Dengan berbagai
perubahan tersebut, penting untuk memahami bagaimana sistem komunikasi di
Indonesia berkembang di era globalisasi, termasuk tantangan yang dihadapi serta
harapan yang dapat dicapai ke depan.
Pembahasan
1. Perkembangan Sistem Komunikasi di Era Globalisasi
Perkembangan
sistem komunikasi di Indonesia menunjukkan perubahan yang cukup signifikan
seiring dengan kemajuan teknologi digital. Komunikasi yang sebelumnya dilakukan
secara langsung atau melalui media konvensional kini telah bergeser ke arah
digital. Media sosial dan aplikasi pesan instan menjadi sarana utama dalam
menyampaikan dan menerima informasi.
Globalisasi juga
memperluas ruang interaksi masyarakat. Komunikasi tidak lagi terbatas pada
lingkungan lokal, tetapi telah berkembang ke tingkat global. Pane dan Lase
(2024) menyatakan bahwa komunikasi multikultural menjadi salah satu ciri utama
komunikasi di era globalisasi. Interaksi antarbudaya ini memberikan manfaat
dalam memperluas wawasan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk memahami
perbedaan nilai dan norma.
Dalam
organisasi, perkembangan komunikasi juga terlihat dari pemanfaatan teknologi
dalam komunikasi internal. Gusmarani dan Rajiyem (2022) menegaskan bahwa
komunikasi yang efektif sangat dibutuhkan untuk menyampaikan informasi secara
jelas dan menghindari kesalahpahaman, terutama dalam situasi perubahan
organisasi.
2. Tantangan Sistem Komunikasi di Indonesia
Meskipun membawa
banyak kemudahan, sistem komunikasi di Indonesia juga menghadapi berbagai
tantangan. Salah satu masalah yang paling menonjol adalah maraknya penyebaran
hoaks melalui media digital.
Ikhsano et al.
(2023) menjelaskan bahwa tingginya penggunaan media sosial tidak diimbangi
dengan kemampuan masyarakat dalam memverifikasi informasi. Banyak individu yang
langsung mempercayai dan menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya
terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan informasi yang tidak akurat dapat menyebar
dengan sangat cepat.
Selain itu,
terdapat juga hambatan dalam proses komunikasi, seperti perbedaan pemahaman,
penggunaan bahasa yang tidak jelas, serta kurangnya umpan balik. Gusmarani dan
Rajiyem (2022) menyebutkan bahwa hambatanhambatan ini dapat menyebabkan distorsi
pesan dan mengurangi efektivitas komunikasi.
Tantangan
lainnya adalah perubahan pola komunikasi yang cenderung lebih singkat dan
instan. Interaksi melalui media digital seringkali mengurangi kedalaman
komunikasi interpersonal. Selain itu, pengaruh budaya asing juga dapat
memengaruhi cara berkomunikasi masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.
3. Peran Public Relations dalam Sistem Komunikasi
Public Relations
(PR) memiliki peran penting dalam menjaga kualitas komunikasi antara organisasi
dan masyarakat. PR bertugas menyampaikan informasi yang benar, membangun
kepercayaan, serta menjaga hubungan yang baik dengan publik.
Desri et al.
(2024) menjelaskan bahwa strategi PR yang tepat dapat membantu organisasi dalam
membangun citra positif. Dalam era digital, PR juga harus mampu merespons
informasi yang berkembang dengan cepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Selain itu,
komunikasi dua arah menjadi hal yang sangat penting dalam praktik PR. Hamidah
dan Wijaya (2025) menekankan bahwa komunikasi yang melibatkan interaksi antara
organisasi dan publik dapat meningkatkan pemahaman serta memperkuat hubungan
yang terjalin.
4. Strategi Komunikasi di Era Digital
Dalam menghadapi
tantangan komunikasi di era globalisasi, diperlukan strategi yang tepat agar
komunikasi dapat berjalan secara efektif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
adalah meningkatkan literasi digital masyarakat.
Ikhsano et al.
(2023) menyebutkan bahwa upaya pencegahan hoaks dapat dilakukan melalui
penyebaran informasi yang valid, penggunaan media resmi, serta edukasi kepada
masyarakat. Dengan adanya pemahaman yang baik, masyarakat dapat lebih selektif
dalam menerima informasi.
Selain itu,
strategi komunikasi juga perlu memperhatikan unsur penting seperti pesan,
media, serta audiens. Gusmarani dan Rajiyem (2022) menjelaskan bahwa
keberhasilan komunikasi sangat dipengaruhi oleh bagaimana pesan disusun dan
disampaikan.
5. Harapan Sistem Komunikasi Indonesia
Meskipun
menghadapi berbagai tantangan, sistem komunikasi di Indonesia memiliki peluang
besar untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Pemanfaatan teknologi yang
tepat dapat mendukung komunikasi yang lebih efektif dan terbuka.
Pane dan Lase
(2024) menyatakan bahwa komunikasi multikultural dapat menjadi sarana untuk
memperkuat hubungan sosial dalam masyarakat yang beragam. Dengan sikap saling
menghargai, perbedaan budaya dapat menjadi kekuatan, bukan hambatan.
Selain itu,
peningkatan literasi digital menjadi harapan penting agar masyarakat dapat
lebih kritis dalam menerima informasi. Dengan demikian, kualitas komunikasi di
Indonesia dapat terus meningkat dan mampu menghadapi tantangan globalisasi.
Kesimpulan
Globalisasi
telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap sistem komunikasi di Indonesia.
Kemajuan teknologi digital, seperti internet dan media sosial, menjadikan
proses komunikasi berlangsung lebih cepat, luas, dan mudah diakses oleh
masyarakat. Kondisi ini mempermudah penyebaran informasi serta memperluas
jangkauan interaksi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Namun,
perkembangan tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan yang tidak dapat
diabaikan. Penyebaran hoaks, rendahnya tingkat literasi digital, serta
kecenderungan komunikasi yang serba instan menjadi masalah yang cukup serius.
Jika tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat menurunkan kualitas informasi
dan menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Untuk menghadapi
tantangan tersebut, diperlukan upaya yang terencana melalui strategi komunikasi
yang tepat serta keterlibatan berbagai pihak, seperti pemerintah, Public
Relations, dan masyarakat. Penyampaian informasi yang jelas dan akurat,
pemanfaatan media yang sesuai, serta peningkatan literasi digital menjadi
langkah penting dalam menciptakan komunikasi yang efektif dan dapat dipercaya.
Di sisi lain,
globalisasi juga membawa peluang bagi perkembangan sistem komunikasi yang lebih
baik. Dengan penggunaan teknologi yang bijak dan sikap saling menghargai dalam
keberagaman budaya, komunikasi dapat berkembang menjadi lebih berkualitas. Ke
depannya, sistem komunikasi di Indonesia diharapkan mampu menjadi lebih
adaptif, kritis, dan siap menghadapi tantangan globalisasi secara positif.
Daftar Pustaka
Pane, O. O., & Lase, A. (2024). Komunikasi
multikulturalisme di era globalisasi. Retorika:
Jurnal Komunikasi, Sosial dan Ilmu Politik, 1(2), 131–137.
Ikhsano, A., Sutanto, D. F., & Stellarosa, Y. (2023). Communication
strategy of the Ministry of Communication and Information Technology in
preventing the spread of hoax on social media. Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, 8(1),
208–216.
Gusmarani, K., & Rajiyem. (2022). Strategi komunikasi internal dalam
perubahan organisasi di masa transisi tahun 2019–2020. Jurnal Manajemen Komunikasi, 6(2), 137–162.
Desri, S., et al. (2024). Analisis strategis Public Relations dalam
membangun branding. Jurnal Ekonomika45.
Hamidah, N., & Wijaya, A. S. (2025). Model komunikasi Grunig dan Hunt
pada humas dalam distribusi informasi. Jurnal
Cendekia Ilmiah.
Penulis : Axel Fabianto Prasetya, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?